
Author POV
Hari Sabtu, tanggal 22-09-1945. Shaquil sekarang berada di kamarnya dan tentu saja dia sedang merawat Ryu Ice. Pluk, pluk, tes, tes, mereka berdua berada di kamar mandi.
"Kaka, ain ai(Kakak main air)!"
"Hei, sudah dong mainnya. Nanti masuk angin, kita ke taman mau nggak? Mumpung cuacanya baru bagus."
"Ya! Atu au(Ya! Aku mau)!"
Ryu Ice menjawab dengan antusias sambil mengangkat tangannya minta di gendong. Shaquil terkekeh geli dan segera meraih tubuh kecil Ryu Ice itu.
Shaquil meletakan Ryu Ice di atas kasur. Ryu Ice diam dengan patuh, Shaquil yang gemas dengan Ryu Ice pun memencet hidung kecilnya itu dengan lembut.
"Diam di sini sebentar, ya."
Ryu Ice mengangguk, tepat saat itu juga terdengar suara langkah kaki dari luar ruangan. Brak, dia membuka pintu cukup kasar, Shaquil melirik, dia adalah si payah Shamus.
"Hai semuanya, merindukan ku tidak?" Tanya Shamus dengan semangat.
"Iak." Jawab Ryu Ice dengan dingin.
"Haha, kasihan, makan tu tamparan kehidupan!" Ujar Shaquil.
"Hiks, kenapa kalian adik kakak pada jahat, sih?" Tanya Shamus membuat air mata buaya.
"Eay(Lebay)."
Jleb, kata- kata dari seorang anak kecil perempuan lagi, benar- benar membuat hati Shamus sakit seperti tertusuk tombak patah hati atau tombak perang kesakitan
Shamus mendekati Ryu Ice yang terbalut handuk yang cukup tipis dan panjang. Dia melipat tangannya di atas kasur dan menaruh kepalanya di atas tangannya.
"Kenapa kau jahat sama seperti kakak mu, sih?" Tanya Shamus membuat air mata buaya lagi.
"Au ayah(Kau payah)."
"Apa? Maksudmu kau mau aku jadi ayah mu gitu? Ok, aku siap!"
Buagh, kepala Shamus terpukul oleh sesuatu yang amat keras. Ia memegang kepala dan menoleh kebelakang. Nampaklah Shaquil dengan wajah dinginnya.
"Tidak perlu ayah, aku sendiri saja bisa menjadi ayah dan ibu Ryu Ice." Ujar Shaquil dengan kalem.
"Huh, kau jahat sekali." Hardik Shamus.
Malam hari jam 20:13, Shamus berada di luar kamarnya. Ia melewati sebuah pohon beringin yang cukup lebat. Ia mendengar sebuah suara nyanyian yang sangat merdu.
"Lumpuhkan lah ingatanku jika itu tentang dia~ Hapuskan memori ku tentangnya~"
"Eh, suara itu terdengar lagi, Merdu sekali. Sepertinya ini suara perempuan, deh. Tapi bisa terdengar lembut kaya gini, sangat indah!" Batin Shamus.
Shaquil kemudian mencari asal suara itu. Ia tidak melihat apapun, ia hanya mendengar suara saja. Bulu kuduk Shamus pun berdiri, badannya gemetar hebat.
"A, aneh, si, siapa yang bernyanyi, ya? Wu, wujudnya saja tidak ada! Ja, jangan- jangan...!"
Dengan susah payah, Shamus menelan salivanya susah payah. Ia menarik napas dengan jatung yang berdetak sangat kencang. Sedetik kemudian, tau lah.
__ADS_1
"AHHHHHH HANTU!" Teriak Shamus sangat keras.
Jika Shamus itu berada di sekitar tempat tinggalku, aku yakin, satu rt bakal bangun semua gara- gara suaranya yang mengalahi orang lomba teriak.
Shamus berlari amat kencang, ia bahkan tertabrak beberapa kali. Entah itu tertabrak pohon, tiang listrik, tembok, bahkan orang yang berjalan pun ia tabrak.
Sesampainya di kamar, Shamus menggebrak tangan amat keras. Bahkan Ryu Ice sampai terbangun dari tidurnya setelah dengan susah payah di tidurkan oleh Caldwel.
Kenapa Caldwel yang menidurkan Ryu Ice?
Karena Caldwel sendiri yang memintanya, beberapa menit lalu. Saat itu Shaquil juga ingin pergi ke suatu tempat dan tentu saja di dalam sekolah.
"Waaa, Caldwel, Caldwel gawat! Ada hantu! Ada hantu!" Teriak Shamus membuat sakit telinga.
Caldwel pun mengepalkan tangan dan memuku Shamus yang sedari tadi mengguncang- guncangkan dirinya sangat kuat.
Buagh, serasa saat ada masalah atau kesal sama seseorang tinggal cari aja Shamus. Pukul kepalanya, di jamin buat anak orang masuk rumah sakit, deh.
"Aduh! Bukannya bertanya kenapa aku histeris. Kau ini kenapa malah memukul ku?!"
