
"Siapa, kau?"
"Aku adalah Dewi Permohonan, namaku Akanksha."
Akanksha, nama yang berasal dari India yang berarti permohonan dan keinginan. Sesuai dengan kekuatannya yaitu mengabulkan keinginan orang- orang yang sedang berjuang.
"Akanksha? Dewi permohonan? Apa artinya aku bisa meminta sesuatu pada mu?"
"Ya, kau bisa meminta apapun kepada ku. Jadi, apa permohonan mu, Chaterine?"
"Aku hanya ingin hidup dan bisa membunuh Monster yang telah menelan ku."
"Itu saja? Kalau begitu aku akan memberikan hal yang lebih dari itu."
Catherine memiringkan kepala, tidak tahu apa maksud gadis yang berada di hadapannya itu. Akanksha mengepakkan sayap dan turun dari ayunannya.
Ia menyatukan telapak tangan dan muncul cahaya berwarna putih menyilaukan. Cahaya itu terbang dan menyentuh dahi Catherine sama seperti yang di alami Adriana sebelum sayap Malaikat di belakang punggunya muncul.
"Apa yang kau...?"
"Mulai sekarang, kau akan menjadi Dewi para manusia, Chaterine."
Chaterine pun keluar dengan sayap putih di belakang punggunya dan menghabisi Monster itu dan menjadi dewinya para dewi. Cerita perjalanan Chaterine tamat.
"Jadi, begitu? Lalu, apakah aku bisa menemui Akanksha sang Dewi permohonan itu?" Tanya Adriana menjadi sangat bersemangat.
"Ya kau bisa, kau di sini juga karena aku yang mentakdirkan mu untuk memohon satu keinginan padaku."
Seseorang menyela pembicaraan Adriana dan Chaterine. Dia adalah Dewi Akanksha, Dewi yang sedang di cari Adriana saat ini. Mata Adriana berbinar, nampak begitu banyak harapan dan keinginan di dalam matanya itu.
"Dewi Akanksha?!" Teriak Adriana.
"Jadi, apa permohonan mu, Adriana?" Tanya Akanksha.
"Aku hanya mau orang- orang yang tiada karena perang ini hidup lagi. Catatan, hanya orang- orang yang baik saja."
"Baiklah, keinginanmu akan terwujud, dengan satu syarat."
"Yah, apapun syaratnya, yang pasti itu hanya akan berakibat padaku saja, kan?"
"Ya, benar. Syaratnya adalah, mulai hari ini, kau akan menjadi salah satu dari para dewi perang. Apa kau menerimanya?"
"Iya, ah, apakah para dewi perang dan Hyuga juga akan dapat hidup?"
"Ya, mereka akan dapat hidup. Hyuga juga dapat hidup karena aku memaklumi niat baiknya walau pun caranya terkesan salah."
"Terima kasih, Dewi permohonan Akanksha."
Dewi Akanksha mengangkat tangannya dengan lembut, wush, sihir pun muncul. Bola- bola sihir berwarna biru dan putih itu keluar dan mengarah ke dunia fana. Dunia ayah dan kakak Adriana.
__ADS_1
"Kalau misalnya aku menjadi Dewi, apakah aku masih bisa bertemu dengan ayah dan kakak ku?"
"Tentu saja bisa, karena kau dan para dewi perang itu adalah Dewi setengah manusia." Jawab Akanksha.
"Dewi setengah manusia?"
"Benar, Adriana. Kau dan aku sama- sama Dewi setengah manusia. Kita bisa pergi ke dunia fana dan juga menikah, tapi atas persetujuan Dewi Akanksha." Chaterine menjelaskan.
"Persetujuan Dewi Akanksha?"
"Benar, Dewi Akanksha adalah satu- satunya Dewi keturunan murni di dunia ini. Karena dewi- Dewi lainnya berada di planet lain."
"Begitu..."
Adriana terdiam sejenak, matanya tiba- tiba terbelalak. Adriana menatap Dewi Akanksha yang masih sibuk bermain mengayunkan ayunanya sambil tersenyum bahagia.
"Maaf, mungkin ini agak lancang. Tapi, apakah aku boleh pergi ke dunia fana, Dewi Akanksha?"
"Tidak apa- apa, pergilah ke dunia fana. Oh ya, sampaikan salam ku kepada dewi- Dewi perang, ya."
"Baiklah, sampai jumpa lagi, Dewi Akanksha, Dewi Chaterine."
"Sampai jumpa lagi juga, Adriana." Ujar ke dua Dewi itu.
Adriana membaca mantra dan portal ke dunia fana pun tercipta. Adriana mengepakkan sayap masuk ke portal sambil mengayunkan tangan mengucapkan selamat tinggal.
Zhung, Adriana pun sampai di dunia fana, tepat di depan orang- orang yang arwahnya sudah mulai di kembalikan. Begitu pula dengan luka- luka yang kini mulai sembuh.
Adriana tersenyum senang, ia kemudian pergi ke tempat para dewi perang dan Caldwel berada. Ia membantu para dewi perang dan Caldwel berdiri. Adriana celingukan mencari Ayah, kakak, dan juga Hyuga yang tak kunjung muncul.
