
Keesokan paginya, para pemberontak itu menyerang pasukan Shaquil. Tapi sebelum mereka menyerang, Shaquil sudah memepersiapkan pasukannya terlebih dahulu.
Saat pasukan mereka bertemu, Shaquil berada di bagian depan bersama ke empat sahabatnya. Shaquil melirik ke kanan dan ke kiri mencari ketua pasukan musuh.
"Di mana komando pasukan itu? Apa mereka tidak memiliki komando, ya?" Batin Shaquil.
Shamus saat ini sedang menatap dan melihat satu per satu pasukan itu menggunakan teropong yang di berikan Shaquil kepadanya.
"Huh, lihat orang- orang itu, sepertinya mereka sedang membicarakan kita, deh." Ujar Shamus sebal.
"Heh, kalau jadi mereka pun, aku pasti akan meragukan diriku sendiri. 'Bagaimana bisa anak sekecil itu menjadi komando?' Aku pasti akan berpikir seperti itu." Ujar Shaquil.
"Huh, kemampuan itu tidak di lihat dari tinggi dan umur. Tapi di lihat dari pemikiran dewasa yang ia miliki." Ujar Rosean.
"Cih, kau pikir orang- orang bodoh seperti mereka akan berpikir seperti itu?" Tanya Rea.
"Apapun itu, kita harus tetap waspada. Kita tidak boleh meremehkan lawan kita." Ujar Caldwel.
"Berhenti berbicara, kita habisi saja mereka." Ucap Lynelle sudah tidak sabar.
Pasukan musuh pun mulai berjalan mendekat ke arah mereka. Shaquil menampakan smirk yang sudah lama tidak ia perlihatkan. Sudah jelas Shaquil seperti meremehkan mereka.
"Serang!" Perintah Shaquil kepada pasukannya.
Zrash, zrash, zrash, tebasan demi tebasan, darah yang semakin membanjiri tanah. Teriakan orang- orang yang semakin kuat, bagi Lynelle, itu seperti suara surga.
Tapi berbeda bagi ke lima orang lainnya, mereka malah semakin gelisah dan cukup kehabisan tenaga. Lynelle malah semakin menikmatinya, ia tidak peduli berapa orang yang ia tebas. di kepalanya hanya ada, bunuh, bunuh, dan bunuh.
Entah kenapa cewek seimut Lynelle menjadi psikopat yang sangat sadis seperti ini. Di belakang Lynelle, ada orang yang bersiap menusuknya saat ia sedang lengah.
Orang itu mengayunkan pedangnya, tring, pedang yang di pegang orang itu terhadang pedang yang di posisikan Lynelle menghadap ke belakang. Sontak orang itu terkejut setengah mati, bulu kuduknya berdiri dan tubuhnya gemetaran.
"Heh, kau pikir cara murahan seperti itu dapat menghabisiku? Bodoh."
Tring, Lynelle menghempaskan pedang orang itu cukup keras. Pria itu sampai mundur ke belakang cukup jauh, Lynelle berbalik dan menatap pria itu dengan tatapan seperti haus darah.
__ADS_1
Lynelle berlari ke arah pria itu dan langsung mengayunkan pedangnya dengab agresif. Tring, pedang Lynelle dan pria itu bertubrukan. Tubuh Lynelle memang kecil dan kekuatannya juga tidak seberapa, tapi ia amat handal dalam memainkan pedang.
Tring, tring, tring, Lynelle terus mengayunkan pedangnya. Membuat lawannya itu gelagapan dan sangat ketakutan dengan mata membunuhnya.
Sring, pria itu kemudian melawan dan berhasil membuat pipi Lynelle tergores dan meneteskan darah. Lynelle terlihat amat murka dan kesal, dia menatap pria itu lebih tajam dari sebelumnya.
"Kau, berani melukaiku?" Tanyanya dengan nada rendah tapi menakutkan.
Sret, Lynelle langsung memenggal kepala pria itu dengan sadis. Berkat pria itu, Lynelle berhenti bermain- main dan langsung membunuh semua orang yang mencoba melawannya.
Karena perilaku Lynelle, jumlah lawan berkurang drastis. Kini pihak lawan hanya tinggal ⅓ bagian saja. Tiba- tiba seorang laki- laki muncul dari langit di belakang pasukan pemberontak itu.
Laki- laki yang aneh, dia cukup menakutkan. Hawa kekuatannya juga sangat kuat, tapi itu tidak membuat Shaquil ketakutan. Dia malah menatap pria itu dengan tajam.
