
Author POV
Shaquil dan Caldwel duduk di pinggir air mancur sambil tertawa ria. Senyum yang tidak pernah nampak di wajah Caldwel, sekarang terus- menerus muncul saat bersama dengan Shaquil.
"Hahaha, aku bahkan tidak habis pikir, cuma satu pukulan saja dan Shamus langsung k.o." Ujar Shaquil.
"Ya, benar. Apa pukulan perempuan sehebat itu?" Tanya Caldwel.
"Ya, aku tidak tahu, tapi yang pasti, aku lebih ringan dari pada si karung beras itu." Jawab Shaquil.
"Benarkah?"
Caldwel menunjukan smirk dan membuat Shaquil agak waspada. Yang benar saja, Caldwel lalu mengangkat Shaquil dengan tangan Caldwel berada di belakang punggung Shaquil.
Sontak Shaquil langsung terkejut, jika ia memberontak sekarang dia pasti akan jatuh. Akhirnya, Shaquil meletakan tangannya ke belakang leher Caldwel seperti seorang pasangan.
"Tuhkan, mereka benar- benar pasangan."
"Ih, kenapa mereka harus jadi gay sih? Kan sayang banget."
"Bukan cuma sayang, tapi beribu sayang!"
Para gadis yang bersembunyi di tempat yang tidak Shaquil dan Caldwel ketahui pun sekarang pada berbisik- bisik tentang hubungan Caldwel dan Shaquil.
"Ternyata perkataanmu itu benar, kau lebih ringan dari Shamus." Ujar Caldwel.
"Tentu saja, aku kan banyak berolah raga, kalau si Shamus menyebalkan itu malah kemungkinan olah raga tapi olah raga ranjang." Ucap Shaquil.
"Maksudmu, dia sudah tidak suci lagi begitu?"
"Hm, sekarang turunkan aku."
"Oh, baiklah, sekarang bantu aku berlatih sihir."
"Baiklah, ayo."
.
.
.
.
.
Hari ujian pun tiba, tentu semua orang akan sangat gugup dan ketakutan. Bahkan Shaquil sekalipun yang selama ini selalu menyandang gelar juara pertama satu sekolahan.
Tata tempat duduk kelas Shaquil saat sekolah Knight ujian:
Shaquil Carlir. Rea Cherly Orang nggak waras
Shamus Andrika Orang gila
Sekiranya kek gitu, jadi Shamus ada di belakamg Shaquil dan Rea ada di sebelah meja Shaquil. Banyak juga orang yang terus- menerus melihat Shaquil sampai dimarahi berulang kali.
Shaquil POV
Aku akui pertanyaannya sih mudah, tapi masalahnya adalah halangannya itu, loh. Para gadis yang melihatku, tapi tatapannya penuh cinta dan rasa takjub.
Kenapa mereka terus melihatku?
Aku akui aku memang tampan, tapi aku nggak terbiasa dengan semua ini. Aku berharap aku bisa berada di suatu ruangan sendirian.
Kuburan penjahat pun tidak masalah!
"Waktu tinggal 5 menit lagi."
__ADS_1
Suara dari speaker itu menunjukan kebebasanku sebentar lagi dari sini. Untungnya aku sudah selesai 1 jam yang lalu. Waktu setiap ujian itu adalah 2 jam.
Hah, ternyata ada untungnya, ya jadi anak pintar!
Aku pun keluar dari ruangan itu dengan raut wajah senang. Lantaran setelah mengambil nilai aku akan segera pulang dan bertemu dengan Ayah.
"Shaquil tunggu,"
Suara itu, suara yang akrab di telingaku, ya, benar, itu adalah suara si dispenser Caldwel. Caldwel mendatangiku dengan wajah bahagia. Kenapa dia bahagia, ya?
"Ada apa?" Tanyaku penasaran.
"Terima kasih, ya, karena mu soal tadi terasa lebih mudah."
"Sama- sama, oh ya, tak terasa ya sebentar lagi kita akan pulang dan tidak bertemu selama 2 minggu."
Raut wajah Caldwel tiba- tiba berubah, ia menampakan wajah sedih yang membuatku merasa amat bersalah. Astaga, apa aku salah bicara?
"Eh, ke, kenapa kau terlihat sangat sedih? Lagi pula ini kan hanya perpisahan sementara."
"Ya, kau benar. Oh ya, di mana rumahmu?" Tanya Caldwel tiba- tiba gembira.
