
"Em, aku tidak tahu."
Gubrak, Caldwel dan Hyuga terjatuh tak percaya. Adriana dan Ryu Ice menatap datar, mereka berdua sama- sama menghela napas berat sambil mendengus kasar.
"Memangnya dalam pesta wajib membawa pasangan apa? Aku sih ogah, alias nggak mau." Ucap Adriana.
"Tapi, kan..."
Brak, sebelum Hyuga menyelesaikan kalimatnya. Adriana di tabrak seorang anak kecil, umurnya sekitar 7 tahun. Warna rambutnya kuning ke emasan, dan sepertinya dia sedang di kejar sesuatu.
"Ah, kakak, aku, benar- benar minta maaf." Ujar anak itu menunduk.
Adriana menatap anak itu penuh rasa penasaran. Beberapa menit kemudian, ada tiga orang kesatria yang berteriak dan mengarah ke anak kecil itu.
"Hei, berhenti kau!" Teriak kesatria itu.
Anak itu sontak ketakutan dan bersembunyi di belakang Adriana. Pegangan anak itu benar- benar sangat kuat. Adriana menatap ke tiga kesatria itu tajam, kesatria itu langsung gemetaran.
"No, nona Adriana, maaf kami sudah mengganggu Anda." Ujar seorang kesatria.
"Kenapa kalian mengejar anak ini?" Tanya Adriana.
"Itu, itu karena anak itu sudah mencuri sebuah dompet dari ibu- ibu." Jawab kesatria itu.
Adriana menatap anak itu, ia kemudian berlutut. Tuk, Adriana mendekatkan dahinya ke dahi anak itu. Anak itu hanya diam, seperti anjing yang sangat penurut.
"Mind reading, active."
Zhung, Adriana sekarang melihat semua kejadiannya. Ia membuka mata dan menatap ke arah kesatria itu sambil mendengus kasar. Ia menggaruk bagian belakang kepalanya.
"Hah, kalian ini, bukan anak ini pencurinya. Tapi ibu- ibu yang melaporkan anak inilah yang mencurinya." Ucap Adriana.
"Ta, tapi, itu, itu tidak mungkin."
"Maksud mu, aku berbohong begitu?" Tanya Adriana dengan tatapan tajam.
"Ti, tidak, saya tidak bermaksud seperti itu nona. Ka, kalau begitu, kami permisi terlebih dahulu."
"Sialan, aura orang ini benar- benar sangat menakutkan." Batin para kesatria.
"Dasar bodoh, aku bisa membaca pikiran dan hati mu tahu." Batin Adriana menatap datar.
Set, para kesatria itu pun pergi dan meninggalkan Adriana, Hyuga, Caldwel, Ryu Ice, dan anak itu berlima. Anak itu melepaskan genggamannya dan menghadap ke Adriana.
"Te, terima kasih banyak."
__ADS_1
"Kau ini, kalau kau memang tidak bersalah, kau seharusnya tidak perlu khawatir ataupun takut. Mengerti?" Tanya Adriana sambil mengusap kepala anak itu.
"Aku tahu itu tapi, walaupun aku mengatakan yang sebenarnya. Mereka akan tetap tidak mempercayai ku."
"Baiklah, lupakan saja itu, siapa nama mu?"
Anak itu terdiam, Adriana memiringkan kepala bingung. Caldwel dan Hyuga hanya diam karena, mereka paling tidak bisa mengerjakan apapun yang hubungannya dengan anak- anak.
"Mereka, sering memanggilku, 'Pembawa Sial'.
Aku tidak tahu kenapa mereka memanggilku begitu."
Adriana tersenyum dan kembali mengusap kepala dan mencium dahi anak itu. Ia kemudian menggendongnya di tangan yang satunya tepat bersebelahan dengan Ryu Ice.
"Tidak apa- apa, bagaimana kalau kau ikut aku pulang? Hm?"
"Apa? Hei, kau kan belum memberitahu orang tua anak itu." Ucap Hyuga.
"Benar, bagaimana jika kau di cap penculik anak nanti?" Tanya Caldwel khawatir.
"Orang tua? Bukankah mereka memanggil anak ini 'Pembawa Sial'? Kalau begitu, anak ini tidak di inginkan bukan?"
Caldwel dan Hyuga terdiam, mereka tidak bisa berkata- kata. Apa yang di katakan Adriana itu memang benar, tapi setiap perbuatan pasti ada resikonya bukan?
