
"Ekhem, Ryu Ice, kenapa mereka semua berlari?" Tanya Adriana.
"Memamisan atu ang euang ala ala ungu akak(Menghabiskan waktu yang terbuang gara-gara menunggu kakak)."
"Benarkah? Memangnya berapa lama aku terlambat? Dan siapa yang menyuruh mereka berlari?"
"Ang uuh Eka elai alah ak Awel, an akak elamat iga uuh eit(Yang nyuruh mereka berlari adalah kak Caldwel, dan kakak terlambat tiga puluh menit)."
"Oh, ya? Maaf, kalau begitu. Tapi, dimana Caldwel?"
"Iut Ali(Ikut lari)."
"Kalau begitu aku juga ikut lari saja, kau di sini baik- baik dan jangan pergi, ya?"
Adriana pun mulai berlari bersama Meira, dan ketujuh muridnya. Hanya saja setelah berkeliling memutari, ya, nggak sampai memutari, sih. Tapi yang pasti setelah selesai berlari pun, Adriana tidak melihat Caldwel.
"Memangnya aku akan bisa pergi ke mana?" Batin Ryu Ice.
Di sisi Adriana yang sedang berlari dengan tujuan mencari Caldwel. Ia terus celingukan dan berlari dengan cepat, secepat orang balapan sepeda.
"Di mana sih, si dispenser itu?" Batin Adriana.
Huft, ketujuh muridnya itu beristirahat setelah 7 kali putaran. Sementara Adriana sudah berlari sekitar 35 kali putaran tanpa berhenti. Apa ini perbedaan penyihir elite dengan penyihir pemula?
Adriana pun berhenti berlari di putaran yang ke- 42. Ia melirik ke kanan dan ke kiri mencari Caldwel. Karena jika Caldwel datang pasti Hyuga juga akan mengekor padanya.
"Hei anak- anak, lihat seorang kakak berambut krem yang menyuruh kalian berlari tidak?" Tanya Adriana.
"Oh, tadi kakak itu pergi bersama seorang laki- laki berambut biru masuk ke hutan." Jawab Anahita menunjuk ke dalam hutan.
"Begitu, ya? Terima kasih, Anahita. Oh ya, Ryu Ice, kau jaga mereka untuk ku sebentar, ya."
Adriana pun berlari masuk ke dalam hutan. Para murid hanya menatap datar saja. Tapi, ada sesuatu yang mengganjal hati Kiano dan para murid lainnya.
"Bagiamana dia bisa mengingat nama kami yang hanya di sebut dua kali saja? Apa itu juga menggunakan sihir?" Batin Kiano.
"Tapi yang lebih penting adalah, kenapa seorang balita yang dipasrahi tanggung jawab?!" Batin semua murid.
Mereka menatap Ryu Ice penuh tanda tanya, sementara Meira hanya biasa- biasa saja. Ini Meira belum tahu soal identitas asli Ryu Ice, tapi ia sudah menebak kalau Ryu Ice pasti bukan bayi biasa.
__ADS_1
"Eapa aian eaap ku(Kenapa kalian menatap ku)?"
"Ya, tidak apa- apa, hanya penasaran saja." Jawab Hillary.
"Ati ati, aca enacaan Ica emunu mu lo(Hati- hati, rasa penasaran bisa membunuh mu, lo)."
Semuanya terkejut bukan main, bagaiamana seorang bayi balita yang umurnya hanya sekitar 2 tahun dapat memberikan sebuah nasihat seperti itu?
"Kau, bagaimana bisa-"
"Hai, kalian, maaf aku telat, tadi harus mengurus beberapa masalah terlebih dahulu." Adriana memotong perkataan Stella.
Sorot mata pun tertuju pada Adriana yang sedang mengangkat tangannya ke atas. Adriana memiringkan kepala bingung, di belakangnya ada Hyuga dan Caldwel yang kepalanya membentuk candi karena di pukul Adriana.
"Eh, ada apa? Kenapa kalian menatap ku seperti itu? Ah, benar, aku kan guru kalian. Jadi, kita akan mulai dari yang mudah dulu."
Wush, angin di bukit itu bertiup dan menerbangkan jubah penyihir dan kesatria ke banggaannya. Itu benar- benar menambah kesan elegan dan keren.
"Baiklah, kita akan mulai dengan sihir tingkat pemula." Ucap Adriana.
"Baiklah, kak Adriana." Ujar Sakura.
