Magician Knight

Magician Knight
Pengendali


__ADS_3

"Kakak, sebelum kau pergi, aku ingin meminta sesuatu terlebih dahulu."


"Apa itu, Ryu Ice?"


"Sebenarnya, Hyuga sedang di kendalikan oleh seseorang. Aku yakin kakak sudah tahu akan hal itu bukan?"


"Ya, lalu, apa maksud mu aku harus membiarkannya tetap hidup begitu?"


"Benar, kakak mungkin tidak mengingatnya, kalau begitu aku akan membuat kakak mengingatnya lagi."


Ryu Ice mendekatkan wajahnya ke wajah Adriana. Ryu Ice kemudian menjitak jidat kakaknya itu, Shaquil mengelus- elus jidat yang baru saja di jitak Ryu Ice.


"Aw, kenapa kau menjitak-"


Sebelum Adriana menyelesaikan ucapannya itu, tiba- tiba memori- memori masa kecilnya itu muncul di kepalanya. Saat itu ia melihat, seorang anak, ia mirip sekali dengan Hyuga.


"Apa, apa ini?"


Isi memori Hyuga dan Adriana pun terus menerus bermunculan. Ryu Ice tersenyum senang, ia memutar tangannya dan banyak sekali memori yang muncul.


"Jadi, apa sebab itu Hyuga tidak menggunakan pedang Darknion Untuk membunuh ku?"


"Aku tidak tahu, tapi kemungkinan besar itu benar."


Flash back di mulai. Saat itu, Adriana sedang berada di luar rumah. Lebih tepatnya di kebun karena di suruh menanam, menyiram dan berbagai hal lainnya.


Air mata Adriana menetes, ia terus menerus mengingat berbagai penyiksaan demi penyiksaan yang di lakukan Leanna dan ibu tirinya itu.


"Hei, kenapa kau menangis?"


Suara seorang laki- laki yang berasal dari belakang Adriana. Adriana pun menoleh dan menatap anak laki- laki itu. Adriana mengedipkan amat sambil terus mengusap- usap pipi yang terbasahi air mata itu.


"Ini, gunakan sapu tanganku saja."


Anak laki- laki itu menyodorkan sapu tangannya. Dengan senang hati Adriana menerima sapu tangan itu. Anak laki- laki itu berjongkok dengan mata yang setia menatap Adriana.


"Si, siapa nama mu?" Tanya Adriana.


"Namaku Hyuga, siapa nama mu?"


"Namaku Adriana."


"Adriana? Baiklah, kalau begitu Adriana, ayo kita berteman dan jadi sahabat selamanya."


Sejak saat itu, Hyuga sering mengunjungi Adriana dan mereka menjadi teman dekat setelahnya. Tapi suatu ketika, Hyuga berhenti mengunjunginya entah kenapa. Flash back end.


"Karena kenangan indah itu, aku pasti akan menyelamatkan mu, Hyuga." Batin Adriana.


Caldwel yang terbaring lemah pun dapat melihat perubahan besar pada temannya 'Shaquil' itu. Ia tidak percaya kalau temannya itu sebenarnya adalah perempuan.

__ADS_1


"Hah, lega perasaan ku. Aku pikir aku akan menjadi gay. Kalau begini, setelah peperangan ini, aku akan langsung menyatakan cinta dan membuat mu menjadi milikku." Batin Caldwel.


Shaquil menggbungkan tangannya ke tengah, bola kekuatan pun muncul dan berubah menjadi sebuah pedang yang memiliki aura hangat. Pedang itu tidak memberikan aura negatif sama sekali, malah sebaliknya pedang itu memberikan energi positif yang membuat orang tenang.


Senjata itu di namai The sword of light, dengan kata lain pedang cahaya. Kekuatan pedang cahaya adalah menyadarkan orang- orang yang dikendalikan kekuatan jahat.


"The light of eternity!"


Adriana menghempaskan pedangnya, sayangnya Hyuga berhasil menghindari serangan Adriana itu. Hyuga akhirnya mengeluarkan pedang Darknion karena saat melawan Adriana sebelumnya Hyuga tidak menggunakannya sama sekali.


"The light of eternity!"


Sring, duar, Hyuga terkena serangan itu dan ledakan besar pun terjadi. Adriana menghela napas lega dan berpikir semu ini sudah berakhir. Tapi Hyuga masih dapat bangkit dan ia masih sadar.


"Hahahaha, kau pikir itu akan melukai ku? Itu tidak akan pernah terjadi!"


"Tidak, The sword of light di gunakan untuk menyadarkan orang seperti mu. Bukan untuk membunuh!" Ujar Adriana.


"Hah, kalau begitu, aku lah yang akan membunuh mu!" Teriak Hyuga.


Adriana berdecak sebal, ia kemudian menghilangkan the sword of light. Ia menyatukan lagi tangannya dan membuat sebuah senjata lagi.


