Magician Knight

Magician Knight
Aku milik mu


__ADS_3

Caldwell tersenyum manis, di wajah dan matanya tidak terlihat sedikit pun penyesalan. Yang ada hanyalah perasaan bahagia dengan tatapan sayu yang seperti meminta maaf.


"Kenapa mulut mu manis sekali?" Tanya Caldwell terkekeh.


"Hihi, aku kan orangnya overdosis imut. Tentu saja mulut ku manis."


"Haha, kau ternyata pintar melawak juga."


"Hei, aku serius! Aku ini sangat imut, pintar, dan hebat. Tipe ideal kalau sebagai pasangan tahu!"


"Benar, sebagai pasangan yang akan mendampingi ku di pelaminan."


Blush, pipi Adriana memerah hebat. Semburat merah bagaikan kepiting yang di rebus terlihat jelas di pipinya. Merasa malu sekaligus senang, siapa yang bisa membayangkan betapa manisnya Caldwell.


Apa lagi dengan senyumannya yang memabukkan itu. Siapapun pasti akan terkapar pingsan saat itu juga. Caldwell terkekeh geli. Smirk kecil terlihat di bibir Adriana, ia merencanakan sesuatu.


"Ekhem, apa kau merasakan sesuatu yang janggal?" Tanya Adriana.


"Sesuatu yang janggal...?"


Deg, Caldwell tiba- tiba tersentak, matanya terbelalak sempurna. Grep, dia mencengkeram lengan Adriana dengan kuat. Wajahnya takut, khawatir, dan panik bukan main.


"Apa kau baik- baik saja?! Apa kau merasa mual- mual?!"


"Hei, hei, aku tidak sedang hamil, oke? Jangan mengatakan omong kosong!" Batin Adriana.


"Apa maksud mu?"


"Ekhem, tadi kau kan mencium ku. Bagaimana jika racunnya berpindah ke tubuh mu nanti?!"


Pletak, Adriana langsung menjitak dahi Caldwell yang berhasil membuat Caldwell meringis kesakitan. Tapi di sela- sela ringisannya, Caldwell tersenyum senang entah kenapa.


"Haish, kenapa aku bisa lupa kalau laki- laki adalah salah satu makhluk yang tidak peka?" Batin Adriana.


"Aduh! Sakit tahu my love!"


Blush, pipi Adriana kembali memerah seperti kepiting rebus. Ia dengan cepat memanjangkan wajah menghindari bertatapan wajah dengan Caldwell. Ia merasa sangat malu sekarang.


"Ka, kau! Apa maksud perkataan mu itu?!"


"Eh? memang perkataan ku kenapa?"


Caldwell membuat wajah sepolos dan seimut mungkin yang bisa ia buat saat itu juga. Biasalah, untuk menghindari jitakan, lemparan, dan pukulan yang akan di layangkan Adriana.


"Kau ini hanya pura- pura tidak tahu saja, kan?" Tanya Adriana datar.


"Eh? Ah, maksud mu yang kau berikan pada ku tadi sebenarnya bukan racun, kan?"


"Dari mana kau tahu?"

__ADS_1


"Tentu saja aku tahu. Karena, seseorang yang sangat mencintai pasangannya. Pasti tidak akan tega pasangannya itu terluka apa lagi di bunuh."


"Kau..."


Wush, semilir angin berhembus sedikit kencang. Menyapu bunga- bunga sakura yang sedang berguguran. Seketika wajah Adriana menjadi sangat bercahaya dan elok untuk di pandang.


"Ah, sialan. Dengan kata lain kau menguji ku?"


"Bukannya kau yang pertama kali tadi menguji ku?"


"Hihi, sudahlah basa- basinya. Ayo pulang, Meira dan Ryu Ice pasti sudah menunggu."


"Baiklah, ayo pergi."


Pukul 22:00 atau lebih tepatnya jam sepuluh malam. Caldwell dan Adriana sampai di depan istana yang beberapa hari lalu Adriana bangun. Set, Adriana membalikkan badan menatap Caldwell.


"Ini sudah malam, sebaiknya kau menginap saja di rumah ku."


"Eh? Eh? A, aku rasa itu bukan ide bagus."


"Kenapa? Bukankah kita sudah lama bersahabat? Lagi pula, kalau Meira dan Ryu Ice setuju..."


