
Tangan- tangan Ratu mulai menggerayangi tubuh Adriana, membuat Adriana meloloskan desahan dari mulutnya sendiri. Seringai kemenangan muncul.
Oh, b*tch, rasanya ingin sekali Adriana memukul kepala Melodia dan menghabisi Melodia dengan tangannya sendiri. Entah kenapa, sihir Adriana sama sekali tidak bisa di gunakan.
Jangankan kekuatan sihir, kekuatan tubuhnya saja entah kenapa tiba- tiba menghilang. Rasanya seperti tidak berdaya, sangat lemas, tapi Adriana tidak bisa menyerah begitu saja.
"Uh, si, sialan kau!"
"Diamlah Adriana sayang~ Nikmati saja permainan ku~ Lama- kelamaan kau pasti akan menyukainya~"
"Ku mohon... Siapapun tolong... Tolong... Aku." Batin Adriana.
Air mata mengalir dari pelipis matanya, untuk pertama kalinya ia benar- benar merasakan perasaan akan segera hancur. Perasaan, harapan, dan keinginannya, sudah memudar sepenuhnya.
"Nah, begitu dong~ Jadilah anak penurut~ Adriana sayang~"
Desahan halus kembali keluar dari bibir ranum Adriana yang sangat lembut. Cup, Ratu mencium bibir lembut itu dengan sangat panas. Untuk terakhir kalinya, Adriana kembali berharap.
"Aku mohon... Untuk terakhir kalinya... Bantu aku... Dewi Akansha..." Batin Adriana.
Prang, jendela yang tertutup rapat itu tiba- tiba pecah. Menampilkan seorang anak kecil berambut pirang dengan mata biru laut menatap tajam ke arahnya. Aura suram dan menakutkan muncul dan membuat Adriana bergidik.
Matanya membola setelah melihat dengan jelas siapa sosok anak kecil yang dengan berani dan tanpa ragu mendekat ke arah keduanya. Pedang panjang berwarna biru kristal berada di tangannya. Ia genggam sangat kuat.
"Me, Meira?!"
Ya, benar, sosok anak kecil itu tidak lain adalah Meira, adik angkatnya. Tatapan bagai binatang buas yang seperti mangsanya sudah di ambil dengan paksa darinya.
"Lepaskan dia, iblis sialan."
Suara yang mendingin, dengan tatapan tajam dan raut wajah tanpa ekspresi. Adriana sangat tidak mempercayainya, rasanya seperti bertemu dengan orang asing yang sanhat kuat.
Tapi bagaimana mungkin? Padahal Meira adalah adik angkatnya. Mereka sering bertemu, bercanda tawa bersama, dan sekarang, Adriana melihat sisi lain dari Meira Lulana. Nama yang bahkan ia berikan sendiri.
"Cih, hanya anak kecil saja. Lebih baik kau jangan mengganggu kesenangan ku!"
"Aku peringatkan sekali lagi, lepaskan dia."
"Hump, sombong seka-"
Jrash, pedang besar itu di lempar dengan mudahnya. Menggores pipi Melodia yang membuatnya amat murka. Melodia segera beranjak dan berniat menebas Meira.
Adriana masih dengan posisinya yang tak berdaya dan terkulai lemas. Mungkin karena aroma mawar yang entah di campurkan dengan sihir apa yang dapat membuat orang lemas.
"Kau benar- benar cari mati!" Teriak Melodia.
__ADS_1
"Sayang sekali, tapi kau yang cari mati."
"Lancang!"
Sring, trang, Melodia mengayunkan pedang yang ia dapat dari teleportasi sihir di tangan kirinya. Raut wajah yang masih datar itu menghempaskan pedang Melodia ke belakang.
Membuat mata Melodia membulat tidak percaya. Dengan mudahnya seorang anak kecil menghempaskannya dengan sangat santai tanpa bergeming sedikitpun.
"Aku rasa kau lupa akan pepatah. Di atas langit, masih ada langit."
"Sialan! Kali ini aku akan benar- benar menghabisi mu!"
Sring! Trang! Duar! Brak! Suara itu terus menggema di seluruh ruangan. Terdengar dengan sangat jelas kalau mereka tidak bermain- main. Jika di lihat lebih saksama lagi, Melodia terlihat sangat kewalahan.
Sementara tubuh lawannya masih baik- baik saja, bahkan lebih dari baik- baik saja. Tubuh Meira tidak ada bekas luka sama sekali, membuat Adriana terkejut. Begitu pula dengan lawannya yang ingin melarikan diri.
