
Glek, dahi Adriana membentuk perempatan siku- siku. Ia mengambil sikap waspada, sudah jelas kalau dia tidak mungkin akan meninggalkan Caldwell apapun yang terjadi.
Selain karena rasa cinta, ia juga tidak ingin Caldwell terluka walau hanya sedikit. Set, Adriana mengarahkan tangannya ke atas dengan tatapan serius dan tajam.
"Jubah Dewi Perang Kematian! Adriana the demon of death!"
Wush, sring, blaarr, jubah berwarna hitam bercampur putih membentuk sebuah gaun panjang selutut. Tidak lupa dengan crescent moon nya yang sangat tajam dan juga besar.
Tatapannya dingin, tak lupa ada senyum menyeringainya. Sejak mengalahkan Hyuga dan Leanna, Adriana sudah menempati posisi untuk menggantikan ke enam Dewi Perang.
Yaitu Aygul Iolanthe, Rexana Iza, Ratu Kematian Ruby, Dyndra Allete, Aafreeda Acacia, dan pemanah bulan Miya. Selain itu dia juga di akui di dunia para Dewi dan menjadi kaki tangan Dewi permohonan Akansha.
"Bersiaplah kau, Ratu Reala yang tercela!" Teriak Adriana.
"Baiklah, kalau begitu majulah! Kemarilah, dan akan aku buat, kau menjadi milik ku selamanya!"
Ck, Adriana menggertakkan giginya murka akan keg*laan Ratu Reala yang jauh dari kata waras. Set, saat hendak menyerang, sebuah tangan menggenggam tangan Adriana. Dia adalah Caldwell.
"Adriana, biarkan aku membantu mu!" Pinta Caldwell.
"Jangan bercanda Caldwell! Jangan pertaruhkan nyawa mu yang berharga begitu saja!"
"Ku mohon Adriana! Ku mohon, ku mohon percayalah kepada ku!"
Adriana sedikit tersentak, ini pertama kalinya ia melihat Caldwell yang sangat keras kepala. Bahkan tidak mempedulikan apa lagi mendengarkan perkataannya sama sekali. Adriana hanya menghela napas panjang.
"Huft, baiklah kalau begitu. Tapi jika nyawa mu terancam, kau harus segara meninggalkan ku mengerti?!"
"Baiklah, aku mengerti."
"Adriana, maaf aku berbohong. Tapi aku, tidak akan pernah meninggalkan mu, apa pun yang terjadi!" Batin Caldwell.
Set, Adriana menggenggam erat tangan Caldwell, mentransfer beberapa kekuatan Dewinya. Wush, blar, tiba- tiba sebuah tiupan angin yang lembut dan nyaman mengelilingi Caldwell.
Pria bersurai kuning agak keemasan itu hanya diam dengan raut wajahnya yang terlihat sangat damai. Wush, set, Caldwell membuka matanya perlahan, menatap dirinya yang sudah 180° berbuah drastis.
"Ini, sangat hebat." Gumam Caldwell.
Bagaimana tidak? Caldwell menggunakan pakaian layaknya seorang pangeran berkuda. Jubah yang berbentuk mirip jas, ringan namun sangat ampuh untuk menahan serangan dari pihak lawan.
"Ayo, kita habisi dia Caldwell!"
"Tentu saja!"
"Adriana, akhirnya aku bisa bertarung bersama mu." Batin Caldwell senang.
__ADS_1
Wush
Dengan kecepatan secepat cahaya, Adriana dan Caldwell melesat layaknya duo petarung yang sangat handal. Caldwell memblok sisi bagian belakang dan Adriana memblok sisi bagian depan.
"Heh, kau pikir cara ini dapat membuat mu mengalahkan ku? Dasar kalian makhluk idiot!"
Sring, pedang Adriana dan Caldwell membentur lingkaran sihir yang di gunakan Ratu Reala untuk melindungi dirinya. Pats, brak, kretak, Adriana dan Caldwell terpental ke belakang dan mengakibatkan dinding retak parah.
"Uhuk, uhuk, sialan!" Gumam Adriana.
Caldwell menyeka darah di pinggir bibirnya, berusaha untuk bangkit dan kembali menyerang. Tatapan itu, tatapan remeh dari Ratu Reala membuat Adriana naik darah.
"Cih, sudah aku bilang. Kalian tidak akan bisa mengalahkan ku!"
"Jangan sombong kau! Dasar wanita j*l*ng!" Umpat Adriana berteriak.
"Oh~ Wanita j*l*ng, ya? DASAR ANAK KECIL SIALAN!"
Adriana mendelik sedikit terkejut, pasalnya aura di dalam Ratu Reala kian lama semakin mengerikan. Deathglare nya benar- benar sangat terasa, tapi Adriana tidak boleh takut sekarang, apa lagi mundur.
