
Author pov
Di sisi Shaquil, masih menghadapi konflik di pelajaran pagi itu. Untung guru datang tepat waktu lalu membubarkan kerumunan saat itu.
Kami pun memutuskan bertemu di taman untuk membicarakan kejadian tadi. Hanya Shamus, Shaquil, dan Rea di tempat itu.
"Apa? Jadi kalian hanya bermain drama saja?" Tanya Shamus terkejut.
"Iya." Jawab Rea menahan amarah.
"Kenapa? Kenapa harus main drama doang sih? Kenapa nggak bisa beneran aja sih?! Author, kau jahat sekali sudah menipuku!" Batin Shamus sambil menggigit sapu tangan.
*Nggak ada hubungannya sama gw!😒 Udah lanjut aja skip😎*
Shaquil dan Rea hanya diam di tempat melihat tingkah lebay sahabatnya itu. Shamus segera menyeka air mata kecewa itu dan menghela napas berat.
"Jadi, kau mau melanjutkan drama sebagai Suami Istri ini sampai kapan?"
Buagh, Rea memukul kepala Shamus setelah mendengar kata Suami Istri dari mulut ember bocor Shamus yang tidak pernah ia tambal.
"Aduh, kamu galak banget sih!" Hardik Shamus terus mengusap kepala yang kini mulai benjol itu.
"Hump!" Rea memalingkan wajah meronanya.
Shaquil menepuk jidat mulai pusing, rencananya setelah itu dia mau ke UKS karena hal ini. Tapi kalau di pikir- pikir lagi nanti malah dianggap lebay lagi.
"Shaquil!" Suara teriakan anak gadis berambut ungu muda dengan pakaian seputih salju.
Mereka semua pun menengok ke gadis yang sedang berlari itu dengan wajah kesal yang terlihat imut. Gadis itu lalu memcengkram kerah Shaquil amat erat.
"Apa benar, kau dan Rea, berpacaran?!" Tanya gadis itu.
"Lynelle, apa maksudmu?" Tanya Shaquil dengan mada bicara lembut.
Tatapan gadis itu semakin lama semakin mengerikan. Aura yang ia keluarkan pun sangat kuat, seperti, seorang psikopat!
"Tidak! Kami tidak berpacaran!" Ujar Rea menggenggam baju kesatrianya dengan erat.
"Benarkah?" Tanya Lynelle menatap Rea dengan nada bicara amat di tekan.
"Memangnya ada apa? Kau cemburu ya gadis kecil?" Shamus mendemat ke arah gadis itu tanpa rasa takut.
Lynelle mulai melepaskan cengkramannya dan beralih mencengkram kerah Shamus yang ada di belakangnya.
"Apa kau, ingin pergi ke neraka?" Tanya Lynelle dengan wajah mengerikan.
Shamus seketika menciut saat gadis itu mengeluarkan sebuah pedang yang entah ia dapat dari mana:v
"Lynelle, sebenarnya ada apa?" Tanya Shaquil masih bingung 7 keliling.
__ADS_1
"Gara- gara kau, Rosean menangis tahu!" Teriak Lynelle.
Ha?
Waktu seketika berhenti, mereka masih bingung dengan sikap Lynelle. Sampai kakaknya yang hangat dingin kaya dispenser itupun datang.
"Lynelle, kau di sini?" Tanya Caldwel menyeka keringatnya.
"Em, Caldwel, aku ingin bertanya sebentar pada adikmu boleh?" Caldwel mengangguk.
"Ada apa? Kenapa Rosean mengis dan apa hubungannya dengan kami, Lynelle?" Tanya Shaquil dengan amat lembut.
"Rosean, dia menyukaimu, tapi kau malah jatuh cinta pada Rea! Sebab itulah dia sedih!"
Rea pov
Apa?
Rosean menyukai Shaquil?
Kalau benar Rosean jatuh hati pada Shaquil, artinya lawanku untuk mendapatkan Shaquil tambah banyak! Belum lagi gadis- gadis menyebalkan itu.
Apa yang harus aku lakukan?
Benar, masih ada drama ini, sebisa mungkin aku harus mendapatkan hati Shaquil terlebih dahulu sebelum drama ini berakhir.
Shaquil, apa yang dia suka ya?
"Baiklah, kalau begitu, aku akan menemui Rosean sekarang. Lynelle, Rosean ada di mana?" Tanya Shaquil.
Apa?
"Dia sedang duduk di pinggir air mancur." Jawab Lynelle.