Adriana adalah kesatria dan juga penyihir, jadi dia bisa menggunakan dan membuat senjata sebanyak dan sekuat yang ia mau tergantung tingkat kekuatannya.


Ia membuat sebuah sabit yang mirip dengan ratu kematian Ruby gunakan. Hanya saja auranya lebih menyeramkan dan menakutkan. Berbanding terbalik dari yang ia buat sebelumnya.


"Kalau begitu, aku harus melumpuhkan mu terlebih dahulu sebelum mengobati mu."


Adriana mengarahkan crescent moon ke langit malam sejuta bintang dengan satu bulan. Saat itu tiba- tiba bulan menjadi bulan purnama dan berwarna semerah darah. Langit pun menjadi semakin gelap sampai bintang pun tak terlihat.


"Death blood!"


Wush, serangan itu meluncur mulus ke arah Hyuga. Kali ini Hyuga tidak menghindar, tapi ia menahannya menggunakan pedang Darknion kebanggaannya.


"Heh, Darknion explansion!"


Serangan mereka kembali bertubrukan, tapi dengan cepat serangan Adriana melumpuhkan serangan Hyuga dan akhirnya Hyuga terkena serangan itu.


Hyuga tiba- tiba terbawa ke alam bawah sadarnya. Alam bawah sadar Hyuga hanya terpenuhi air laut dan ia hanya sendirian saja di sana.


Tiba- tiba sebuah kepingan memori melewati dirinya. Itu adalah memori dirinya dan Adriana untuk terakhir kalinya. Itu saat mereka bermain tanah dan Adriana melihat sebuah apel.


"Adriana, apa kau mau apel itu?"


Adriana mengangguk, "Baiklah, akan aku ambilkan dulu, ya." Ucap Hyuga.


"Aduh sakit! Pantat ku tolong Adriana."


Adriana dan menjitak kepala Hyuga, "Kau bodoh!Aku mengangguk dan kau langsung memanjat pohon?" Tanya Adriana.

__ADS_1


"Hehehe, maaf aku gagal mengambil apel itu untuk mu."


"Tidak apa- apa, kau itu kan bodoh. Jadi wajar kalau kau selalu saja salah!"


"Aku tidak bodoh! Tidak!"


Hyuga menutup mata di iringi tawa geli mengejek dirinya sendiri. Untuk pertama kalinya setelah sekian tahun, Hyuga tersenyum tipis tapi berkesan tulus dan sangat menyakitkan.


"Hah, menyebalkan sekali. Padahal niat ku adalah untuk melindungi mu. Tapi malah berakhir di manfaatkan. Aku memang bodoh seperti yang kau katakan, Adriana." Batin Hyuga.


Saat Hyuga akan menyerah dan menutup mata, ada sebuah bayangan yang mendekatinya. Hyuga hanya cuek saja dan kembali menutup mata, sampai sebuah tangan halus menggenggam tangannya.


Hyuga membuka matanya sedikit mengintip siapa yang telah menggenggam tangannya itu. Itu adalah Adriana yang sedang memasang wajah kesal sambil menggembungkan pipinya.


"A, Adriana...?"


"Kau bodoh, kau memang bodoh Hyuga!" Teriak Adriana.


Hyuga tersenyum simpul dan kembali memejamkan matanya. Adriana kesal dan menarik kembali tangan Hyuga ke dekat wajahnya.


"Hei bodoh, bangun! Kau tidak boleh tiada seperti itu!"


Mata Hyuga terbelalak, dia hanya diam saja dan menatap wajah cantik Adriana. Karena semakin kesal, Adriana mencubit pipi Hyuga dengan kuat agar bocah halu itu bangun.


"Hei, aku menyuruh mu bangun dan kau malah menutup mata?!"


"Dasar bocah halu! Sebenarnya apa yang kau-"


"Kenapa...?"


"Hm?"


"Kenapa kau menyelamatkan ku? Padahal gara- gara aku, semua orang yang kau sayangi tiada."


Adriana menggelengkan kepala, "Tidak apa- apa, karena pasti aku akan menghidupkan mereka lagi, pasti."


"Kau, ah, karena kau sudah membantuku, maka aku akan membawa mu ke tempat orang yang mengendalikan ku."


"Apa? Lalu, bagaimana dengan mu bocah halu?"


"Jika kau berhasil membunuhnya, maka aku pasti akan kembali."


"Baiklah, tapi jangan berbohong, kalau tidak aku akan membenci mu seumur hidup!"


Hyuga mengangguk, ia kemudian menggerakkan tangannya ke depan Adriana. Ia menggerakkan seluruh kekuatannya untuk mengirim Adriana ke tempat sang pengendali.


Syush, Adriana sekarang sedang berada di hadapan Sang pengendali itu. Betapa terkejutnya ia, ternyata orang yang ia benci itu adalah salah satu teman sekolahnya?


"Ka, kau, bagaimana bisa itu kau?!"

__ADS_1


BERSAMBUNG~


__ADS_2