
Duar, ledakan muncul dari belakang dan membuat Adriana hampir tersungkur ke tanah. Sudah jelas siapa pelakunya, Leanna dan ibunya yang suka sekali bermain sembunyi- sembunyi.
Adriana berbalik berusaha mencari para cicak bunglon itu. Duar, duar, serangan para cicak bunglon itu semakin menjadi- jadi saat berhasil mengelabui Adriana.
"Dasar cicak bunglon keterlaluan!" Batin Adriana.
Adriana memejamkan mata, gerakannya sekarang menjadi lebih slow. Ia menggunakan Indra pendengarannya, mencari bunyi kepakan sayap cicak bunglon itu.
Adriana kembali mengubah crescent moon menjadi death rifle. Ia membuat langkah seperti ingin menembak sesuatu yang berada di atasnya.
Adriana membelalakkan mata secara tiba- tiba, "Ketemu!" Batin Adriana.
"Color full bullets!"
Color full bullets adalah jurus untuk menandai mangsa yang akan ia tangkap. Siapapun yang terkena serangan itu, akan tertandai dengan sendirinya.
Sang mangsa tidak akan tahu kalau dia telah tertandai, tapi si penanda akan dapat melihat di mana keberadaan mangsanya.
"Death bullets!"
Leanna berbalik badan dan berhasil menghindari serangan maut yang di buat Adriana. Adriana berdecak sebal dan Leanna hanya tersenyum remeh.
"Heh, kau memang kuat, aku akui itu. Tapi kau tidak bisa menangkap kami jika kau tidak bisa terbang." Ujar.
Adriana berdecih, kemudian tiba- tiba sebuah cahaya yang terasa sangat dingin melewatinya. Cahaya berwarna biru itu bersinar dan mengubah Adriana.
Duar, wush, wush, angin bertiup amat kencang. Leanna membelalakkan mata terkejut, bagaimana ia tidak terjekejut coba?
Adriana kembali terlihat setelah ledakan cahaya yang menyilaukan mata itu. Tidak ada yang berubah dari dirinya, kecuali, soal ada delapan buah sayap biru bercampur putih di belakangnya.
"Heh, kalau begini, aku bisa membunuh mu, kan?"
"Cih, kau benar- benar sangat menyebalkan!" Ujar Ibu Leanna.
Adriana mengepakkan sayap yang di sebutnya sayap Malaikat itu. Leanna dan ibunya berniat meninggalkan tempat itu berusaha untuk menyelamatkan diri mereka selagi sempat.
Terlambat, dengan banyaknya dan cepatnya sayap baru Adriana itu. Lari darinya bagaiakan hal yang amat sangat mustahil.
"Kali ini, aku memaafkan kalian dan akan aku biarkan roh kalian bereinkarnasi. Tentu saja Leanna dan ibunya amat sangat terkejut.
__ADS_1
"Flutter of wings Angel!"
Flutter of wings Angel adalah jurus kepakan sayap yang akan menghantarkan orang yang masih hidup pergi ke roda reinkarnasi untuk di adili dan di beri kesempatan untuk memperbaiki diri.
"Tidak, tidak! Aku masih belum ingin tiada! Tidak!" Teriak Leanna dan ibunya.
Sayang sekali, Leanna dan ibunya terlebih dahulu masuk ke dalam portal yang di buat oleh sayap bidadari Adriana. Selesai, akhirnya pertarungan mereka bertiga selesai.
Adriana membeku di tempatnya, ia menutup matanya dengan menggunakan tangan sambil tertawa kecil.
"Hahaha, akhirnya, sekarang aku harus bagaimana?"
Adriana turun ke bawah dan mendaratkan kakinya. Wajahnya tampak sangat murung dan sedih. Tatapan matanya sangat hampa, ia tidak memiliki siapapun sekarang. Semuanya, sudah pergi, dan tidak akan mungkin kembali.
"Hyuga, kau bilang kau akan kembali setelah aku membunuh mereka berdua, kan? Aku tahu kau berbohong..."
Mulut Adriana serasa terkunci, air mata menggantikan perkataannya sekarang. Semuanya pasti tahu, di saat mulut tak mampu lagi berbicara, maka air matalah yang akan menjelaskan.
"Aku tahu kau berbohong agar, hiks, agar aku tidak khawatir tapi, hiks. Apa kau tahu, hiks, perpisahan tanpa perkataan itu, hiks, sangat menyakitkan? Hiks, apakah aku, hiks, tidak akan bahagia?"
