Magician Knight

Magician Knight
Menginap di asrama


__ADS_3

Setelah selesai menyantap makanannya, Rosean pun pamit kepada Shaquil dan bergegas pulang. Sepanjang perjalanan, jantung Rosean terus berdegup kencang, deg, deg, deg.


"Hei, jantung, jangan meledak dulu dong!" Ujar Rosean terus berusaha menenangkan dirinya sendiri.


Keesokan harinya, di sekolah Knight Shaquil masih berkeliling istana. Ia tidak sengaja bertemu lagi dengan Rea, walau Reanya yang sengaja.


"Hai, Shaquil, kita bertemu lagi."


"Oh, Rea, ada apa kau ke sini? Sendirian? Biasanya kau bersama gadis- gadis itu?"


"Haha itu," Rea memalingkan wajah.


"Bagaimana aku mengatakan kalau aku menyuruh mereka tidak mengikutiku karena aku hanya ingin berduaan saja denganmu?" Batin Rea.


"Woi, Shaquil."


Suara teriakan yang terdengar familiar, ya, dia adalah Shamus. Wajah geram menghiasi muka Rea yang bersusah payah berduaan saja dengan Shaquil sedari tadi.


Shamus yang merasakan aura tidak mengenakan menatap ke arah Rea dengan senyum jahil. Shaquil tidak merasakan aura itu saking cueknya.


"Hei, Shaquil, ngomong- ngomong siapa gadis di sebelah mu itu?"


Shamus menunjuk ke arah Rea yang terbakar api amarah. Sedetik kemudian Rea tersenyum paksa karena Shaquil ikut menatap ke arahnya.


"Oh, dia adalah sahabat perempuanku satu satunya di sini. Namanya Rea."


Jleb, panah cupid menusuk hati Rea dan membuat hatinya berdegup kencang sampai pipinya merona di buat Shaquil.


Rea kemudian membalikkan badan sambil menyentuh pipinya yang semakin panas. Degupan jantungnya bertambah cepat.


"Apa dia bilang tadi? Sa, sahabat perempuan satu- satunya di sini?" Batin Rea mulai gugup.


"Oh, gitu, ngomong- ngomong aku tidak sengaja ngeliat kamu jalan bareng cewek yang cukup cantik kemarin. Kalau dia siapa? Pacaramu?"


Perkataan Shamus membuat Rea tersadar akan perkataan Shaquil tadi, 'satu- satunya sahabat perempuannya di sini.' Berarti belum termasuk sahabat perempuan yang di luar sekolah.


Kretek, hati Rea mulai hancur sedikit demi sedikit. Dengan cepat ia berbalik dengan tatapan yang terlihat agak sayu.


"Ce, cewek cantik?" Kata- kata Rea mulai terbata- bata dengan tangan mengepal kuat.


"Dia hanya temanku, kemarin dia membantuku, jadi sebagai balas budi. Aku mengajaknya ke toko milik ayahku."


Rea mulai bernapas lega, tapi Shamus malah mendengus sebal karena gagal memancing amarah Rea. Shamus menatap ke arah Shaquil yang dari tadi agak jarang bicara.


"Apa benar dia temanmu?"


Buagh, satu hantaman tangan meluncur ke arah kepala Shamus. Pelakunya tidak lain adalah Rea yang dari tadi menahan ingin memukul Shamus karena ada Shaquil sang pujaan hatinya.


"Aw, sakit!" Shamus menggerang kesakitan.


"Makanya jangan membuat aku marah, Shamus k*p*r*t!"


Shaquil tersentak mendengar cacian Rea, Shaquil memegang pundak Rea. Rea membalikkan badan seraya mengangkat salah satu alisnya.


"Jangan berkata kasar, seorang gadis harus menjaga keanggunannya."


Rea terkejut bukan main, sepertinya dia sudah mulai di cap buruk oleh Shaquil. Hal itu membuat Rea ketakutan dan mulai menjadi gugup.


"A, aku, bukan itu maksudku, aku, aku hanya kesal jadi-"


"Tidak apa- apa, lain kali jangan di ulangi lagi ya?" Ujar Shaquil dengan senyum manis.

__ADS_1


Shamus tiba- tiba kembali memeluk pundak Shaquil. Shaquil melirik ke arah Shamus, ia tahu Shamus pasti merencanakan sesuatu.


"Kau memang malaikat ku Shaquil." Ujar Shamus dengan senyum mengejek.


"Uh, kau ini benar- benar minta di habisi." Ujar Rea.


"Shamus, berhenti membuat kekacauan." Ujar Shaquil dengan tatapan datar.


"Iya." Ucap Shamus.


Ting, tong, ting, tong, bel masuk berbunyi dan mereka segera berlari menuju kelas. Dengan napas sedikit terengah- engah, mereka duduk di meja mereka masing- masing.


"Anak- anak, saya punya pemberitahuan, mulai hari ini, kalian akan menginap di asrama kalian mengerti?"


Ada yang bahagia dan ada juga yang sedih, jika Shamus dan Rea ikut bagian senang, sementara Shaquil ikut yang sedih.


Penyebabnya adalah, karena ayah angkatnya pasti akan mencegahnya dan menangis terisak- isak sepanjang malam.


Sekolah Witch dan sekolah Knight memiliki kepala sekolah yang sama. Jadi dapat di bilang sekolahnya itu di gabungkan walau beda pelajaran.


Para murid penyihir dan kesatria pun di tempatkan di kamar yang sama. Yang membedakan tentu saja jenis kelaminnya.