"Shaquil, ah, tidak salah. Maaf tapi, kau belum memberitahu nama asli mu padaku."
"Ah, maaf ya Caldwel, nama asliku Adriana."
"Baiklah, Adriana, kau sedang mencari apa?"
"Aku sedang mencari seseorang."
Adriana pun berjalan menjauh dari Caldwel berkeliling mencari Ayah, Rian, dan Hyuga. Caldwel mengekor dari belakang sambil terus- menerus kebingungan.
Adriana terus- menerus kebingungan dan tidak berhenti melangkahkan kakinya. Sampai si suara keras Shamus dan yang lainnya muncul, bertambahlah bad Mood Adriana.
"Hei, Caldwel, apa kau tahu Shaquil ada di mana?" Tanya Rosean.
"Em, aku-"
"Eh, siapa wanita cantik itu? Ah, apakah kau yang mengalahkan dewa Hyuga itu? Hebat!" Ujar Shamus.
Adriana berdecih, ia kemudian pergi dengan perasaan jengkel. Itu karena mereka terlihat sangat senang saat sahabat sejak kecil laki- lakinya di kalahkan dan di buat tiada.
Hati Adriana di buat sakit hati, tiba- tiba sebuah portal dari atas terlihat. Hyuga nampak tidak sadarkan diri dan terjatuh dari atas sana. Adriana berjalan menuju ke tempat Hyuga itu dengan bahagia dan ketakutan bercampur satu.
"Hyuga! Bertahanlah!"
__ADS_1
"Tunggu, hei, biarkan saja dia tiada! Woi, dasar t*l*l!"
Adriana hanya cuek, ia mengepalkan ke 8 sayapnya untuk menangkap Hyuga. Hap, Adriana akhirnya menangkap Hyuga dan membawanya turun dengan sangat hati- hati.
"Hei, Hyuga, apa kau baik- baik saja? Hyuga, apa kau mendengarkan ku?! Hyuga!"
Adriana mengguncang- guncangkan tubuh Hyuga agar ia dapat bangun. Hyuga akhirnya membuka mata dan senyum pun merekah di wajah Adriana.
"Hei, br*ngs*k, kenapa kau masih hidup?!" Tanya Shamus.
"Diamlah, Shamus!" Adriana menatap Shamus dengan tatapan tajam dan menakutkan.
Caldwel untungnya saat itu sedang peka- pekanya. Jadi ia memegang pundak Shamus dan membawa yang lainnya pergi dari sana. Caldwel berusaha menjelaskan kepada yang lainnya, dan reaksi mereka.
"Apa?! Jadi dia itu Shaquil, ah, maksudku Adriana?!" Tanya Shamus.
"Bagaimana mungkin? Jadi dia itu perempuan?!" Tanya Rea.
"Jadi, selama ini dia membohongi kita begitu?" Tanya Rosean.
"Wah, dia benar- benar jahat sekali, ya." Ujar Lynelle.
"Kalian ini tenang dulu, kalian cobalah mengerti keadaannya saat itu dulu. Jangan terlalu cepat menghakimi." Ujar Caldwel.
Lynelle, Shamus, Rea, dan Rosean pun diam. Memang benar mungkin saat itu dia tidak ada pilihan atau memang keinginannya. Kita bisa apa?
"Baiklah, kita lupakan saja. Tapi kenapa dia harus menyelamatkan Hyuga segala, sih?!"
"Kalau itu, kita tanyakan saja kepada Adriana langsung. Tapi tetaplah menggunakan kepala dingin, mengerti?" Tanya Rosean.
Mereka berlima pun kembali ke sisi Adriana yang sedang berbicara dengan Hyuga. Tiba- tiba perasaan Caldwel menjadi tidak karuan. Ia kesal, marah dan berbagai hal lainnya.
Saat ini posisi Hyuga dan Adriana duduk berhadapan dan sangat dekat. Caldwel pun berjalan ke sisi Adriana dengan cepat secepat orang yang cemburu melihat doinya sama yang lainnya. Aha🤣.
"Adriana, aku ingin kita berbicara sebentar." Ujar Caldwel sambil menatap Hyuga tajam.
"Oh, baiklah. Kalau kalian ada pertanyaan, tanyakan saja pada, Hyuga. Tapi awas kalau sampai aku memergoki kalian membentak, Hyuga, maka aku akan memukul kalian."
Caldwel semakin merasa panas, ia kesal lantaran Adriana melindungi Hyuga secara terang- terangan. Dengan cepat, Caldwel menarik tangan Adriana membawanya masuk ke hutan.
"Hei, kau mau kemana? Lepaskan tanganku, aw, sayapku!"
Caldwel seketika tersadar bahwa tindakannya saat itu sangat kekanak- kanakan. Terlihat sayap Adriana agak sedikit berdarah karena tergores ranting pohon.
"Ah, aku benar- benar minta maaf."
"Tidak, tidak apa- apa, jadi apa yang ingin kau katakan?"
"Kali ini aku harus mengatakan perasaanku pada Adriana!" Batin Caldwel.
"Adriana aku..."
BERSAMBUNG~
__ADS_1
Bye, bye para readers- readers ku🤣