
Author POV
Bola di lambungkan ke atas, Shaquil dan Shamus berlari menuju ke arah bola itu jatuh. Hap, Shaquil mendapatkan bola itu lebih dulu dari pada Shamus.
"Grr, sialan!" Batin Shamus.
Dengan kecepatan bagaikan singa yang mengejar mangsanya. Shamus kini berada di depan Shaquil dan bersiap menghentikan jalannya.
Shaquil melewati Shamus dengan sangat mudah, brak, bola pun masuk dengan mulusnya. Mata Shamus terbelalak, pasalnya ini pertama kalinya ia terdahului dalam mencetak nilai.
"Wah, hebat sekali, dia juga sangat tampan!"
"Ba, bagaimana bisa? Padahal kecepatan Shamus itu secepat singa! Dan dia, dia bisa lebih cepat dari pada Shamus?!"
"Mas, bawa aku ke pelaminan dong!"
"Wah, dia akan masuk ke dalam daftar suami idaman!"
Para penonton menjadi sangat heboh, Shaquil membuat senyum simpul sambil melihat Shamus yang masih syok.
"Ba, bagaimana bisa?" Tanya Shamus.
"Jika kau secepat singa, maka aku akan secepat cheetah." Jawab Shaquil.
"Berarti lu kurus dong! Hahaha!" Ejek Shamus.
Shaquil mengepalkan tangan geram, tangannya benar- benar sangat gatal sekarang. Ingin rasanya ia memukul, tapi kalau di pukul nanti malah di diskualivikasi.
"Tahan, tahan, baby, orang nggak waras, udah biarain aja, biarin aja." Batin Shaquil.
Bola kedua, dengan energi kekesalan yang terus membara bagaikan si jago merah. Shaquil tiba- tiba menjadi sedikit agresif dalam bermain.
Shamus pun menjadi semakin sulit mengimbangi kecepatan cahaya Shaquil.To Shamus: Makanya jangan buat perempuan marah, apa lagi kalau lagi datang bulan. Serem!
"Nj*r, dia kok semakin cepet, sih?" Batin Shamus mulai gelagapan sendiri.
Hap, hap, dan hap, 4 bola dan sekarang poin Shaquil sekitar 10 dan Shamus masih 0 saudara- saudara.
Karena kena azab buat perempuan marah kali, ya?
tik, tik, tik, waktu menunjukan 10 menit lagi pertandingan berakhir. Shamus masih berupaya untuk mengimbangi Shaquil.
Tapi hasilnya nihil, percuma saja, kecepatan Shaquil semakin menambah. Napas Shamus mulai terengah- engah kecapekan.
"Hei, kau tidak bisakah membiarkan ku mencetak satu gol saja, kah?" Tanya Shamus.
"Jangankan satu gol, aku tidak akan membiarkan mu mendapatkan bola ini, biar ******!" Jawab Shaquil dengan ketus.
"Gara- gara kau aku sudah ****** dari tadi tahu!" Batin Shamus.
Tak, tip, tip, tip, waktu habis, Shamus dan Shaquil di beri waktu istirahat dan para penonton di beri waktu untuk mengambil kesempatan mendapatkan foto bersama Shamus or Shaquil.
Kalau di lihat, nggak perlu di hitung lagi, jumlah fans Shaquil lebih banyak dari pada Shamus. Sekitar 2 kalinya, Shaquil duduk di sebelah Caldwel dan menambah kecurigaan orang.
"Em, kak Shaquil, aku bisa minta foto bersama nggak?" Tanya seorang gadis.
__ADS_1
"Ya, baiklah, tapi fotonya nanti setelah selesai bertanding saja boleh tidak, dek?"
Padahal Shaquil itu murid kelas satu.Tapi manggil kakak kelasnya 'dek'. Sungguh adik kelas durhaka Shaquil itu.
"Me, memangnya kenapa?"
"Karena kau terlalu cantik, jadi aku memberikan mu kesempatan agar kau lebih cantik lagi."
"Maksudnya, aku jelek gitu?"
Wajah gadis itu menjadi murung, Shaquil pun hanya tersenyum dan mendekat ke arahnya. Ia mengangkat dagu gadis itu, tentu saja gadis itu terkejut.
Shaquil meraih kepala gadis itu, ia menggerak- gerakan beberapa helai. Sampai akhirnya, ia kemudian kembali menatap gadis yang lumayan polos itu.
"Hahaha, aku menyuruhmu seperti itu, karena ada beberapa helai rambutmu yang terlihat berantakan. Sudah, sekarang kau menjadi lebih cantik, adik manis."
Shaquil mengedipkan mata nakal, senyum merekah di bibirnya lantaran berhasil menggoda gadis polos itu. Sementara Ryu Ice dan Caldwel hanya memasang wajah datar.