Caldwel menoleh dengan tatapan dongin, "Karena kau berisik, dan sekarang aku harus menidurkan Ryu Ice lagi."
"Ma, maaf."
Beberapa menit setelahnya, ceklek, brak, Shaquil kembali dengan wajah lega. Tapi kelegaan itu tidak bertahan lama, tentu setelah Shamus mengacaukannya.
"Shaquil, apa kau tahu? Tadi ada hantu!"
"Lalu?" Tanya Shaquil kalem.
"Ih, kau harus membantuku mengusir hantu itu dari sekolah ini!"
"I, itu tidak akan terjadi." Ucap Shamus mengalihkan pandangan.
Shaquil mendengus kasar, ia kemudian melirik ke arah Ryu Ice yang terlihat amat mengantuk. Matanya berkedip- kedip terus, sepertinya ia habia tidur tadi.
"Apa tadi ada yang membangunkan Ryu Ice dengan cara mengagetkannya?" Tanya Shaquil.
Tak, mulut Shamus seketika terkunci, ia tahu kalau misalnya Shaquil pasti akan mengamuk kalau mengetahui ialah pelakunya.
"Aku tanya sekali lagi, ada, atau tidak?"
Shamus mengangkat tangan dengan tubuh gemetaran. "Habislah nyawamu kali ini Shamus!" Batin Shamus.
"Kenapa kau melakukannya?"
"Karena tadi ada hantu!"
"Hantu? Omong kosong."
"Benar! Tadi aku mendengar suara nyanyian, tapi saat aku selidiki. Tidak ada siapapun di sana!"
Shaquil terdiam, ia kemudian berpikir keras. Memang sekolah mereka itu dekat, bahkan sangat dekat dengan makam penjahat. Tapi memangnya salah satu penjahat itu bisa nyanyi?
"Apa suara itu berasal dari seorang penjahat yang mimpinya menjadi penyanyi tidak tercapai, ya?" Batin Shaquil.
__ADS_1
"Kalau begitu,"
Shaquil dan Caldwel melirik ke arah Shamus. Sepertinya dia ingin mengemukakan sebuah pendapat. Sayangnya, Shaquil dan Caldwel sudah mengecap kalau itu bukan usul yang baik.
"Bagaimana kalau kita menjadi detektif? Seperti film- film gitu."
"Tidak." Jawab Shaquil dan Caldwel kompak.
"Kenapa?"
"Itu membuang- buang waktu. Lagi pula, kalau kita ikut campur, belum tentu ini akan menjadi semakin baik." Ucap Shaquil.
"Yang di katakan Shaquil benar, bagus jika itu berakhir baik. Kalau tidak? Kita pasti akan merugikan banyak orang nantinya." Ujar Caldwel mendunkung Shaquil.
Shamus pun bungkam, yang dikatakan Shaquil dan Caldwel memang tidak salah. Tapi bukankah akan bagus kalau kita menyelesaikannya saat itu juga?
"Aku tahu soal itu, tapi jika suara itu hilang, maka semua orang pasti akan merasa lebih nyaman, kan?"
"Memangnya suara apa yang kau dengar?" Tanya Shaquil.
"Benar, suara seperti apa yang kau dengar?" Sahut Caldwel.
Shamus terdiam, dia mencoba mengingat- ingat. Shaquil dan Caldwel saling bertatapan seraya menunggu jawaban dari Shamus menyebalkan itu.
"Suara yang ia hasilkan, suara yang lembut. Sepertinya itu suara perempuan."
"Ada lagi? Mungkin, penggalan lagu yang kau ingat?"
"Em, ah, lagunya Geisha, yang judulnya 'lumpuhkanlah ingatanku' itu, loh."
"Eh, lagunya Geisha?" Batin Shaquil.
"Kaka, atuk(Kakak ngatuk)." Panggil Ryu Ice menyela.
Shaquil tersenyum tipis, ia berjalan mendekat kemudian memangku Ryu Ice di kakinya sambil mengecup rambutnya lembut.
"Baiklah, tidurlah yang nyenyak ya, baby~"
Mereka bertiga pun mengesampingkan masalah itu sebentar dan pergi tidur. Setiap malam, Ryu Ice selalu memeluk Shaquil dalam tidurnya. Jadi jika misalnya nggak ada Shaquil, dia bakalan susah tidur, karena udah terbiasa gitu.
BERSAMBUNG~
\-Iklan\-
"Berarti sama kaya cinta, ya thor? Kalau misalnya udah terbiasa bersama. Sedikit demi sedikit bakalan tumbuh cinta gitu?" -Shaquil.
"Iya, susahnya itu kalo mau move on, tapi orangnya itu satu sekolah. Apa lagi satu kelas, 100% tambah sakit hati, dah." -Author.
"Kalo persahabatan antara laki- laki dan perempuan ada nggak thor?" -Shamus nyela- nyela.
"Ya nggak ada lah. Soalnya salah satunya pasti ada yang suka." -Author.
__ADS_1
"Kalo misalnya cintanya bertepuk sebelah tangan gimana?" -Caldwel ikutan nyela.
"Derita lo. Gw nggak peduli, kok." -Author.