"Wah, pasukan ku sudah mulai habis saja? Ini benar- benar menarik, aku rasa aku harus langsung turun tangan sendiri, nih." Ujar pria itu.
"Apa dia komando pasukan lawan?" Batin Shaquil.
Pria itu menatap Shaquil sedikit remeh, ia kemudian turun dan berdiri dengan penuh percaya diri. Shaquil hanya diam menatap pria itu.
Set, ia menghempaskan satu tangan, dan tanah pun mulai terbelah. Setengah pasukan Shaquil tertelan oleh tanah itu. Shaquil amat terkejut, ia berdecak sebal dan menatap pria itu dengan wajah kesal.
"Siapa kau?!" Tanya Shaquil dengan suara lantang.
"Oh, aku belum memberitahumu, ya? Namaku Hyuga. Seseorang yang akan menaklukan dunia ini!" Ujar pria itu dengan suara keras.
Dia adalah Hyuga, bisa dikatakan juga kalau dia adalah komandan pasukan para pemberontak. Mata Shaquil terbelalak sempurna, tatapan mata yang semulanya tajam sekarang menjadi keterkejutan.
"Kau bilang, menaklukan dunia?" Tanya Shaquil.
"Ya, benar. Dan untuk mencapai keinginan itu, maka aku harus mengabisimu terlebih dahulu!"
Dengan cepat Hyuga melesat bagaikan kilatan cahaya. Dia sekarang berada di depan Shaquil dengan pedang yang berada di tangannya bersiap menusuk jantung Shaquil.
__ADS_1
Tring, dengan sigap Shaquil menghadang pedang Hyuga dengan jantung yang berdetak sangat kencang. Uh, itu sangat mengagetkan dan tidak terduga.
"Ck, dia cepat sekali." Batin Shaquil.
Tring, tring, tring, Shaquil dan Hyuga beradu pedang dengan sangat sengit. Tidak ada seorang pun yang berani mendekati mereka berdua. Mereka kemudian menggunakan kecepatan mereka masing- masing.
Dengan kecepatan itu, Shaquil dan Hyuga bertarung di atas udara. Saking cepatnya, tidak ada yang bisa melihat keberadaan mereka ataupun luka mereka.
"Shaquil, aku harap kau baik- baik saja." Batin Caldwel.
Duar, Shaquil terhempas ke tanah dan membuat ledakan yang sangat besar. Luka pun terlihat di sekujur tubuhnya. Hyuga pun turun dari langit dengan senyum kemenangan terukir di bibirnya.
"Heh, kau akan tiada setelah ini, Shaquil." Ujar Hyuga.
"Dari mana, dari mana dia mengetahui namaku?" Batin Shaquil.
Caldwel mencoba membantu Shaquil, tapi langkahnya tiba- tiba berhenti. Dia tidak bisa menggerakan tubuhnya sama sekali. Seperti ada seseorang yang menyihir dirinya.
"Kalian semua tetap di situ, jangan coba- coba menggangguku." Ujar Hyuga dengan tatapan tajam.
Sring, Hyuga mengangkat pedangnya ke atas, pancaran cahaya pun menyinari pedang Hyuga saat itu. Shaquil tahu, mungkin itu adalah akhir dirinya saat ini.
"Ada kata- kata terakhir, Shaquil?" Tanya Hyuga menampakan smirk.
Shaquil menatap cahaya matahari saat itu dan menutup mata. Di sela- sela menutup mata itu ia tersenyum tipis, saking tipisnya hampir tidak kelihatan. Ia menutup mata bukan berarti ia menyerah, tapi ada sesuatu yang akan segera terjadi.
Saat Hyuga akan menebas kepala Shaquil, duar, sebuah cahaya yang sangat terang menyilaukan matanya. Bersamaan dengan cahay itu, ada ledakan besar yang terjadi.
Hyuga pun mundur beberapa langkah ke belakang, karena silau, ia hanya bisa menutup mata saja tanpa bisa melihat apa- apa sedikitpun.
"Apa, apa yang kau lakukan?" Tanya Hyuga masih menutup matanya.
Shaquil menunjukan smirk, "Hah, akhirnya mereka sudah datang." Batin Shaquil.
"Ba, bagaimana bisa? Bagaimana kalian bisa berada di sini?!" Tanya Hyuga terkejut.
__ADS_1
BERSAMBUNG~