"Kalau mereka tidak menginginkannya, maka dia akan aku rawat. Terserah mereka mau bilang aku penculik anak atau apapun itu."
Tapi pada akhirnya tetap di setujui, sekarang Adriana menginap di rumah yang jaraknya sekitar 0,5 km dari sekolahnya. 1,3 km jika di hitung dari rumah ke toko.
"Baiklah anak- anak, mulai hari ini, tempat ini adalah rumah kalian oke?"
Ryu Ice dan anak itu mengangguk, Adriana hendak menuju dapur untuk memasak. Sekalian belajar untuk hidup sendiri dan tidak ketergantungan pada orang lain terus- menerus.
"Baiklah, aku akan memasak dan, ah, aku lupa, aku belum memberi mu nama, ya?"
Adriana melihat ke kanan, kiri, atas, dan bawah anak itu. Sebuah nama pun muncul di dalam kepalanya. Adriana tersenyum manis dan lembut.
"Nama mu adalah Meira Lulana."
Meira berarti cahaya, Lulana berarti bintang pemandu. Maksudnya adalah cahaya bintang yang memandu orang ke jalan kebenaran. Sekiranya kalau aku yang ngartiin sih seperti itu.
"Terima kasih, apa, boleh aku memanggil mu, kakak?"
Adriana tersenyum, "Tentu saja boleh, lagi pula Ryu Ice juga tidak keberatan iya, kan?"
"Eun aja, atu ukan aak eil ang enak- anaan(Tentu saja, aku bukan anak kecil yang kekanak-kanakan."
"Baiklah, Meira, mandi dulu sana. Setelah itu turun ke bawah untuk makan, ya?"
__ADS_1
"Baiklah, terima kasih kakak."
Adriana tersenyum, Meira kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Ryu Ice di gendong menuju ruang makan. Beberapa menit setelahnya Meira turun ke bawah dengan wangi sabun.
"Wah, wangi sekali. Ayo makan sekarang Meira, Ryu Ice."
Adriana sempat terdiam karena terkejut melihat wajah cantik Meira. Set, kursi di tarik dan mereka duduk di kursi Masing- masing. Hap, Ryu Ice memakan buburnya dengan lahap.
Ryu Ice makan sendiri karena dia nggak mau di anggep anak kecil. Dia juga nggak terlalu suka merepotkan orang lain. Terutama orang yang berarti dan amat penting baginya.
Klotak, klotak, semuanya diam dan hanya terdengar suara piring, garpu dan sendok yang berbentrokan. Tidak ada yang berbicara sampai Adriana menghela napas.
"Meira, besok malam aku harus pergi ke sebuah pertemuan. Apa kau bisa menjaga Ryu Ice sebentar?"
Set, gerakan Meira tiba- tiba berhenti, ia menatap Adriana. Meira kemudian mengangguk dan tersenyum manis. Dia mungkin anak kecil yang di telantarkan, tapi dia sama sekali tidak bodoh dan tidak memiliki niat jahat.
"Tapi, aku tidak tahu cara merawat bayi."
"Tenang saja, kau hanya perlu menjaga Ryu Ice dan membawakannya susu kalau dia haus, mengerti?"
"Baiklah kakak."
Selesai makan Adriana, Ryu Ice, dan Meira tidur di satu kasur. Ryu Ice di tengah, Meira dan Adriana tentu saja berada di samping. Keesokan malamnya, Adriana menggunakan pakaian yang ia beli kemarin.
Rambut Adriana di buat panjang menggunakan sihir. Bagian belakang poninya di kepang mengitar dan kepangan rambut itu di taruh di dekat lehernya. Sementara bagian bawah rambutnya di roll dengan indah.
Sekiranya model rambutnya kaya gitu, maaf kalau jelek atau agak aneh. Semoga bisa membantu para pembaca untuk mendeskripsikan rambut Adriana.
Ia menggunakan dress baju melodi bintang yang ada di aplikasi [love nikki dress up]. Sekiranya seperti itu, cuma bagian rambutnya di buat kaya gambar di atas.
"Bagaimana penampilanku?"
"Wah, sangat cantik!" Ujar Meira.
"Epeti ei(Seperti peri)."
"Baiklah, aku pergi dulu, ya. Sampai jumpa nanti."
"Baik, bersenang- senanglah, kak."
"Tentu."
BERSAMBUNG~
__ADS_1