"Apa- apaan ini? Kenapa Meira menjadi lebih kuat dari biasanya? Atau apakah aku yang terlalu lemah, ya?" Gumam Adriana.
Walau suaranya sangat pelan, tapi bisa di dengar dengan jelas oleh Meira. Seolah telinga Meira bisa mendengar suara sekecil apapun itu walau jaraknya bermil- mil jauhnya.
"Tenanglah Kak, bagiku, Kakak tetaplah yang terkuat selamanya."
"Meira, sebenarnya, siapa kau itu sebenarnya?" Batin Adriana.
Sring! Trang! Buagh! Suara perkelahian masih terus terdengar seperti tidak kelelahan sama sekali. Bruk, sampai satu dari mereka terduduk karena kekuatannya yang terkuras habis.
"Keterlaluan kau! Lucifer! Kau di mana?! Bantu aku cepat!"
Zhung, tak lama kemudian orang yang di panggil pun datang dengan wajah malasnya. Ia berdiri tepat di samping Melodia dengan senyum agak mengejek teman satu rekan dan tujuannya itu.
"Haish, kenapa kau membangunkan tidur indah ku, sih? Hm? Jangan bilang, kau kalah dari anak kecil itu?"
Tatapan Lucifer seperti mengintimidasi Meira untuk maju melawannya sendiri. Tapi tatapan seseorang tidak akan pernah bisa menipu. Di dalam mata Lucifer, terlihat perasaan takut yang tersirat.
"Cih, diam saja dan bantu aku sekarang!"
"Baiklah temanku. Kita lihat, seberapa kuat kah anak ini."
"Jangan menilai seseorang dari sampulnya saja, Nenek j*l*ng."
"Astaga, siapa yang dengan beraninya mengajarkan hal buruk kepada Meira ku yang polos?" Batin Adriana.
Wush, prang, duar, seluruh kaca di ruangan itu pecah hanya karena Meira sedikit menekan energinya. Kegelapan menyelimuti dengan sangat hebat, membuat Melodia dan Lucifer membeku di tempatnya.
"Ayo, para Nenek- nenek j*l*ng. Kemarilah, bukankah kalian sangat sombong tadi~?"
__ADS_1
"Sialan! Benar- benar sialan!"
BRAK!
DUAR!
ARRRRRGGGGGGHHHHHHH!!!
BUAGH!
WUSH!
SRING!
ARRRRRGGGGGGHHHHHHH!!!
Final, kedua orang itu rubuh, lebih tepatnya tubuh mereka terpotong-potong. Kepala mereka meledak, titik vital mereka di rusak dengan sangat kasar tanpa ampun.
Bau anyir darah menguap, membuat aroma mawar yang sebelumnya tercium menjadi samar- samar. Pengaruh obat Adriana menghilang sepenuhnya, dengan tertatih- tatih Adriana berlari ke arah Meira penuh kerisauan.
Tatapan Meira masih sama seperti sebelumnya, datar tanpa ekspresi. Tetesan darah yang menetes di atas rambut Meira, wajah, beserta bagian lainnya membuat Adriana sedikit ciut.
"Meira! Meira ada apa dengan mu? Kenapa kau bisa-"
Sesuatu di dalam lambungnya tiba- tiba ingin menyeruak keluar dari mulutnya. Mungkin karena aroma anyir darah yang sangat tidak enak di hirup. Zhung, Meira langsung mengarahkan dirinya dan kakak kesayangan itu keluar.
"Sekarang Kakak bisa mengeluarkan semua yang ada di lambung Kakak dengan lebih leluasa."
"Huek!"
Adriana menatap horor dengan apa yang baru saja keluar dari mulutnya. Sebuah gumpalan- gumpalan hitam yang seketika dengan cepat berubah menjadi ular ular kecil yang menggeliat menjijikan.
"A, apa itu?" Tanya Adriana tergagap- gagap.
"Ular hitam dari negeri asura."
"Ular hitam dari negeri asura?"
"Benar, ular itu mendiami tubuh inangnya dan terus menetap di tubuh inangnya. Mengambil nutrisi dan membuat inangnya terkulai lemas."
"Baiklah, lupakan soal ini. Meira, kau harus menjawab pertanyaan ku."
"Apa itu?"
"Dari mana kekuatan yang sangat besar itu?"
__ADS_1
Bersambung