Magician Knight

Magician Knight
Terima? Ya!


__ADS_3

Sehari setelahnya, Shaquil pun menemui Bu Miya di ruang BK. Tok, tok, tok, tentu saja demi menjaga sopan santun Shaquil mengetuk pintu dulu. Dari pada di bilang murid nggak ada akhlak.


"Masuk." Ucap Bu Miya.


Shaquil masuk dan melihat banyaknya dokumen yang sekarang sedang di kerjakan Bu Miya. Bu Miya melirik ke arah Shaquil.


"Jadi, apa jawaban mu, Shaquil?"


"Baik bu, saya akan menjadi murid Bu Miya. Tapi dengan syarat."


Bu Miya menaikan satu alisnya, "Syarat apa?"


"Pertama, jangan membatasi kebebasan saya. Ke dua, jangan memanggil saya secara dadakan. Ke tiga, sesuai janji mu, kau harus membantuku saat aku dalam masalah."


"Baiklah, kalau begitu, kita mulai pelatihannya besok. Oh ya, jangan keberatan, karena aku akan mengumumkan mu menjadi muridku."


"Tidak masalah."


Shaquil keluar dari ruang BK dengan napas lega. Ia kemudian kembali ke kamarnya, karena Shaquil menemui Bu Miya saat sudah malam sekitar jam 19:56.


Sesampai di kamar, Shaquil melihat teman paling menyebalkan baginya, ya, dia adalah Shamus. Shamus memainkan hp nya dan tidak menghiraukan Shaquil sama sekali.


"Hei, apa kau sedang sms pacarmu?" Tanya Shaquil iseng.


"Siapa bilang hidupku cuma soal pacaran melulu." Jawab Shamus.


"Lu kan playboy dan suka gonta- ganti pasangan kaya ganti baju." Ejek Shaquil.


"Enteng bat dah tu mulut." Ujar Shamus.


"Hei Shamus, apa kau masih suci?" Tanya Caldwel.


Pertanyaan Caldwel mendadak membuat waktu seketika berhenti. Shamus dan Shaquil hanya mengedipkan mata sambil melongo saja. Apa maksud pertanyaan Caldwel?


Shaquil POV


Anj*r, kenapa Caldwel tiba- tiba menanyakan hal aneh begitu? Tunggu, apa gara- gara perkataan ku dulu, ya?


*Lihat chapter couple bagi yang penasaran apa yang di katakan Shaquil kepada Caldwel*


"Ke, kenapa kau mengatakan hal itu, Caldwel?" Tanyaku masih tidak berhenti terkejut.


"Em, karena ada seseorang yang memintaku untuk menanyakan ini kepada Shamus." Jawab Si Dispenser.


Apa? Sejak kapan Caldwel jadi polos begini? Apa gara- gara dia pulang kampung abis itu kena Corona yang membuat otaknya jadi error, ya?


"Siapa, yang menyuruhmu?" Tanya si sialan Shamus.


"Em, salah satu murid perempuan. Sebenarnya pertanyaan ini tidak ingin aku tanyakan sih, tapi, aku cukup penasaran. Jadi, apa kau masih suci?" Tanya Caldwel lagi.


"Tentu saja, memangnya siapa yang bilang kalau aku sudah tidak suci?" Tanya Shamus.

__ADS_1


Mataku langsung terbelalak mendengar pertanyaan itu. Aku kemudian membentuk huruf silang menggunakan tanganku agar Caldwel si dispenser itu tidak membuatku dalam masalah.


"Ya, itu karena ada banyak rumor di sekolah kalau kau sudah tidak suci lagi." Jawab Caldwel.


Caldwel terima kasih, kalau kau adalah Shamus maka sebelum kau membuka mulutmu aku pasti sudah memukul kepala mu terlebih dahulu.


"Huh, siapa pun orang yang mengatakan kalau aku sudah tidak suci lagi aku sumpahi dia bakal jadi istriku besok." Ujar Shamus.


What? Maksudnya aku bakal jadi istrimu gitu? Ogah, aku mending nikah ama Caldwel dari pada nikah sama orang kaya kamu.


"Kalau misalnya dia itu laki- laki, bagaimana?" Tanyaku memancing Shamus.


"Kan aku bilangnya tadi istri bukan suami, berarti dia itu perempuan. Ya kali aku nikah sama laki- laki, jijik!" Ucap Shamus.


Ni anak ternyata lumayan pinter juga main kata- kata. Aku rasa aku menilai keburukannya terlalu berlebihan. Mungkin aku dapat cukup akrab dengannya.


"Tapi jika ada laki- laki yang memaksa untuk menikah. Aku akan memberikannya pada mu saja Shaquil."


"Nggak makasih, aku jijik sama kamu."


Aku tarik kata- kata ku yang tadi, aku nggak bakalan akrab sama si sialan itu! Lagi pula, aku bisa menentukan jodohku sendiri tahu!


Author PO****V


Shaquil melirik ke arah Ryu Ice yang sedang asik memainkan jari dengan imutnya. Senyum merekah di bibir Shaquil, Shaquil mendekat dan duduk bersila sambil menatap Ryu Ice.


