
Adriana dan Caldwell saling melirik satu sama lain mencoba bertelepati. Tatapan Caldwell seperti berbicara, 'Bagaimana? Aku harus jawab apa?'. Tatapan Adriana, 'Jangan, biarkan aku saja yang jawab!'.
"Jadi bagaimana Kak Caldwell?"
Deg, Caldwell dan Adriana terkejut karena pertanyaan tiba- tiba Meira. Haha, Caldwell tersenyum canggung sambil berusaha berpikir keras bagaimana caranya dia menjawab pertanyaan bocah berusia 12 tahun itu.
"Em, soal itu-"
Brak, kaca tiba- tiba pecah dan membuat ke lima orang itu mendelik. Pelakunya tidak lain yang ke bar- badannya ke lewat umum dan logis. Dia adalah Shamus.
Dengan tingkah sok pendekar, baju putih yang di tutupi rompi agak panjang berwarna coklat. Rambut yang di biarkan acak- acakan dengan sepatu bot berwarna coklat juga.
"Hai, rindu aku tidak~?"
"Tidak." Jawab Meira dan Adriana bersamaan.
Jleb, dada Shamus serasa tertusuk tombak yang sangat tajam. Lebih tajam dari tombak putus ataupun di tolak cinta. Sakit sekali rasanya, plak, efek lebay dan bucin akut.
"Huh, jahat sekali." Cibir Shamus.
Brak, lagi- lagi jendela di jebol makhluk tidak memiliki akhlak. Kali ini mahkluk yang kelakuannya sebelas dua belas dengan Shamus itu berhasil membuat Adriana mendelik sekaligus terkejut.
"Hai semuanya~"
Rambut hitam pekat yang melambai-lambai karena tertiup angin. Bibir merah merona alami yang cantik, kulit putih yang indah dan mulus, dan juga pakaian agak mirip seragam, mungkin.
Dengan bando berwarna ungu bercampur bunga putih di sisi kanannya. Rambutnya tergerai, ia juga menggunakan celana ketat pendek se paha yang tertutup oleh rok panjangnya.
"Re, Rea?!" Teriak Adriana tidak percaya.
"Sudah lama sekali, ya. Adriana ku sayang~"
"Ke, kenapa kelakuan mu sekarang seperti monyet gelantungan begitu?"
"Heh! Enak saja kau bilang begitu. Berubah jadi monyet pun aku pasti tetaplah cantik~"
Set, Adriana mendelik menatap setajam elang ke arah Shamus yang duduk di pinggir jendela dengan tampang tidak berdosa. Grep, Adriana mencengkram erat kerah baju Shamus dan menggoyang- goyangkannya.
"Kau apakan Rea, hah?! Kenapa setelah bersama mu dia jadi ikutan tidak waras?!"
"Eh?! Apa maksud mu?! Dia kan jadi ja~ uh~ lebih baik."
"Jauh lebih baik?"
Tatapan Adriana kembali menajam, tatapannya sekarang lebih tajam bagai naga yang mengejar kelinci kecil. Brrrr, tubuh Shamus menggigil ketakutan, bulu kuduknya berdiri semua.
"Apa maksud mu sikap lebih baik itu kelewat bar- bar seperti ini, hah?!"
"Tenang, cuy! Tenang! Lu kayak maknya aja, deh!"
"Terus kenapa kalau begitu?! Kembali Rea ku yang dulu! Kembalikan!"
"Bilang aja sama orangnya sendiri sana!"
__ADS_1
Tak, tiba- tiba seseorang memegang pundak Adriana dengan sentuhan lembut. Dengan senyum manis nan menenangkannya itu, dia berhasil menjinakkan Adriana. Ia adalah Caldwell.
"Sudah tenanglah, kita dengarkan dulu kenapa mereka ke sini."
Set, Adriana melepaskan cengkeramannya itu dan bersikap cool seperti tidak terjadi apa- apa. Huft, Shamus menghela napas lega, sementara Rea masih bingung dan hanya memperhatikan situasi.
"Ekhem, jadi kenapa kalian ke sini?"
"Apa kau lupa? Kemarin malam kau kan meneleponku."
"Ah, benar. Jadi bagaimana hasil penyelidikan kalian? Pasangan bar- bar~?" Goda Adriana.
"Eh?! Adriana b*ngke! Apa maksud mu itu?!"
"Wah, kata- kata mutiara mu semakin banyak dan parah, ya."
"Huh!"
Rea agak sedikit memalingkan wajahnya malu, ini pertama kalinya mereka berbicara banyak dan akrab setelah kejadian di mana Rea masih syok tentang gender asli Adriana.
Rasanya agak canggung, di tambah lagi, Rea masih terbayang akan masa lalu di mana dia sangat menyukai Adriana yang idealis. Pintar, sopan, tampan, baik, dan perhatian. Rasanya agak sulit.
