
"Berikan tangan mu." Ucap Adriana.
Kiano pun memberikan tangannya dengan patuh. Set, Adriana memegang tangan itu kemudian menutup mata dan membaca mantra penyembuhan.
"Healing light."
Wush, cahaya berwarna hijau keluar dari tangan Kiano dan Adriana. Cahaya itu mengalir ke tubuh Kiano sedikit demi sedikit. Ajaib, seluruh lukanya menghilang tanpa bekas.
"Wah, kau memang pantas di sebut sebagai salah satu Dewi perang, Adriana." Ucap Rea.
"Benar, kekuatan mu sangat hebat dan kuat. Kau bisa menjadi cahaya kota Reala dengan itu." Ucap Rosean.
"Tapi, kekuatan yang terlalu besar juga bisa menarik perhatian musuh. Akan lebih baik kalau kita menyembunyikannya saja." Ucap Rian.
"Yang di katakan kakak benar. Nah, kalau begitu pemenangnya adalah Meira!" Ujar Adriana.
Set, Kiano memalingkan wajah menatap Meira yang masih memapahnya. Blush, pipi Kiano seketika memerah setelah melihat wajah adik Adriana itu.
Senyum nakal terlihat di wajah Adriana, sepertinya salah satu muridnya itu sudah merasakan apa yang namanya jatuh cinta kepada lawan jenis.
"Ekhem, karena Kiano sudah sembuh. Kita lanjutkan latihan sekarang dengan latihan berpedang. Semuanya ayo ambil pedang kalian masing- masing." Ucap Adriana.
Set, Meira menurunkan tangan Kiano dari pundaknya dan pergi ke arah Ryu Ice. Masih dengan pipi memerahnya, Kiano segera pergi melarikan diri ke arah semuanya berlatih.
"Meira, apa kau mau ikut berlatih bersama mereka?" Tawar Adriana.
"Dengan senang hati, oh ya, terima kasih untuk buku sihirnya kemarin."
"Tidak masalah."
Adriana menampilkan smirk, dia sepertinya merencanakan sesuatu. Semuanya tampak berusaha melakukan yang terbaik untuk mengayunkan pedang yang di siapkan Adriana.
"Adriana, kenapa kau terlihat sangat senang?" Tanya Rian.
"Aku baik- baik saja, oh ya, ngomong- ngomong kenapa kakak ke sini?"
"Tentu saja untuk mengunjungi adik kesayangan ku."
"Benarkah? Aku pikir untuk berpacaran dengan salah satu sahabat perempuan ku."
Blush, pipi Rian seketika menjadi sangat panas dan merah. Adriana terkekeh geli, sepertinya Rian datang memang karena ingin melakukan hal itu.
"Itu, itu tidak mungkin tahu!" Rian berusaha membela diri.
"Sepertinya selama aku pergi ada hal menarik yang terjadi." Batin Adriana.
Set, Meira menarik pedang yang tipis namun sangat tajam. Wush, pedang itu di ayunkan dengan sangat mudah dan nyaris tidak ada celah sedikit pun untuk menyerang.
Jeder, semua orang terkejut bukan main saat melihat hal itu. Kecuali Adriana, pasalnya sejak pertama kali mereka berdua berpapasan.
Adriana dapat melihat potensi tersembunyi dan banyak hal menakjubkan lain di dalam diri Meira. Hyuga menggigit jarinya tidak percaya kalau ada anak sehebat Meira.
"Bagaimana bisa? Bukankah seharusnya ini pertama kalinya dia mengayunkan dan memegang pedang?!" Batin Shamus.
__ADS_1
"Anak ini, dia lebih hebat dari yang aku duga." Batin Adriana.
"Wah, kau sangat hebat! Adriana, bukankah dia adikmu? Siapa namanya?" Tanya Rea.
"Benar, dia menakjubkan, awesome!" Ucap Rosean.
"Namanya adalah Meira Lulana." Jawab Adriana.
Beberapa orang masih tercengang dengan kehebatan berpedang Meira. Lantaran Meira terlihat sangat terlatih dan kuat. Kiano pun juga terpesona dengan kehebatan dan kecantikan Meira.
"Dia, sempurna. Cantik, baik, dia gadis yang sangat hebat." Batin Kiano.
"Anak- anak, waktu pelajaran sudah berakhir. Kita akan bertemu dua hari lagi, ok?" Tanya Adriana.
Teriakan Adriana membuat Kiano sadar dari lamunanya. Pipinya kemudian tambah memerah sampai Anahita menepuk punggungnya dan membuat Kiano berbalik.
"Kakak, kau kenapa?"
"Kakak mu sedang jatuh cinta, Anahita." Batin Ryu Ice yang menjadi paling peka di sana.
"Aku baik- baik saja, ah, kau tunggu di sini sebentar."
