
"Ya, sudah, aku pergi dulu, kakak bucin!"
"Pergi saja sana dasar POBIA, polos- polos bi*dab!"
Adriana pun pergi dengan senyum kemenangan terlukis di wajahnya. Dia benar- benar sangat senang, sampai ada seseorang yang tidak sengaja ia lihat.
"Hei, Rea, kenapa kau sangat galak, sih? Serem tahu!"
"Eh, suara itu...?"
Adriana pergi ke arah suara, ia bersembunyi sambil sedikit mengeluarkan kepalanya. Ternyata yang ia lihat adalah Rea dan Shamus yang sedang berduaan di gang itu.
"Hm, kenapa mereka berduaan saja? Apakah ini gaya pacaran ala ShaRe?" Batin Adriana.
ShaRe itu maksudnya Shamus- Rea, bukan share yang artinya membagi atau apalah itu artinya. Ya, pas aja gitu tepat tulisan Share.
"Oh, ya? Aku semenyeramkan itu, kah?" Tanya Rea sambil memberi Shamus tatapan maut.
"Iya, sampai membuat ku takut. Takut kehilangan mu!" Ucap Shamus dengan senyum lebar.
"Menyebalkan!"
Buagh, Rea memukul kepala Shamus dengan cukup kencang. Bukan rintihan kesakitan yang terdengar, tapi tertawa kesenangan lah yang terdengar. Rea memalingkan wajah agar pipi merah meronanya itu tidak kelihatan.
"Hehe, ternyata kau orang yang cepat baper, ya."
"Di, diamlah dan pergi saja sana!"
"Ok, ok, aku akan pergi. Tapi saat aku pergi, kau harus menangis, ya?"
"......"
Shamus berjalan pergi sambil sesekali menengok ke belakang berharap ada respon positif dari Rea. Misalnya menghentikannya atau bilang 'jangan pergi' gitu.
Kecewa, Shamus pun menggembungkan pipinya dan malah beneran pergi keluar gang. Rea menunjukan smirk senang, set, ia menggenggam tangan Shamus cukup kuat.
"Hihi, beneran mau ninggalin aku? Nanti kalau kamu ninggalin aku, yang bakalan pergi ke taman lampion untuk first date siapa dong?"
Rea menunjukan senyum yang tidak pernah Shamus lihat. Senyuman Rea benar- benar terlihat sangat manis. Shamus memang lemah dengan senyum manis Rea.
Ia hanya bisa menggembungkan pipi dan memeluk Rea. Shamus menaruh wajahnya yang mulai memanas itu ke dekat leher Rea sambil sesekali mendengus sebal.
"Huh, menyebalkan, apa kau tidak tahu seberapa takutnya aku?"
Rea tersenyum dan mengelus kepala Shamus, "Hehe, maaf, tapi mengerjai mu itu sangat menyenangkan!"
"Aish, jika dulu ada 'musim ceri' maka di sini ada 'musim cinta' yang sangat UwU." Batin Adriana.
Adriana yang melihat kejadian mengharukan itu tersenyum senang. Ia kemudian menggandeng tangan Meira dan memilih untuk menggunakan portal tembus dimensinya.
Zhung, portal terbuka, set, tap, Adriana menapakan kakinya di depan sebuah gerbang istana yang sangat besar. Istana itu memiliki air mancur, taman bunga dan jalan setapak yang sangat luas.
__ADS_1
"Kakak, apa yang akan kita lakukan di sini?"
"Mulai hari ini, istana ini akan menjadi rumah baru kita."
"Begitu, apa ini juga bagian dari kesepakatan kakak dengan Raja dan Ratu Reala?"
"Aish, kau ternyata sangat peka."
Meira hanya tertawa kecil, mereka bertiga pun melangkah masuk ke istana megah itu. Istana memiliki warna yang sangat menawan.
Biru, puth, emas, dan warna- warna lainnya bercampur menjadi satu. Istana itu juga memiliki dua halaman, halaman depan dan belakang.
Di halaman belakang ada air mancur yang di tengahnya terdapat patung bunga mawar yang besar. Saat malam hari, bunga- bunga yang ada di taman akan bersinar seperti bintang di langit.
Istana itu juga memiliki balkon yang sangat tinggi. Balkon itu terdapat di bagian atas yang berbentuk seperti atap masjid. Saat atap berbentuk atap masjid itu terbuka.
Jutaan bintang yang sangat terang terlihat amat jelas. Semua itu di buat menggunakan sihir pembentuk tingkat tinggi yang hanya bisa di gunakan oleh penyihir ahli.
"Kakak, ini sangat hebat!" Ujar Meira.
"Apa kau mau melihat bagian belakang istana ini?"
"Ya!"
Istana itu tidak memiliki penjaga manusia, juga tidak ada pembantu manusia di dalamnya. Dengan kata lain, yang ada di dalam istana itu, semuanya bukanlah manusia.
