
Author POV
"Sudah selesai belum makannya?" Tanya Caldwel.
"Su-"
"Eh, ada Shaquil dan Caldwel, apa yang kalian lakukan di sini?"
Seseorang mendatangi Shaquil dan Caldwel yang sedang duduk berdua. Ia memiliki rambut putih dan mata berwarna merah muda yang menawan, dia adalah Shamus.
"Shamus, kenapa kau di sini?" Tanya Shaquil.
"Jalan- jalan, kalau kalian aku tebak pasti sedang pacaran kan?"
Grrrr, Shaquil mengepalkan tangan bersiap untuk memukul Shamus sampai pingsan di dan membawanya ke kamar jenazah di neraka.
"Kami tidak pacaran, kami hanya, jalan- jalan saja." Ujar Caldwel.
Caldwel mengatakannya dengan agak malu- malu, dan membuat jawabannya seakan- akan maksudnya adalah sebaliknya.
Shaquil PO****V
Dasar Caldwel sialan, kenapa dia harus mengatakan hal itu dengan wajah malu- malu sih?
Lihatlah, wajah si Shamus toa itu menjadi aneh, kan. Huh, aku tebak dia pasti akan membuat sebuah kehebohan nanti. Dia pikir ini serial india Dhoom apa?
Dhoom me chale dhoom me chale gitu?
"Benarkah? Aku rasa bukan seperti itu, tuh."
Tuh kan, tuh kan, wajah si toa memyebalkan itu mulai beraksi. Dia seperti seorang wanita saja, menutupi mulutnya dengan satu tangan dan menunjukan sorot mata yang membuatku geram.
"Hei, kau masih ingin berbicara lagi? Kalau iya, aku jamin akhirmu adalah liang lahat." Ujar ku dengan sorot mata menyeramkan.
Snap, akhirnya mulut si toa itu bungkam juga, awas saja nanti kalau dia berani buka mulut lagi. Tapi, Caldwel kenapa diam saja, ya?
Tunggu, jangan bilang ini bukan jalan- jalan melainkan, sebuah kencan?!
"Eh, kalian juga ikut meramaikan festival ini, ya?"
Seseorang kembali datang, tapi untungnya, kedatangan orang itu membuat hatiku lega, dia adalah samg bidadari Rosean!
"Rosean, kau juga ikut festival ini, ya?" Tanya Shamus.
"Kenapa pertanyaan di balas pertanyaan?" Tanya Rosean.
"Eh, eh, haha, maaf, kalau aku karena tidak betah di rumah." Ujar Shamus.
"Kalau aku hanya ingin meringankan beban pikiran." Ujar ku.
"Lalu, bagaimana denganmu, Caldwel?" Tanya Rosean.
"Aku hanya merasa bosan saja." Jawab Caldwel.
"Baiklah, karena hal itu, ayo pergi ke tong setan!" Ajak Shamus.
"Setuju!" Ucap ku bersemangat.
__ADS_1
Kami pun pergi ke tong setan dan melihat ada Rea di sana, apa ini sebuah keberuntungan ataukah malapetaka, ya?
"Rea!" Panggil ku cukup lantang.
Rea pun menoleh ke arahku dengan senyum agak pahit. Dia melambaikan tangan ke arahku setelah itu pergi begitu saja.
Dia mau kemana, ya?
Brum, brum, brum, suara motor dinyalakan, sepertinya pertunjukannya akan segera di mulai. Aku pun melihat pertunjukan itu dengan perasaan mengganjal di hatiku.
Brum, brum, para pemotor itu berputar- putar di tong setan dan semakin lama semakin cepat dan riuh penonton semakin kuat terdengar.
Acara selesai dan saatnya melihat wajah para pemotor yang sangat berani itu. Sret, yang benar saja, salah satu pemotor itu adalah perempuan, terlebih lagi itu adalah Rea?!
"Tunggu, itu Rea, kan?"
Aku menunjuk ke bawah sana, dan benar saja, itu memang adalah Rea. Semua orang termasuk aku pun ikut terkejut bukan main.
"Bagaimana mungkin? Rosean ikut bermain tong setan?" Tanya Shamus.
"Sebagai perempuan di berani juga." Ujar Caldwel dengan raut wajah biasa.
Berani? Lebih berani aku kali, bisa memainkan hati perempuan dan tidak mendapat karma sedikit pun!
Author POV
Rosean, dan yang lainnya pun turun menemui Rea yang sedang beristirahat. Rea menyambut mereka dengan senyuman. Untungnya itu bukan senyum pahit.
"Sejak kapan kau ikut bermain tong setan?" Tanya Shaquil penasaran.