"Tunggu, memang kau berbicara apa pada Rea?" Tanya Caldwell.
"Aduh, aduh, apa kau minum cuka(cemburu) satu panci kemarin?" Tanya Shamus menggoda.
"Jaga cara bicara mu! Aku hanya penasaran saja."
"Hahaha, awokawok! Dasar gengsian!"
"Baiklah Kakak, kami pergi dulu. Selama reunian, ya~"
"Terima kasih, Meira."
"Terima kasih kembali. Ayo Ryu Ice, nanti aku bacakan buku dongeng."
Ceklek, pintu besar dan panjang berwarna coklat itu pun tertutup. Mereka berempat saling menatap satu sama lain, keheningan berlangsung selama beberapa saat.
"Jadi begini, kau dengar bukan pedagang yang aku bilang kemarin?" Tanya Adriana.
"Benar, kata mu dia melihat plakat yang menandakan dia orang ratu bukan?" Tanya Rea.
"Ya, jadi kau sudah menyusup ke istana untuk memastikannya?"
"Aku dan Shamus sudah ke sana. Gerak- gerik ratu memang agak mencurigakan."
"Kau ke sana berdua dengan Shamus?" Tanya Adriana curiga.
"Memangnya kenapa?"
"Pasti sulit, ya." Ucap Caldwell menghela napas dengan tatapan kasihan(?).
Set, Rea dan Shamus memiringkan kepala bingung tidak mengerti maksud dua sejoli alias pasangan di depan mereka. Adriana menggelengkan kepala sambil mengangkat tangannya seperti pasrah.
__ADS_1
"Mau bagaimana lagi, Shamus itu kan emang tidak ada akhlak dari dulu. Sudah pasti dia hanya akan mengacau." Ucap Adriana mengejek.
"Di tambah lagi kau harus mengurus seorang bocah pecicilan seperti dia. Benar- benar butuh kerja keras." Ucap Caldwell tersenyum remeh.
"Sialan kalian berdua! Aku ini sangat hebat! Aku bahkan bisa melindungi Rea dengan kekuatan ku sendiri!"
Blush, pipi Rea agak sedikit memerah malu karena kata 'melindungi' yang di utarakan Shamus dengan wajah murka dan yakin. Nggak tau aja Rea kalau Shamus itu kelewat playboy.
Mungkin besok kalau ketahuan bakalan di sleding kepalanya ke dinding dan di suruh tidur di luar sampai amarah Rea reda. Kasihan ya Shamus guys, poor Shamus not have akhlak.
"Ck, ck, ck, sempet- sempetnya dia ngemodus di depan kita." Ucap Adriana.
"Shamus kan memang dari dulu playboy tingkat akut. Siapa coba yang bisa nandingin dia?"
"Aku bisa saat jadi laki- laki!" Ucap Adriana percaya diri.
"Oh, maksudnya kau mau selingkuh gitu?"
"Apa?! Tentu saja tidak~!"
Adriana bersikap manja dengan wajah sedikit di imut- imutkan agar Caldwell tidak marah ataupun kesal padanya. Mck, sementara Rea dan Shamus malah menatap jijik dan datar.
"Cuih, sikap apaan itu?" Tanya Shamus.
"Heh! Kau juga kaya gitu tadi!" Ujar Adriana ngegas.
"Cih, dasar pamer kemesraan."
"Oh, kau bilang saja kalau iri karena Adriana ku punya pipi tembem dan mulus yang imut!"
Hug, Caldwell memeluk Adriana dengan cara backhug atau pelukan dari belakang sambil memasang wajah sombong. Grr, Shamus merasa geram, dia juga tidak mau kalah.
"Huh! Pipi tembem apanya! Rea ku juga punya! Malahan dia lebih cantik dari Adriana mu!"
"Idih, idih, Adriana ku itu yang terbaik!"
"Terbaik dari mana?! Rea ku itu yang paling imut, imut, imut, sejagat raya!"
"Sejagat raya pala mu! Palingan juga kompleks depan rumah doang!"
"Kalau iri bilang!"
"Sorry! Bos tidak iri dengan karyawannya!"
"Sombong ya sekarang!"
Bla, bla, bla, Caldwell dan Shamus terus beradu mulut tentang pacar siapa yang lebih hebat. Pengen deh punya pacar ke gitu, nasib jones(jomblo ngenes). Grr, kesal, Rea dan Adriana mengepal tangan kuat.
Buagh, dua kepalan tangan yang keras dan kasar, namun telapak tangan yang halus memukul kedua laki- laki yang overdosis obat bucin itu. Dengan tatapan mengerikan, Adriana dan Rea menatap pasangan mereka masing-masing.
"Diam, mengerti~?"
"Iya, sayang. Maaf, ya."
__ADS_1
Bersambung