Magician Knight

Magician Knight
Teman baru


__ADS_3

"Ya tuhan, dia sangat tampan dan baik. Kalau begini, aku rela deh nyawaku diambil." Batin Rea.


Rea, gadis berambut hitam dengan mata ungu itu sekarang sedang tersipu malu. Padahal Rea itu terkenal akan kekuatan dan dirinya yang selalu menindas laki- laki.


Ini wajahnya Rea saat pakai baju kesatria. Shaquil cuma menatap Rea bingung setelah itu membantu Rea berdiri. Rea masih dengan wajah meronanya dan memalingkan wajah.


"Te, terima kasih."


"Tidak perlu berterima kasih. Aku pergi dulu, sampai jumpa."


Shaquil meninggalkan Rea dan pergi ke kantin bersama Shamus. Di sepanjang perjalanan Shamus tidak berhenti menggoda Shaquil dengan amat menjengkelkan.


"Bagaimana kau bisa berteman dengan gadis cantik itu?"


"Apa kau mengajaknya berkencan malam ini?"


"Hei, sejak kapan kau dengan dia berteman?"


Pertanyaan satu persatu terlontarkan dari mulut Shamus, membuat Shaquil tambah kesal. Shaquil kemudian berbalik dan membuat Shamus bergidik ngeri.


"Hei, diamlah." Ujar Shaquil dengan tatapan seperti seorang psikopat yang haus darah.


Shamus pun akhirnya mengantupkan mulut ember nan cerewet miliknya. Setelah di rasa urusannya di sana selesai, Shaquil pergi kembali ke rumah meninggalkan Shamus.


Waktu kurang lebih 30 menit lagi sebelum sekolah penyihir Witch memulai pelajarannya. Shaquil sampai di sekolah itu 10 menit sebelum pelajaran di mulai.


Kejadian yang sama seperti di sekolah Knight, semua gadis memandangnya penuh rasa kagum dengan mata berbinar- binar seperti terkena sihir.


Saat sampai di mejanya, tatapan gadis- gadis itu malah kian menguat. Terlebih hampir sampai laki- laki yang ada di sebelah Shaquil di suruh pindah.



"Halo, namaku Rosean." Lagi- lagi seorang gadis mendekati Shaquil dan menjulurkan tangannya.


Rosean, gadis berambut ungu di ikat ekor kuda yang panjangnya sampai sebahu. Mata berwarna magenta menyala dengan tahi lalat kecil berada di samping mata kirinya.


Shaquil sempat tertegun sebentar sampai ia berdiri dari mejanya dan meraih tangan gadis bernama Rosean itu.


"Namaku Shaquil Carlir, halo juga." shaquil menunjukkan senyum imut nan manis miliknya.


Lagi- lagi gadis yang ada di depannya di buat mabuk kepayang oleh senyumannya itu. Shaquil sampai mengerutkan kening berpikir keras.


"Apa aku setampan itu jika jadi laki- laki?" Batin Shaquil.


"Ekhem, boleh aku duduk di sebelahmu?" Tanya gadis itu gugup.


"Tentu saja, memangnya siapa yang melarang mu duduk di sebelahku?" Tanya Shaquil dengan satu tangan menopang kepalanya.


Senyum pun merekah di wajah gadis itu, dengan cepat gadis itu duduk di sebelah Shaquil dan membuat gadis- gadis yang lainnya terbakar api cemburu.

__ADS_1


Pelajaran pun di mulai pertamanya Shaquil merasa bingung, untung ada Rosean di sebelahnya yang sangat pintar dan mau mengajari Shaquil.


Pelajaran berakhir, sebagai ucapan terima kasih Shaquil mengajak Rosean mampir di toko roti milik ayah angkatnya saat waktunya senggang. Rosean pun mengangguk dengan cepat seperti tidak berpikir terlebih dahulu.


Sesuai waktu yang di tentukan, Rosean mampir ke toko ayah angkat Shaquil itu. Pertamanya Shaquil terkejut karena tidak menyangka kalau Rosean akan benar- benar datang.


"Silahkan masuk, Rosean. Kau duduklah dulu, aku akan membuatkan roti spesial untukmu." Ujar Shaquil sambil menarik sebuah kursi untuk Rosean.


"Tunggu, kau koki di sini?"


"Iya, memangnya kenapa? Aneh, ya?" Tanya Shaquil dengan wajah imut bin gemesin.


Jleb, panah dari dewa cupid pun menusuk hati Rosean yang melihat keimutan dari Shaquil. Rosean menggelengkan kepala lalu menatap Shaquil yang dari tadi ada di depannya.


"Tidak, itu malah sangat hebat!" Ujar Rosean dengan yakin.