Kiano segera berlari ke arah Meira pergi dan membuat Anahita bingung. Maklum lah, anak kecil masih polos, jadi soal masalah orang dewasa tidak akan paham.
Kecuali kalau anak itu adalah Ryu Ice beda lagi ceritanya. Kiano mengejar Meira yang masuk ke hutan, di sisi lain, Adriana dan yang lainnya terlihat sangat senang.
"Aish, mereka udah pada jatuh cinta aja, nih." Ucap Rea.
"Menyebalkan!"
"Aduh!"
Buagh, Rea memukul kepala Shamus dengan amat kesal. Di sisi Kiano, entah kenapa Meira semakin cepat berjalan dari pada sebelumnya. Dari berjalan jadi lari, dari lari jadi UwU.
"Meira tunggu!" Teriak Kiano.
Meira menghentikan la langkahnya dan membalikan diri menatap Kiano dengan wajah kesalnya.
"Ck, kau ini kenapa, sih? Tidak ada kerjaan lain apa?" Tanya Meira.
"Ya, tentu saja aku punya kerjaan lain."
"Yaitu pekerjaan untuk mencintai mu." Lanjut Kiano dalam hati.
"Kalau kau memiliki pekerjaan, kenapa mengikuti ku? Dasar bodoh!"
"Aku, ingin mengatakan sesuatu kepadamu."
"?"
Pipi Kiano menjadi panas dan semakin memerah. Merasa ada yang aneh, Meira mundur ke belakang beberapa langkah. Sepertinya Meira sudah mulai ilfeel duluan.
"Kalau ingin mengatakan sesuatu katakan saja. Jangan membuat sikap yang buat orang ambigu begitu."
__ADS_1
"Apa kau ada waktu malam nanti?"
"Kau ini kenapa, sih? Kena tongkat air milik Poseidon atau kena panah cupid?"
"Mungkin, yang kedua?"
"...."
Meira menampilkan wajah datar tidak tahu harus menjawab apa. Kiano menggaruk kepala bagian belakangnya malu- malu. Uh, benar- benar imut dan membuat iri.
"Em, maaf, tapi sayangnya aku tidak terlalu suka pria menyebalkan seperti mu."
Deg, hati Kiano amat terpukul, ini kali pertama ia menyatakan cinta dan di tolak. Kiano kemudian menggenggam pundak Meira cukup kuat. Tahu lah laki- laki pasti nggak akan terima.
"Kenapa? Bagian diri mana yang menurut mu kurang pantas? Kau sebutkan saja dan akan aku ubah!"
Meira menghela napas berat dan menurunkan tangan Kiano dengan tatapan dan gerakan yang lembut. Kiano tercengang, tatapannya benar- benar sayu dan mengiris hati.
"Kau tidak perlu mengubah diri mu hanya karena cinta."
"Apa?"
"Dengarkan aku, cinta sejati adalah cinta di mana orang menyukai mu setulus hati. Tidak peduli bagaimana sikap atau tampang mu."
"Karena jika ada orang yang mencintai mu dengan adanya perubahan dalam diri mu. Maka, kebanyakan orang akan menyebutnya cinta bersyarat."
"Di dalam cinta, kau tidak bisa memberi syarat atau pun menyuruh orang melakukan seperti yang kau mau. Kau juga tidak akan bisa memintanya hidup lebih lama dari mu."
Kiano seketika bungkam mendengar ceramahan panjang lebar Meira yang bertema cinta. Perkataaan Meira memang benar dan tidak salah.
Tapi, apakah orang seperti itu ada di dunia ini?
"Lalu, apa yang harus aku lakukan?"
"Cintailah dia dengan cara mu sendiri. Karena itu menunjukan seberapa besar kau menyukainya."
Kiano tersenyum tipis namun terlihat sangat manis. Meira mengangguk dengan senyum ya g juga terukir di wajahnya. Ah, bebar- benar kata- kata yang sangat indah dan bermakna.
"Soal tawaran mu itu, mungkin aku akan memberi mu kesempatan untuk mencobanya. Tapi tidak malam ini, karena aku dan kakak ada urusan."
"Heh, baiklah, kalau begitu aku tunggu kabar kesiapan kesiapan mu."
"Benarkah? Btw, apa ini juga bisa di sebut kencan, Ice kream?"
"Mungkin, tunggu, Ice kream?"
"Benar, dingin namun memikat dan melelehkan hati."
Meira tersenyum lebar dan jahil ke arah Kiano. Sontak pipinya di hiasi warna merah merona yang sangat imut dan menggemaskan. Adik dan kakak sama- sama suka mengerjai anak orang.
BERSAMBUNG~
Guys, bikin baper nggak?🤣Karena Gw baru bucin alias, Ekhem, mabuk cinta🤣Bukan sama doi tapi. Jadi ngikut, deh, moodnya sampe ke jalan cerita🤣Tetap setia di ceritaku, ya🤣
__ADS_1