"Da pa(Ada apa)?" Tanya Ryu Ice.


"Au, eapa amu eatap ku(Lalu, kenapa kamu menatap ku)?"


"Apa aku butuh sebuah alasan untuk mencintai seseorang? Tidak kan, kalau begitu untuk apa aku membuat alasan hanya untuk melihat mu bahagia?"


"Wahahaha, dasar playboy! Anak kecil saja tidak lolos dari gombalan mu itu?" Tanya Shamus tiba- tiba mendekat.


"Pergi sana." Ucap Shaquil dingin.


"Kalau di pikir- pikir, Ryu Ice tambah cantik, ya." Ujar Caldwel.


"Yap, diakan calon pengantin ku!" Sahut Shamus.


Whing, aura seram pun mengelilingi Shamus dan membuat bulu kuduknya berdiri. Siapa lagi kalau dia bukan Shaquil yang sedang menatap tajam ke arah Shamus.


"Apa kau bilang tadi?"


Kata- kata Shaquil memang cukup lirih, tapi percayalah, aura yang dia pancarkan amat menakutkan sampai singa sang raja hutan pun berlari ketakutan!


"Gila, ni anak serem banget!" Batin Shamus menelan salivanya susah payah.


"A, aku tidak bilang apa- apa, kok. Hahaha." Ujar Shamus tertawa hambar.


"Aka, pa ia waas(Kakak, apa dia waras)?" Tanya Ryu Ice.

__ADS_1


Maklum, anak kecil belum bisa bilang 'r'. Jadi ya agak celat- celat gitu ngomongnya. Shaquil menunjukan smirk dan menatap ke arah Shamus yang masih sedikit ketakutan.


"Tentu saja, dia itu sudah tidak waras!" Ujar Shaquil.


"Apa?!" Teriak Shamus.


Aura ketakutan itu berubah menjadi aura kemarahan dalam sekejap. Shamus tiba- tiba berdiri dengan wajah memanas karena amarah.


Shaquil hanya diam dan menampilkan senyum nakal nan mengejek. Caldwel? Ya, dia dari dulu hanya menonton acara rutin itu saja dengan tenang sama seperti Ryu Ice.


"Kenapa? Kau kan memang tidak waras." Ujar Shaquil.


"Kau ini benar- benar, ya! Ayo kita selesaikan ini dengan pertandingan basket satu lawan satu!" Ajak Shamus.


"Siapa takut?"


"Ha, ka mumus aan enyealiya(Ha, kak Shamus akan menyesalinya)."


Di lapangan basket dekat kuburan penjahat, malam- malam lagi. Shamus dan Shaquil bersiap memulai pertandingan malam hari itu. Di saksikan banyak orang, terlebih para perempuan.


Sedangkan Ryu Ice di gendong oleh Caldwel di kursi tengah paling depan sendiri. Ryu Ice dengan tenang meminum susunya dan Caldwel menikmati cemilan malamnya.


Sebenarnya pertandingan itu tidak boleh di lakukan, sih. Tapi karena Shaquil adalah murid guru legendaris Bu Miya dari mobile legend. Jadi Shaquil di perbolehkan melakukan apapun yang dia suka.


"Lebih baik kau menyerah sekarang kalau tidak ingin menanggung rasa malu, Shaquil."


"Heh, kenapa kau mengatakan itu kepada, ku? Kenapa kau tidak menanyakannya kepada dirimu sendiri, ha, Shamus payah!"


"Grrr, awas kau Shaquil."


Ryu Ice satu- satunya bayi yang menonton pertandingan itu hanya memperlihatkan ekspresi datar sambil terus meminum susunya. Lalu para murid putri malah sibuk mendukung pria kesukaan mereka masing- masing.


"Ha, eapa eeka epeti aak ecil(Kenapa mereka seperti anak kecil)?"


Seorang wanita cantik berjalan ke tengah lapangan sambil membawa bola basket. Ia juga membawa peluit, ia melirik ke arah Shamus dan Shaquil secara bergantian. Karena kalau bersamaan kan bikin ngeri.


"Kalian siap?" Tanya wanita itu.


"Kapanpun dan di manapun, aku pasti akan selalu siap. Melamarmu pun aku juga siap, kok." Ujar Shaquil memainkan mata nakal.


Blush, wajah wanita itu seketika memerah. Ia memalingkan wajahnya lantaran malu karena terkena gombalan Shaquil yang berjalan super mulus padanya.


Wanita itu berdekhem dan menatap ke depan dengan raut wajah masih malu. Lalu nasib para penonton? Ya, mereka menggigit sapu tangan dan berhalu kalau mereka adalah si perempuan itu.


"Baiklah, satu, dua, tiga!"


Wanita itu melambungkan bola ke atas tentunya menuju langit- langit malam, untung nggak hujan. Shamus dan Shaquil dengan sigap langsung berlari dan berusaha menangkap bola itu layaknya orang pro.


Kenapa begitu? Karena gerakan, cara permainan tangan dan tipu muslihat dalam permainan itu terlihat sangat hebat dan bukan trik permainan bola basket biasa.


BERSAMBUNG~

__ADS_1


__ADS_2