"Akak!" Panggil Ryu Ice.
Shaquil melirik, nampak Ryu Ice sedang menggembungkan pipinya, imut. Dari wajah itu, Shaquil tahu kalau Ryu Ice pasti sedang kesal. Shaquil berjalan menuju Ryu Ice dan membungkuk.
"Ya, ada apa?"
"Acar ayoy(Dasar playboy)!"
"Eiy, playboy- playboy gini tapi kamu masih sayang kan sama aku?" Goda Shaquil.
Snap, mulut imut Ryu Ice berhasil bungkam dan membuat Shaquil tertawa gembira. Caldwel hanya menggeleng kepala sambil terkekeh geli melihat tingkah Shaquil yang bucin ke adiknya sendiri.
"Ronde dua akan segera dimulai!" Teriak seseorang dari tengah lapangan.
"Aka an au beading, ukan au eang(Kakak kan mau bertanding, bukan mau perang)."
"Eiy, maksudnya kau tidak mau mendukung ku begitu? Aku sakit hati, loh."
Shaquil membalikkan badan, melipat tangan di dada dengan pipi yang di kembungkan. Ryu Ice hanya tertawa, dan Caldwel, dia tahu kalau Shaquil hanya ingin menarik perhatian Ryu Uce saja.
"Dasar bucin! Hati- hati nanti nyungsep masuk ke hubungan orang lain dan jadi PHO." Batin Caldwel.
"Haha, kaka iut(Haha, kakak imut)!"
"Nggak kebalik tuh?" Tanya Shaquil.
Pertanyaan Shaquil hanya di balas tertawa gemas Ryu Ice. Shaquil segera kembali ke tengah lapangan dengan suasana hati yang mulai membaik.
"Huh, apa pengaruh Ryu Ice kepadanya sebesar itu?" Batin Shamus.
Baiklah, langsung aku skip aja, ya. Jadi, Shaquil yang memenangkan pertandingan. Sejak saat itu, Shaquil mendadak lebih populer dan fans nya itu hampir satu sekolah.
Bayangin aja tuh berapa banyak muridnya kalau sekolahnya sebesar itu. Belum lagi nanti akan bertambah banyak kalau yang ada di luar sekolah juga di hitung.
Pertengkaran Shamus dan Shaquil pun berakhir di situ. Ya, tidak berakhir juga sih, maksudnya yang menunjukan ke publik kalau mereka itu bertengkar sampai di situ.
Sekarang kebanyakan kalau bertengkar mereka berkelahi di kamar. Ya, tak kala nanti kamar menjadi berantakan dan kepala mereka terbentur beberapa kali.
__ADS_1
Namanya juga berkelahi, masa nggak babak belur sekali- kali. Entah nanti pipi atau bibir mereka yang akan berdarah.
Di dalam kamar, tepatnya yang sekarang sudah mulai bertengkar lagi itu dua insan nyebelin. Kalau Caldwel dan Ryu Ice dari dulu memang hanya menjadi penonton saja.
"Huh, sudah aku bilang aku kebih pintar dari mu!" Ujar Shamus.
"Benarkah? Kalau begitu aku tes! Terjemahin ini ke bahasa indonesia. Bisa tidak?!"
"Ayo! Buruan apa?!"
"Hah, pasti kamar ini akan sangat ramai dan berantakan lagi." Batin Caldwel.
Caldwel mendengus napas kasar sambil membayangkan kondisi kamar mereka setelahnya.
Berantakan seperti terkena angin ****** beliung, tsunami, banteng nyeruduk rumah, kuda liar nyasar dan lain sebagainya.
"Back!" Ucap Shaquil.
"Kembali."
"You."
"Kamu."
"Hand."
"Tangan."
"Time."
"Waktu."
"Back you hand time!" (Maksudnya baku hantam).
"Kuy!"
.
.
.
Sepuluh menit kemudian, sesuai perkiraan Caldwel. Kamar mereka benar- benar sangat berantakan, saat itu Ryu Ice sedang tidur dan untungnya ia tidak terbangun.
"Sudah selesai bertengkarnya?"
Caldwel yang semulanya tenang sekarang mulai menampakan cakar dan taringnya bagaikan iblis(Nggak beneran di tampakin cuma deskripsiin betapa seremnya).
Bagaimana tidak?
Setelah ini pasti Shamus dan Shaquil berniat melarikan diri ke suatu tempat agar tidak di duruh bersih- bersih. Jika tidak mereka mungkin akan pura- pura pingsan.
Mereka berdua emang teman nggak ada akhlak!
"Ayo, bantuin aku bersih- bersih~" Ujar Caldwel.
__ADS_1
Shaquil dan Shamus menelan saliva, "******, singa tersembunyi udah bangun!" Batin mereka berdua.
BERSAMBUNG~