"Em, saat aku masih remaja, saat mencobanya aku merasa tertantang dan pemilik tong setan ini juga memperbolehkanku ikut." Jawab Rea.
"Terima kasih."
"Hei, mau ikut kami tidak? Kami akan pergi bersenang- senang sebelum ayah Shaquil menjemput, nih." Ujar Shamus.
"Dari mana dia tahu kalau ayahku pasti akan me jemput?" Batin Shaquil.
"Em, baiklah."
Hari itupun berlalu dengan tawa dan senyuman dari ke 6 sahabat yang lumayan akrab itu. Lalu, kepala Shamus juga di pukul beberapa kali oleh Rea karena membuatnya kesal.
Bahkan sekarang benjolan kepalanya itu semakin tinggi, dan sepertinya bisa sampai menyamai menara Eifel di Paris, Perancis.
Mereka pun pulang pukul 16:43, cukup hebat karena ayah Nik tidak mencari mereka. Shaquil pun sampai di toko dengan membawa oleh- oleh dan beragam ide untuk toko mereka.
"Ayah, aku pulang!"
"Selamat datang bos cilik."
"Oh ya, ini semua oleh- oleh untuk kalian. Walaupun kalian tidak bisa ikut festival, tapi aku harap ini bisa mengobati perasaan kecewa kalian." Ujar Shaquil.
"Wah, bos cilik, anda benar- benar sangat baik!"
"Tentu saja dia baik, dia kan adalah anak ku!"
Tiba- tiba Ayah Nik datang entah dari mana dan menepuk pundak Shaquil. Sontak Shaquil langsung senam jantung gara- gara ayahnya itu.
__ADS_1
"Tapi bos, anda kan tidak baik sama sekali." Ujar salah satu pekerja.
"Astaga paman, apa kau belum puas yang membuat nyawamu terancam. Atau jangan- jangan kau memang berharap untuk tiada?" Batin Shaquil.
"Wah, lolucon mu itu lucu sekali."
Ayah Nik mengeluarkan aura yang membuat tubuh siapapun yang melihatnya merinding ketakutan. Tapi hal itu hanya dianggap biasa saja oleh Shaquil.
"Ayah, ada di mana Rian? Aku ingin memberikannya hadiah ini."
"Oh, aku rasa Rian ada di kamarnya."
"Baiklah, terima kasih Ayah!"
Shaquil pun pergi ke kamar Rian yang dulu pernah di tunjukan Ayah Nik walau akhirnya berakhir satu kepalan tangan mendarat di kepala Rian.
"Tumben ayah memperbolehkanku menemui Rian, biasanya kan tidak boleh. Apa dia sudah tobat, ya?" Batin Shaquil.
Rian POV
Sekarang sudah berbulan- bulan aku di sini, dan aku baru dapat menemukanmu, Adriana. Aku tidak tahu apakah kau masih mengingatku atau tidak.
Jika dulu aku gagal melindungimu maka kali ini, aku tidak akan gagal lagi. Karena aku sudah membulatkan tekad untuk melindungimu walau nyawaku taruhannya.
"Ibu, aku akan menepati janjiku, janji untuk melindungi adikku, Adriana."
"Tunggu apa? Aku adiknya kak Rian? Sekarang pertanyaanku terjawab, pantas saja wajah dan namaku mirip dengan kak Rian!" Batin Shaquil.
Adriana, harus kau ketahui, kalau aku sangat, sangat, sangat menyayangimu lebih dari siapapun. Aku menyayangimu.
"Jadi, aku adalah kakak ku, dan kau malah merahasiakannya selama ini?"
Ah, suara itu, itu suara Adriana!
Aku pun menoleh le belakang dan benar saja dugaanku. Itu memang adalah Adriana, dia datang membawa sesuatu dengan sorot mata sayu dan air mata membasahi pipinya.
"A, Adriana, aku tidak bermaksud untuk..."
"Kenapa, kenapa kau tidak memberitahuku, kakak? Apa kakak tahu betapa pahitnya diriku karena tidak pernah merasakan hangatnya kasih sayang keluarga."
Air mata terus jatuh dari dan membuat hatiku amat tersayat. Aku sebenarnya tidak bermaksud menyembunyikan hal ini, aku hanya tidak yakin apa dia akan menerimanya atau tidak.
BERSAMBUNG~
\-Iklan\-
"Thor, jadi alasan kenapa namaku dan Rian sama adalah karena kami saudara?" -Shaquil.
"Yap, memangnya kenapa?" -Author.
"Dasar author nggak peka! Jahat banget sama aku!" -Shaquil.
"Iya, gw minta maaf." -Author.
__ADS_1
"Huwa, author jahat!" -Shaquil.
"..." -Author.