Senyum bahagia merekah di bibir Shaquil, kemudian Shaquil mengajak Rosean masuk untuk melihat proses pembuatan kue itu secara langsung.


Rosean terus saja terkagum- kagum dengan kejutan demi kejutan yang ia lihat dari diri Shaquil setiap harinya.


Rosean pov


Sedikit aneh bagiku melihat hal ini, padahal dari dulu aku selalu dingin kepada setiap orang. Hanya karena aku melihat seorang pria cantik ini beberapa hari lalu.


Entah kenapa sejak saat itu, aku selalu ingin bersamanya, menggenggam tangannya dan tidak akan pernah aku lepaskan.


"Hei, sudah berapa lama kau menjadi koki di toko ini?" Tanya ku yang masih setia melihat proses pembuatan kue itu.


"Sekitar tiga bulan, mungkin?"


"Tiga bulan? Apa, aku boleh kemari lagi?"


Pria di depanku terkekeh geli mendengar perkataan ku itu. Aku mengangkat alis bertanya, 'kenapa kau tertawa?'.


"Tentu saja kau boleh ke sini lagi, lagi pula kau ke sini ataupun kemanapun kau mau itu adalah hak mu."


Aku tersentak mendengar perkataan pria di depanku, bagaimana aku bisa bebas melakukan itu?


Dari dulu, kedua orang tuaku selalu menuntutku untuk menjadi yang terbaik. Alhasil, dalam pergaulan sosial aku memiliki rating yang buruk.


Aku selalu sendiri, bahkan sekarang aku hampir lupa cara tersenyum. Walau tersenyum pun, terlihat sangat jelas kalau itu adalah senyum paksa dan formalitas saja.


"Hei, jika kau melihatku seperti itu terus, nanti aku bisa- bisa masuk ke dalam mimpimu lo." Ujar pria itu berkedip sambil tersenyum nakal.


"Dia, dia menggodaku, keterlaluan!" Batin ku kesal.


Aku pun menggembungkan pipi ku, melihat hal itu Shaquil malah tertawa. Tapi, tertawanya itu sangat indah, aku seperti telah terkena sebuah mantra kebahagiaan.


Shaquil pov

__ADS_1


Betapa lucunya pipi yang menggembung karena amarah sepele begitu. Karena gemas, aku pun menyentuh pipi gembung itu dan membuat sang pemilik pipi tersebut menoleh ke arahku.


Aku hanya membalas tatapan penuh tanda tanya itu dengan senyuman imut agar dia tidak marah. Di luar dugaan, pipi gadis itu malah memerah dan membuatnya menghindari tatapan ku.


Ada apa?


Karena terus penasaran dan berhubung kuenya sekarang ada di oven dan matang sekitar dua menit lagi. Aku pun memiringkan kepalaku tepat di depan gadis itu dan membuatnya melompat terkejut.


"Awas!"


Aku segera menangkap gadis yang hampir saja jatuh itu dengan satu tangan di belakang pinggangnya dan yang satunya lagi memegang tangannya.


Seperti menari dansa, gadis itu sontak terkejut dan mendorongku cukup kuat. Hampir saja kepalaku yang berharga terbentur dinding toko milik ayah ku sendiri.


"Kau, apa yang kau lakukan?" Tanya Rosean.


"Membantumu agar tidak jatuh." Kataku dengan polos.


Author pov


Pipi merona menghiasi wajah cantik Rosean, tapi Shaquil hanya diam saja seperti tidak terjadi apa- apa.


Takut kuenya gosong, Shaquil dengan cepat membuka oven itu dan mengeluarkan roti yang ia panggang tadi.


Setelah Shaquil selesai menghias ia kemudian mempersembahkannya kepada tamunya sekaligus teman pertamanya di sekolah penyihir Whitch.


"Hidangan spesial untuk gadis yang spesial juga."


Kata- kata Shaquil membuat wajah Rosean di hiasi warna semerah tomat. Senyum kemenangan terukir di wajah Shaquil karena berhasil menjahili gadis di depannya itu.




"Dan ini adalah minuman untukmu, teman gadisku."



Jangan ngiler ya guys, padahal authornya sendiri ngiler. Jangan ampe batal puasa lo, lupa, puasanya kan udah selesai.


Satu gigitan dan itu dapat membuat Rosean seperti melayang di udara. Matanya berbinar-binar bahagia.


"Sangat enak!" Ujar Rosean masih mengunyah makanannya.


"Pft, dan kau sangat imut saat memakannya." Ucap Shaquil masih menggoda Rosean.


Uhuk, Rosean yang mendengar itupun terbatuk- batuk. Untung ada minuman yang sudah di siapkan di sebelahnya.


BERSAMBUNG~

__ADS_1


__ADS_2