Adriana membungkam mulutnya sebentar membuat Caldwell penasaran. Set, Adriana mendekatkan wajahnya tepat ke sebelah telinga Caldwell yang mulai memerah.


"Kita akan menikah dan memiliki anak- anak kecil yang manis~"


"Ka, kau...! Ke, kenapa kau mengatakan itu...?!"


Terlihat Meira yang sedang mengucek- ucek matanya sambil menguap. Tatapannya agak sedikit kabur karena ia memaksakan dirinya untuk bangun dan melihat keadaan di bawah.


"Kakak!" Teriak Meira.


"Ah, Meira ku sayang! Apa kau terbangun gara- gara aku? Maaf, ya."


"Em, tidak, seharusnya aku yang minta maaf."


"Ha? Kenapa malah kau yang meminta maaf begitu?"


Set, Meira membalikkan badan dan mulai berjalan pergi. Hal itu berhasil membuat Adriana dan Caldwell melongo, bingung, dan pusing sampai 70 keliling. Mamp*s, jauh kaga tu.


"Intinya, maaf sudah mengganggu privasi kalian berdua. Oh, ya, silahkan kalau Kak Caldwell mau menginap. Tapi di larang satu kamar." Ucap Meira pergi.


Keadaan menjadi hening beberapa saat sampai. Blush, pipi keduanya memerah dan di saksikan oleh Reryu yang terlihat bodo amat dan tidak peduli pada urusan percintaan tuannya itu.


"Eh, Reryu? Kau juga di sini, ya?" Tanya Adriana tersenyum kikuk.


"..........."


"Ekhem, Reryu, perkenalkan aku Caldwell. Kita pernah bertemu di saat hari menjelang pembukaan taman lampion."

__ADS_1


"Ah, aku ingat. Seperti perkataan Nona Meira, di larang keras satu kamar."


"Me, MEMANGNYA SIAPA JUGA YANG MAU KAMI SATU KAMAR?!" Teriak Adriana yang emosi karena malu.


"Kalau begitu baguslah. Saya akan menyiapkan kamarnya sekarang juga."


Set, Reryu berbalik badan seraya pergi meninggalkan dua sejoli yang masih agak malu- malu kucing😻. Adriana menggembungkan pipinya sambil mengepal tangan kuat.


"Da, dasar naga l*cn*t." Umpat Adriana.


"Sabar, tenang saja, ya?"


Di kamar Adriana, Adriana terus- menerus berguling- guling ke sana ke mari karena tidak dapat tidur. Matanya sama sekali tidak mau terpejam dan terus memintanya untuk begadang.


"Sialan, aku jadi tidak bisa tidur."


"Apa aku ke kamarnya Caldwell saja, ya?" Batin Adriana.


Adriana menggeleng dengan cepat dan kuat. G*la, dia pasti sudah mulai tidak waras karena overdosis obat- obatan bucin berbentuk rayuan dan gombalan hebat yang di lontarkan Caldwell.


"G*la! Kalau aku ke sana aku pasti di kira orang mes*m!" Batin Adriana.


"Tapi, coba sajalah. Siapa tahu berhasil. Toh, jika dia melakukan apa-apa aku cuma perlu menendangnya."


Drap, drap, drap, Adriana berjalan dengan pelan tapi pasti. Terus menyelinap sambil sesekali melihat ke kanan dan ke kiri. Berjaga- jaga jika ada yang tahu dia pergi ke kamar seorang pria. Pasti berita besar.


"Baguslah, aku rasa aman." Batin Adriana.


Ceklek, Adriana membuka pintu dengan perlahan sambil mengawasi situasi di sekitar. Terlihatlah Caldwell dengan piyama berwarna hijau. Kaki jenjangnya yang polos dan putih sangatlah indah.


"A, Adriana? Kenapa kau ke sini?"


"Kau belum tidur?"


"Belum, memangnya kenapa?"


"Kita mainan, yuk!"


"Mainan? Mainan apa malam- malam begini?"


Adriana menampilkan smirk andalannya yang membuat orang was- was. Tenang, positif thingking sajalah. Lagi pula Caldwell kuat iman, kok. Dia nggak bakal tergoda secepat itu.


"Hihi, seharusnya kau yang paling tahu soal itu, kan~"


"Hm?" Caldwell memasang wajah polos dan bingung.


"Ayo kita mulai bermain- main."


Bersambung

__ADS_1


Guys, minta like vote dan komen ya😻


__ADS_2