Setiap kamar di isi 3 orang dengan tentu saja 3 kasur dan 3 lemari.


Ruangannya juga cukup luas, sebelum pulang, anak- anak di beri kunci kamar dan melihat kamar mereka masing- masing terlebih dahulu. Gunanya agar saat mereka pindah mereka tidak kebingungan lagi letak kamar mereka.


Teman sekamar Shaquil adalah Shamus dengan satu orang lagi yang bernama kalau tidak salah, namanya Caldwel.


.


.


.


.


.


Sesampainya di rumah, Shaquil mengatakan kalau dirinya akan pindah ke asrama. Sesuai dugaan, ayah Nik menolak dengan keras, bukan hanya ayah, tapi Rian juga!


Anehnya, kenapa mereka sekarang menjadi satu sependapat dan kompak seperti ini? Biasanya nggak pernah.


"Kau tidak boleh pergi, apa rumahku jelek? Kalau begitu aku akan memperindahnya!" Ujar ayah sambil memegangi kakiku.


"Benar, jika kau tetap di sini, aku akan menjadi pribadi yang baik aku janji deh!"


"Huwa, Adriana!" Ujar kedua orang itu memeluk ku.


"Ayah, jangan jadi cengeng begini. Berjanjilah kalau ayah akan bersikap baik saat aku pergi." Ujarku menepuk jidat.


Mata ayah masih berlinang air mata, entah kenapa aku juga tidak tega meninggalkan mereka.


Lalu, kenapa aku malah seperti anak durhaka sih?


Ayah menarik lengan bajuku dengan mata berbinar- binar seperti seekor anak anjing yang akan di tinggalkan pemiliknya seorang diri.


Toh, di sini masih ada Rian, kenapa ayah harus bersedih sih?


"Adriana, apa kau tega meninggalkan ayah?"


"Benar, apa kau tidak akan merindukan ku yang tampan ini?" Tanya Rian.

__ADS_1


"Menyingkirlah, dasar kepedean!" Ujar Ayah Nik.


"Kau masih punya waktu berdebat denganku saat Adriana akan pergi?"


Aku menepuk jidat menghela napas berat, mata ayah masih seperti seekor anak anjing. Lalu sebuah ide terpikir di benak ku.


"Bagaimana kalau kali ini aku tidur bersama ayah? Sebagai salam perpisahan."


"Jangan bilang begitu, ini bukan sebuah perpisahan, ingat!"


Tangisan ayah malah semakin menjadi- jadi. Akhirnya, aku beneran tidur sama ayah, benar- benar hari yang melelahkan. Tapi, kesedihan yang sebenarnya akan di mulai besok.


Keesokan harinya, adalah hari terakhir bekerja. Walaupun aku pasti kembali di saat libur sekolah, tapi aku pasti akan merindukan tempat ini, sangat.


Tentu saja, ayah masih tidak membiarkanku pergi begitu saja. Drama kepergianku pun terulang lagi, bedanya, kali ini orangnya lebih banyak!


"Sialan! Apa yang di lakukan babang- babang pekerja itu di pagi hari seperti ini? Ini hari libur bodoh!" Batin Shaquil kesal.


"Ayah, apa- apaan semua ini?" Tanyaku yang sedari tadi hanya bisa menghela napas.


Ayah hanya terdiam dan itu membuat hatiku tersayat. Aku tidak percaya, sekarang aku sudah menghancurkan hati orang yang paling baik kepadaku itu.


"Ayah, aku minta ma-"


"Kembalilah,"


Ha?


"Kembalilah saat kau senggang, terus kasih kabar, dan, hiks, jangan lupakan ayah ya?"


Air mata meluncur deras dari wajah ayah kesayanganku itu. Dia terus saja menyeka air mata itu dan berusaha tetap tegar.


"Ayah,"


Tanpa aku sadari juga, ternyata air mataku juga ikut jatuh di keheningan itu. Ini baru pukul 04:24 dan masih banyak waktu sebelum masuk sekolah.


Aku tidak ingin pergi, aku ingin tetap di sini bersama ayah. Aku, aku minta maaf ayah, air mataku terus jatuh melewati pipi dan bibir lembutku.


"Pergilah, Shaquil, kejarlah impianmu itu."


"Ayah, aku benar- benar minta-"


Tangan ayah menutup mulutku dengan air mata yang masih mengalir. Ayah menggelengkan kepala memalingkan wajah lalu menyeka air mataku.


Aku masih ingin di sana, aku, karena terlalu sedih, aku tidak sadar kalau sekarang aku mendekap ke pelukan ayah seperti seorang anak kecil.


Air mataku keluar lebih deras dari sebelumnya, ayah membalas pelukanku dengan hangat dan ikut meneteskan air mata.


Puas menangis, aku menatap ayah dengan sedikit terisak. Rian hanya memalingkan wajah saja tidak ingin memperlihatkan kesedihannya.


"Ayah, aku pasti akan kembali, aku janji." Ujar ku sedikit terbata- bata.


"Ya, kau harus kembali, harus."


"Sampai jumpa ayah."


Senyum itu, senyum terakhir yang aku tinggalkan untuk ayah. Kereta yang akan mengantarku pun sudah tiba, aku segera naik dan terus melambai ke arah ayah.


"Ayah, aku pasti, akan kembali." Gumam ku pelan.


BERSAMBUNG~

__ADS_1


Maaf kalau nggak dapat feelnya hiks😢Huwa😭Kalau itu aku, aku pasti nggak akan pernah mau pergi hiks😢, Oke author gaje lewati aja😅😭


__ADS_2