"Bagus, eh, Lixue, Kiano, kenapa kau diam dari tadi?"
"Alasan ku sama seperti, Lixue." Ujar Kiano sambil menunjuk Lixue.
"......"
Adriana menatap datar, ia kemudian membuka sebuah buku. Sepertinya itu adalah sebuah buku sihir yang memiliki mantra yang sangat kuat. Buku itu memiliki warna putih.
Di atasnya di lukisi gambar es berwarna biru laut dengan sedikit warna putih salju. Semua anak melirik ke arah Adriana. Apa yang Adriana cari dan ajarkan?
"Baiklah anak- anak, kita akan mulai pelajarannya. Kalian semua berdiri dan menghadap ke arahku." Ucap Adriana.
Semua murid melakukan apa yang di perintahkan Adriana. Seperti latihan militer saja, tapi anehnya, para murid malah lebih serius dari pada gurunya.
"Anak- anak ini kerasukan apaan, dah?" Batin Adriana.
Adriana berdekhem, ia menatap ke arah para murid. Para murid. memasang wajah polos di selingi serius yang nampak aneh. Adriana tersenyum sambil menghela napas.
__ADS_1
"Apa kalian bisa menunjukan jurus terhebat kalian? Aku akan menilai kekuatan kalian Dar situ." Ujar Adriana.
Para murid mengangguk paham, orang pertama yang akan menunjukan kekuatan nya adalah Stella. Kalau jurus andalan, pasti kebanyakan orang akan menggunakan jurus terhebat keluarga mereka masing- masing.
"Diamond kristalion!"
Diamond kristalion, sihir es terkuat di keluarga Iza. Kekuatan itu mirip seperti bom, membuat sebuah kristal besar dan mengarahkannya ke tempat yang mereka inginkan.
Setelah itu, es itu meledak bagaikan bom. Hanya saja bedanya, kalau diamon kristalion akan membuat tempat itu seperti Padang penuh hamparan salju putih. Seluruh pohon dan semak-semak pun ikut membeku.
"Lumayan, tapi setiap jurus ada kelemahan. Jurus Diamond kristalion ini membutuhkan waktu beberapa menit untuk membuat bentuk kristal,"
"Dan saat itu, musuh bisa memanfaatkan waktu untuk menyerang mu. Benar bukan?" Lanjut Adriana.
"Iya, benar guru." Jawab Stella.
"Saran dariku hanya tambah di percepat dan jangan lengah. Berikutnya adalah Hillary."
Hillary maju ke depan dengan penuh rasa percaya diri. Ia yakin kalau dalam jurusnya itu tidak memiliki kelemahan sama sekali, dan pemikiran Hillary salah total.
"Lightning misery!"
Hillary mengangkat tangannya beberapa saat. Jeder, petir dari langit menyambar dan membuat kerusakan yang cukup parah. Adriana melirik ke arah kebakaran hutan itu.
"Blessing rain!"
Hujan pun turun dengan deras dan hanya di daerah itu saja. Adriana memanglah penyihir yang sangat hebat dan terkenal. Dia juga bisa memanipulasi cuaca dan bisa mempengaruhi orang hanya dengan kata- kata.
Lightning misery adalah jurus andalan di keluarga Hillary. Kekuatan petir itu memang sangat hebat dan kuat. Walau begitu pun, Adriana masih bisa melihat kelemahan jurus itu.
Karena semua jurus, pasti memiliki kelemahan. Sama seperti aku yang kurang sempurna dan di lengkapi oleh diri mu yang juga kurang sempurna. Ekhem, lupain aja yang tadi.
"Jurus mu memang hebat, tapi itu terlalu memakan banyak energi dalam penggunaannya." Ucap Adriana mencatat di favorite personal book.
Hillary tersentak, baru pertama kali ada orang yang mengetahui kelemahan jurusnya dan masih biasa- biasa saja setelah melihat kekuatan yang begitu besar.
"Ba, bagaimana dia bisa tahu? Dia juga masih biasa saja setelah melihat hal menakjubkan seperti itu? Sekuat apa, sih, dia? Padahal juga hanya beda 1 tahun saja." Batin Hillary.
"Baiklah, berikutnya adalah Anahita. Ayo tunjukan kekuatan mu." Ucap Adriana.
__ADS_1
"Huh, dia malah mencampakan ku? Padahal aku adalah murid terbaik di dunia. Tapi dia menganggap ku biasa- biasa saja?!" Batin Hillary.
BERSAMBUNG~