"Lihat saja, bagaimana cara ku membungkam mulut kurang ajar mu itu!"
"BANYAK B*C*T KAU WANITA SIALAN!"
Brak, duar, kreeekkk, tiba- tiba seseorang melayangkan tinjunya dengan sangat kuat. Alhasil tinju itu berhasil menghancurkan lingkaran sihir yang sedari tadi melindungi Ratu Reala yang tidak tahu diri itu.
Set, tap, tap, Rea mundur beberapa langkah ke belakang, jaraknya hanya beberapa meter dengan Adriana. Set, Rea membalikkan badan dengan senyum manis kebahagiaan.
"Maaf terlambat, Adriana."
"Re, Rea...?" Tanya Adriana sedikit tergagap.
"Bagus Rea! Kau menghajarnya dengan sangat tepat!"
"Shamus?!" Teriak Adriana kaget.
"Cih, akhirnya kau datang juga. Shamus b**d*b."
Caldwell berjalan ke arah mereka berempat dengan sedikit tertatih- tatih dan agak kesulitan. Sambil memegangi bekas luka goresan di lengan kanannya, juga dengan darah yang masih ada di pinggir bibirnya.
Ia tersenyum manis menahan rasa sakit. Grep, krek, sepasang tangan mulus menggenggam batu dengan sangat kuat sampai hancur. Orang itu terus bergumam kesal.
"Sial, sial, SIALAN! SUDAH CUKUP BERMAIN- MAINNYA! SEKARANG AKU PASTI AKAN MENDAPATKAN MU!"
"Jangan berkata omong kosong lagi, dasar kau nenek tua!" Ucap Rea.
__ADS_1
"Ku suka gaya mu Rea! Kau memang sangat badass!" Teriak Shamus.
"Ya, itulah Rea yang aku kenal." Ucap Adriana.
"Heh! Mari aku perlihatkan, SENJATA RAHASIA KU!"
Adriana menyipitkan matanya masih berusaha mengerti apa maksud Ratu Reala itu. Deg, tiba- tiba Adriana teringat akan sesuatu yang membuatnya berfirasat buruk.
"Jangan bilang, maksud mu soul powder itu?" Tanya Adriana.
"Tepat sekali, sayang ku. Kau pasti penasaran kenapa aku memiliki soul powder itu bukan? Akan dengan senang hati aku menjawabnya!"
"Langsung saja pada intinya nenek tua!" Teriak Rea.
"Benar! Kau terlalu banyak basa- basi! Keburu kompor di rumah ku meledak, nih!" Teriak Shamus.
"Memang sejak kapan di rumah mu ada kompor?" Tanya Caldwell.
"Sejak aku pacaran dengan Rea dong! Aku kan calon suami yang serba guna gitu, loh!"
"Cih, sombong sekali jadi orang!"
Brak, wush, tiba- tiba angin kencang berhembus. Delapan pasang mata mengarah ke arah tangan Ratu Reala yang di satukan. Sebuah botol yang di yakini adalah soul powder itu muncul.
"Lihatlah Adriana, neraka mu, akan segara tiba!"
Cara menggunakan soul powder adalah dengan cara menggabungkan benda yang paling berhubungan erat dengan sang pemilik benda. Ada dua buah helai rambut di tangan Ratu Reala.
Adriana menatap dengan saksama, karena jujur, dia penasaran akan cara kerja soul powder. Dua buah helai rambut itu terasa sangat familiar, wush, bubuk yang sudah di campur dengan air itu di tuangkan ke atas helai- helai rambut.
"Apa yang kira- kira akan terjadi, ya?" Gumam Rea yang di dengar oleh tiga sahabatnya.
"Apa keputusan kita tepat membiarkannya menggunakan soul powder itu?" Tanya Caldwell.
"Huh, kenapa nenek tua b*ngk* itu tidak langsung mati saja, sih?" Tanya Shamus mulai kesal.
Adriana membelalakkan matanya terkejut dengan apa yang di lihatnya sekarang ini. Rea dan Shamus berdecak terkejut bukan main, rasanya mereka sangat ingin melampiaskan amarah mereka.
"Ah, bagaimana mungkin...?" Gumam Adriana.
"Keterlaluan! Bagaimana bisa?!" Teriak Caldwell.
"Dasar nenek tua! Mati saja sana!" Teriak Rea.
"WOI SIALAN! MAKSUD LU APAAN HAH?! NGEJAK GELUD?!" Teriak Shamus.
__ADS_1
"Bukannya dia memang ngejak gelud ya dari tadi?" Tanya Caldwell datar.
Bersambung