Rosean, kau membuatku muak! Beraninya kau membuat Shaquil pergi dariku. Aku tidak akan memaafkanmu!
Author POV
Shaquil pun berlari ke tempat yang di beritahukan oleh Lynelle tadi. Sesampainya di sana, Shaquil melihat mata Rosean yang terlihat sangat sayu.
"Rosean!" Shaquil berteriak memanggil Rosean.
Rosean pun berbalik dan terkejut saat tahu kalau orang yang memanggilnya adalah Shaquil. Ia kemudian berlari dan aksi kejar- kejaran pun di mulai. Untung sekolah besar.
"Rosean, ku mohon berhenti sekarang!"
Seperti tidak mendengar apapun, Rosean terus berlari dan berlari. Shaquil pun semakin melebarkan langkahnya dan mempercepat lajunya.
"Kenapa kau terus berlari? Aku ini bukan panci gosong yang akan membuat mukamu kotor!"
__ADS_1
"Diamlah, dan berhentilah mengejarku!"
Shaquil pun menarik tangan Rosean dan membuatnya berbalik dan menatap wajah Shaquil. Wajah Rosean kian merona dan berusaha membebaskan diri dari jeratan Shaquil.
"Hei, kau ini kenapa menghindariku? Perlu kau tahu ya, aku dan Rea tidak berpacaran! Itu hanya sebuah drama saja!"
Shaquil mencengkram lengan Rea dengan kuat, Rosean mendengar perkataan Shaquil itu dan buliran air mata jatuh membasahi pipinya.
"Apa, itu benar? Kau tidak berbohongkan? Hiks."
"Tidak, itu benar, Rosean, ku mohon jangan menangis ya?"
Shaquil menarik Rosean ke dalam pelukannya, tangisan Rosena makin deras dan membasahi seragam kesatria Shaquil. Tapi Shaquil tidak mempedulikannya sama sekali.
"Kau, hiks, kau melakukan dua pelajaran, hiks, menjadi penyihir dan kesatria kan? Hiks."
"Iya, sebab itulah aku bisa berteman dengan Rosean. Apa kau marah?"
"Tidak aku tidak memiliki hak untuk marah."
"Tidak, kau punya hak, kau memilikinya, dan aku minta maaf."
Rosean menggeleng, "Tidak, harusnya aku yang minta maaf, aku pergi tanpa bertanya dulu padamu. Aku mohon maafkan aku." Ujar Rosean.
"Tidak papa, lain kali jangan seperti itu, ya."
Shaquil mengusap kepala Rosean, itu terlihat sangat mesra. Tanpa mereka sadari, sekarang giliran Rea yang cemburu melihat hal itu. Inikah yang di namakan karma?
"Apakah aku salah? Apakah aku salah kalau jika berharap dapat mendapatkan kasih sayang dan perhatian mu? Padahal, aku hanya ingin merasakannya saja. Maafkan aku kalau aku bertindak egois, Rosean. Tapi aku juga ingin di cintai oleh orang yang sama." Batin Rea.
Malam harinya di asrama laki- laki, Shaquil sedang mendengarkan musik melalui headset nya. Sementara Caldwel sedamg mandi, dan Shamus, dia sedang pergi.
Kriet, Caldwel menyuguhkan pemandangan yang tidak biasa. Ia keluar dengan bagian atas tanpa busana dan handuk kecil melilit pinggangnya. Untungnya Shaquil tidak terkejut dan justru malah tenang- tenang saja.
"Hei, di mana Shamus?" Tanya Caldwel yang tidak sadar Shamus pergi.
Shaquil menatap Caldwel, "Mencari mangsa, mungkin?"
"Begitu."
Caldwel mengambil bajunya dan, dia berganti pakaian di sana(?!). Shaquil hanya diam dengan tenang. Padahal kalau di pikir dia bisa memanfaatkan kesempatan itu.
Akhirnya Caldwel selesai berganti pakaian, ia kemudian duduk di sebelah Shaquil dengan rambut dan tubuh yang masih basah. Shaquil menatap Caldwel penuh tanda tanya.
"Hei, apa kau tidak masalah dengan para gadis- gadis itu?" Tanya Caldwel.
"Kenapa?"
Shaquil mencopot headset nya dan mendekat ke arah Caldwel dan mengangkat dagunya. Mata Caldwel terbelalak sempurna melihat perilaku sahabatnya.
__ADS_1
"Apa kau, cemburu?"
BERSAMBUNG~