Ada peri, elf, siluman, dan lainnya di sana. Tentu Adriana lah yang memanggil mereka ke sana. Saat sampai di belakang istana, betapa terkejutnya Meira apa yang ada di hadapannya.
Bagaimana tidak?
Di depan Meira sekarang, ada sebuah naga yang sangat besar. Naga itu memiliki warna biru muda dan putih yang sangat indah. Matanya berwarna kuning ke emasan.
Yah, maklum lah, Adriana kan fans fanatik warna biru. Jadi nggak lengkap kalo nggak ada warna biru. Elemen naga itu adalah air, naga itu juga adalah salah satu dari ke lima raja naga di dunia itu.
"Ke, kenapa ada naga di sini? Apa kau adalah naga yang di jinakan atau memiliki kontrak pemilik dengan kakak ku?"
"Maaf, nak, tapi aku adalah salah satu sahabat terbaik kakak mu." Ucap Naga itu.
"Begitu, siapa nama mu?"
Naga itu melirik ke arah Adriana yang masih berdiri dengan tangan di lipat di dadanya. Sadar maksud tatapan Naga itu, Adriana pun tersenyum kecil.
"Aku lupa aku belum memberi mu nama panggilan. Kalau begitu, nama mu adalah Reryu."
"Re, ryu...?"
"Ok, Reryu, ayo kita menunggangimu dan berkeliling kota!" Ujar Adriana.
"Tuan, apa tuan tidak merasa diri tuan terlalu ceroboh? Kalau kita berkeliling kota dengan wujud ku yang seperti ini. Maka kita akan menarik perhatian."
"Ah, benar, aku lupa. Kalau begitu, berubahlah menjadi seorang cewek cantik!"
__ADS_1
"Cewek cantik? Jadi kau cewek, ya? Aku pikir cowok." Ucap Meira.
Push, wush, tiba- tiba sebuah asap tercipta. Asap itu berwarna putih polos dan tebal. Adriana dan Meira menutup pandangan mereka menggunakan lengan mereka masing- masing.
Kalau Ryu Ice di teleportasi ke kamar karena saat itu waktunya tidur siang dan Ryu Ice juga udah mulai mengantuk.
Sinar yang sangat menyilaukan muncul dan menghalangi pandangan Meira dan Adriana. Saat Adriana dan Meira membuka matanya, betapa terkejutnya mereka.
Reryu benar- benar menjadi seorang wanita yang sangat cantik. Kulitnya semulus dan seputih salju, bagian depan rambutnya berwarna putih sementara bagian belakang berwarna biru.
Bajunya adalah baju mirip dengan baju Cina tapi agak sedikit berbeda. Reryu juga menggunakan celana berwarna putih serasi dengan warna bajunya yang juga putih walau ada tambahan warna biru muda sedikit.
"Wah, kau sangat cantik, kak Reryu!" Ujar Meira.
"Baiklah, kalau begitu ayo kita pergi jalan- jalan di kota Reala."
"Lalu Ryu Ice bagaimana?"
"Tenang saja, istana ini ada di atas bukit dan cukup tersembunyi. Selain itu aku juga memasang sihir pelindung."
"Kalau begitu, baguslah."
Adriana, Meira, dan Reryu pun pergi ke tengah kota Reala untuk berjalan- jalan. Dua hari lagi juga adalah festival lampion tahunan kota Reala yang akan di gelar sangat meriah.
Selain karena acara setahun sekali, festival lampion ini juga adalah perwujutan kemenangan kota Reala dari perang melawan Hyuga sebelumnya.
"Kakak, itu ada kak Caldwel!" Ujar Meira menunjuk ke arah Caldwel.
"Hm, hei Dispenser!"
Adriana memanggil Caldwel dengan suara agak lantang. Pemilik nama pun menoleh ke arah suara Adriana yang cukup kencang itu.
"Eh, bisakah kau tidak memanggil ku seperti itu?"
Adriana berjalan mendekat sambil tertawa geli dan mengusap bagian belakang kepalanya. Caldwel hanya tersenyum pasrah tidak bisa menolak tingkah imut Adriana itu.
"Hihi, maaf, ya, dispenser."
"Em, kalau kau memiliki waktu luang, bolehkah aku mengajak mu berkeliling taman lampion dua hari lagi?"
"Eh, em, bagaimana, ya?"
"Tidak masalah, kau juga tidak perlu memutuskan hal itu sekarang, kok."
"Hihi, aku rasa aku akan..."
BERSAMBUNG~
Guys, kira- kira Adriana bakal jawab iya apa nggak, nih😋. Btw, maaf, ya, kalau yang bucin- bucin di sini terkurangi oleh deskripsi istana megah milik Adriana🤧.
Astaga, jiwa misquen ku meronta- ronta😶😭🤧
__ADS_1