What? Kenapa dia mau nanyain alamat rumahku? Mau ngelamar? Aku masih kecil.
"Rumahku?"
"Iya, rumahmu."
Aku terus berpikir keras, kalo misalnya aku memberitahu alamat rumahku, ayah pasti nggak akan terima. Di tambah lagi Rian pasti tidak akan suka.
"Em, kalau alamat rumahku aku tidak bisa memberitahunya karena ada 2 singa ganas di rumah."
"Dua, singa ganas?"
Aduh, coba lihat wajah polosnya saat bertanya itu, benar- benar imut. Aku memutar otak lagi, ah begitu saja pasti bisa.
"Em, boleh. Jadi dimana alamat toko kue mu?"
"Toko kue ayahku ada di Jalan Jomblo nomor 13 gang Anj*y bin anjr*t di tanah kemiskinan."
"O, oh baiklah."
"Pft, hahaha, aku hanya bercanda. Ini adalah peta menuju toko kue ku dari sekolah ini."
"Ahaha, jadi tadi itu hanya main- main saja rupanya."
Aku pun kembali ke kamar bersama Caldwel dan merapikan barang- barang untuk kembali ke rumah. Shamus hanya santai saja, aku rasa dia akan gelagapan sendiri besok.
.
.
.
.
.
Hari kembali ke rumah pun tiba, aku lulus dengan nilai yang cukup, ah tidak, sangat memuaskan. Aku harap ayah bangga dengan prestasiku.
Author POV
Nilai Shaquil Carlir:
IPA : 100
IPS : 100
__ADS_1
Agama : 100
Bahasa Indonesia : 100
Bahasa Inggris : 100
Rata- rata nilai :100
Itu adalah rata- rata nilai dari Shaquil, jika rata- rata Shamus ya lumayan tinggi, 98. Rata- rata nilai Rea adalah 97, Rosean 99, Caldwel menyamai Shaquil, yaitu 100.
Jadi untuk semester kali ini, Shaquil dan Caldwel mendapat juara pertama bersama- sama. Saat hari pulang tiba, sesuai dugaan Shaquil, Shamus memang gelagapan sendiri.
"Aduh, hei, tunggu aku sebentar!" Ujar Shamus berlarian di koridor sekolah.
"Pelan- pelan." Ujar Caldwel dingin.
"Sudahlah, sekali- kali benjol juga nggak masalah. Biar dia nggak di sukai lagi." Ejek Shaquil.
"Huh, dasar menyebalkan." Ujar Shamus.
Shaquil, Shamus, dan Caldwel pun berpisah di gerbang sekolah. Begitupun dengan Rea, Rosean dan Lynelle. Mereka bertiga semuanya berpisah di sana.
"Baiklah, sampai jumpa lagi ya, teman- teman." Ujar Rosean.
"Iya, sampai jumpa." Jawab Rea.
"Jangan rindukan aku, ya." Ucap Shamus.
"Tidak akan ada yang merindukanmu, bodoh." Ujar Lyenelle langsung membuat hati Shamus sakit.
"Kau jahat, Lyenelle." Ucap Shamus.
"Itu memang kenyataannya, kok." Ujar Lyenelle.
"Sampai jumpa lagi semuanya." Ucap Shaquil.
"Ya!" Jawab semuanya.
Shaquil pun naik ke keretanya dan menatap ke arah keluar jendela. Menatap ke sepanjang jalan yang di lewatinya. Saat itu hujan turun dengan cukup deras, suasana menjadi dingin dan suram.
Embun mulai menghiasi dinding kaca kereta. Shaquil menghela napas dengan senyum terukir di wajahnya.
"Sebentar lagi, kita akan bertemu kembali. Ayah, Rian, tunggu aku di sana." Batin Shaquil.
BERSAMBUNG~
\-Iklan\-
"Akhirnya, untung novel nggak kena lockdown, jadi aku bisa pulang kampung, deh." -Shaquil.
"Sombong amat ni anak, lu ngomong kaya gitu nertawain gw yang nggak bisa kemana- mana karena ujian, ya?!" -Author.
"Hehe, kok tahu, thor?" -Shaquil dengan senyum mengejek.
"Ni anak minta di kasih siraman rohani, ya?" -Author.
"Aku nggak minta di kasih siraman rohani, aku cuma butuh di kasih jodoh yang baik." -Shaquil.
"Kalo itu mah gw juga iya, bambank." -Author.
"Nama gw bukan bambank!" -Shaquil.
"Serah lodeh." -Author.
__ADS_1