Sekarang Adriana menangis layaknya anak kecil yang permennya diambil. Ia terus- menerus mengusap air matanya itu dan berusaha bersikap tegar.
Tapi apa boleh buat, air mata Adriana tidak berhenti mengalir membasahi pipinya. Baju lengan Adriana pun sekarang telah basah.
"Apa, apa yang terjadi?"
Wush, di depan Adriana sekarang ada seseorang berambut putih. Ia bukan Ryu Ice, tapi ia terlihat sangat kharismatik dan kuat.
"Apa kau seorang Dewi juga?" Tanya Adriana.
"Ya, lebih tepatnya aku dewinya para dewi."
"Siapa namamu?"
"Namaku Catherine, kau Adriana bukan?"
"Kenapa jadi banyak sekali, sih, orang yang tahu nama ku tanpa aku beritahukan?"
__ADS_1
Catherine terkekeh geli saat mendengar gerutu Adriana yang sepertinya sedang bete itu. Adriana malah menatap Catherine heran dan kebingungan. Bukan karena Catherine tertawa, tapi ada satu hal lain yang mengganjal pikiran Adriana.
"Hei, Chaterine, apa jika aku menjadi dewinya para dewi itu bisa membuatku memiliki kekuatan untuk menghidupkan orang- orang?"
Catherine tersentak, ia hanya membalas pertanyaan Adriana itu dengan senyum. Adriana masih menunggu jawaban Catherine soal pertanyaannya itu.
"Yah, itu mungkin bisa di lakukan. Tapi, tentu da proses yang sangat panjang tentunya."
"Lalu, bagaimana caramu melakukannya, Catherine?"
"Yah, mungkin ini akan menjadi cerita yang sangat panjang."
"Tidak masalah, aku akan mendengarkan ceritamu itu."
Catherine tersenyum manis, ia menatap langit-langit mengingat segala kejadian beribu tahun yang lalu.
"Dulu..."
Dulu, Catherine memiliki masa lalu yang hampir mirip dengan Adriana. Tapi agak berbeda sedikit dari kisah yang di alami Adriana. Catherine dulu adalah putri seorang bangsawan di daerah timur.
Keluarga Catherine adalah keluarga kesatria, tapi sayangnya keluarganya tidak memiliki satupun anak laki- laki. Jadi setiap ada perang, selalu saja ada seorang putri yang di kirim.
Catherine adalah anak ke 2 dari 5 bersaudara. Ayah dan ibunya selalu saja bertengkar tentang memiliki seorang penerus laki- laki.
Memang kenapa kalau penerusnya laki- laki? Apakah itu adalah sebuah keharusan yang mutlak?
Catherine selalu memikirkan hal itu berulang kali. Sampai akhirnya seluruh keluarganya di bantai oleh seseorang. Kebencian muncul di mata indah Catherine. Ia sangat benci, tragedi itu terjadi karena ulah kedua orang tuanya.
Orang tuanya menghalalkan segala cara untuk memiliki anak laki- laki. Bahkan sampai tak segan untuk menumbalkan anak perempuannya sendiri. Di keluarga itu hanya tersisa Catherine saja karena dia memiliki kekuatan yang besar.
Karena kekuatannya itu, ia terhindar dari bencana yang menimpa keluarganya. Muak diperlakukan layaknya hewan oleh anak laki- laki yang akhirnya di dapatkan keluarganya itu.
Tanpa di suruh pun, Catherine pergi ke Medan perang dan menjadi kesatria perempuan terkeuat sebelum Adriana. Suatu hari Catherine pernah di tantang untuk menaklukan seorang monster.
Kalau penasaran monsternya kaya apa klik aja profilku. Ia menyetujuinya dan malah terperangkap di perut Monster itu sekitar satu jam. Sampi oksigennya habis dan ia mulai berhalusinasi.
Berhalusinasi ada seorang bidadari bersayap yang sedang berayun menggunakan ayunan di dalam perut Monster itu. Bagi dia pun itu pasti akan sangat mustahil bahkan termasuk Catherine sekalipun.
Sampai bidadari itu berbicara, cara bicaranya amat sangat lembut. Membuat Catherine tersihir oleh tatapan mata dan cara bicaranya.
__ADS_1
"Anak manis, mati seperti ini terlalu kotor untuk mu. Karena penderitaan yang sudah kau alami maka aku akan memberikan mu sebuah hadiah kecil."
BERSAMBUNG~