
Cahaya menyilaukan itu pun kini mereda, Hyuga mengedipkan mata dan melihat ke arah cahaya tadi muncul. Betapa terkejutnya ia, setelah ledakan itu, ada 6 orang gadis cantik di hadapannya.
Mereka bukan gadis- gadis biasa, tapi mereka adalah gadis- gadis yang di juluki para Dewi Perang. Itu karena kekuatan dan kecantikan mereka yang sangat membahana.
Aygul Iolanthe, Aygul artinya adalah mawar yang seperti bulan. Iolanthe artinya ungu. Aygul Iolanthe bermaksudkan, mawar ungu yang cantik dan menawan tapi sangat menyakitkan. Aygul Iolanthe adalah kesatria dari daerah timur.
Rexana Iza, Rexana artinya ratu. Iza berarti es, maksudnya adalah Ratu Es. Rexana Iza adalah penyihir yang berasal dari daerah bagian selatan. Ia di kenal sebagai pemilik kekuatan es terhebat sepanjang masa.
Ratu kematian Ruby, dia adalah satu- satunya ratu yang paling menakutkan di dunia itu. Dia ratu yang di segani dan paling di takuti di antara yang lainnya.
Dyndra Allete, Dyndra artinya suci dan adil. Allete artinya sayap. Dyndra Allete adalah satu- satunya bidadari di dunia itu yang masih di ketahui keberadaannya.
Aafreeda Acacia, Afreeda adalah nama dari dewi kecantikan, kesuburan, dan cinta. Acacia adalah simbol dari keabadian dan kebangkitan. Aafreeda Acacia adalah peri senja dari daerah utara.
Dan, pemanah bulan sekaligus guru BK sekolah Shaquil. Miya yang legendaris, ia dulunya adalah penyelamat perang di timur laut sebelum menjadi seorang guru yang di kenal sangat tegas dan galak.
"Maaf kami terlambat, Shaquil." Ujar Miya.
"Jadi, dia adalah lawan kita?" Tanya seorang kesatria bernama Aygul Iolanthe.
"Benar, dia adalah lawan kita." Jawab Shaquil.
"Aku sempat terkejut karena kau masih bisa berdiri setelah ledakan besar itu." Ucap Rexana Iza penyihir es.
Shaquil tersenyum tipis mendengar perkataan Rexana. Mungkin memang lawan mereka hanya satu orang, tapi mungkin itu akan lebih sulit dari yang mereka duga.
Sang bidadari Dyndra Allete, mengangkat satu tangannya. Ia sedang menganalisis kekutan lawan mereka itu. Sementara peri senja Aafreeda Acacia masih diam dari tadi melihat situasi yang sedang berlangsung itu.
"Eh, ternyata begitu." Ucap Dyndra Allete.
"Ada apa, Dyndra?" Tanya Aafreeda.
"Tubuh pria itu, sedang di kendalikan." Ujar Dyndra.
"Di, dikendalikan? Siapa yang mengendalikan pria itu, Dyndra?" Tanya Miya.
"Aku tidak tahu." Jawab Dyndra singkat.
Sementara Hyuga, lawan mereka itu sekarang seperti sedang bersiap- siap menyerang mereka. Hyuga menampakan smirk, tiba- tiba ada sebuah pedang yang muncul dari tanah.
__ADS_1
Aura yang di keluarkan pedang itu amat sangat gelap dan menakutkan. Mata Aafreeda terbelalak sempurna, ia tidak percaya pedang yang sudah ia segel itu akan kembali muncul.
"I, itu..."
"Ada apa, Aafreeda?" Tanya Rexana.
"Itu, itu adalah pedang kegelapan yang sudah aku dan Aafreeda segel sejak dahulu kala. Pedang Darknio." Jawab Ratu kematian Ruby.
"Pedang Darknio?" Tanya Shaquil.
"Iya, Darknio adalah sebuah pedang yang terbuat dari kebencian, keputusasaan, kemarahan, dan energi- energi negatif lainnya." Ujar Aafreeda.
Darknio, pedang yang terlihat sangat menakutkan. Pedang itu memliki pinggiran berwarna ungu tua, dan bagian tengah berwarna hitam. Bagian gagangnya terdapat manik ruby yang sangat menyala.
Dulu, Peri Senja Aafreeda dan Ratu Kematian Ruby bekerja sama untuk menyegel pedang itu di suatu tempat yang tidak akan bisa dijangkau siapa pun.
Siapa sangka, akan ada yang menemukannya dan mempergunakannya untuk menguasai dunia seperti sekarang ini. Tentu ke tujuh orang itu menjadi sangat waspada dan gelisah.
Hyuga menunjukan senyum kemenangannya, dia sekarang menatap Shaquil dan para dewi perang itu bagaikan serangga kecil yang akan hancur hanya dalam sekali injakan.
"Heh, ada apa? Apa kalian sudah takut? Tapi aku belum mulai, loh~" Ejek Hyuga.
"Cih, kau sombong juga, ya." Ujar Ruby.
"Lebih baik kita langsung selesaikan ini saja." Ujar Shaquil.
"Tanpa kau minta pun, kami akan segera melakukannya." Ujar Aygul.
"Baiklah, aku percayakan ini, pada kalian berenam." Ujar Shaquil.
Wush, Ratu kematian Ruby dengan secepat angin langsung menyerang Hyuga. Hyuga tersenyum kecil dan menahan serangan Ruby yang baginya bukanlah apa- apa.
Tring, Hyuga menghempaskan Ruby cukup jauh, syush, Aygul menyerang dari belakang menggunakan pedang andalannya. Namun gerakan Aygul dapat di baca oleh Hyuga dengan tepat.
Sring, pedang Hyuga dan Aygul bertabrakan. Aygul memukul mundur Hyuga sedikit demi sedikit. Di belakang Hyuga, tiba- tiba ada Rexana menggunakan pedang esnya bersiap menebas kepala Hyuga.
Tring, tring, Hyuga berputar dan menghempaskan Rexana dan Aygul cukup jauh. Ke tempat Ruby terlempar, Aafreeda mengangkat pedangnya ke langit.
"Summer, fantasions!"
Aafreeda mengayunkan pedangnya ke bawah dan Hyuga terkena serang itu. Tatapan Hyuga tiba- tiba kabur, dia terduduk di tanah selama beberapa waktu.
Para dewi kembali ke tempat Miya yang bertugas untuk berjaga- jaga di belakang. Beberapa saat kemudian, Hyuga tiba- tiba bangkit sambil tertawa keras.
"Hahahaha! Kau pikir sihir ilusimu itu akan bekerja padaku? Kau benar- benar sangat naif!" Ujar Hyuga.
"Ba, bagaimana mungkin, bagaimana dia bisa keluar dari sihir ilusi ku?" Tanya Aafreeda menatap Hyuga tak percaya.
"Heh, sihir ilusimu itu sangat lemah dihadapanku. Tentu saja aku bisa memecahkan sihir itu dengan sangat mudah." Ujar Hyuga.
Aafreeda kembali menyerang Hyuga dengan gerakan dan jurus berbeda. Miya menarik panah sihirnya kebelakang, bersiap memanah Hyuga yang perhatiannya sedang dialihkan oleh para dewi lainnya.
__ADS_1
"The moonlight!"
Wush, para dewi yang tugasnya mengalihkan perhatianpun menyingkir. Panah Miya bergerak amat sangat cepat, tapi Hyuga berhasil menghentikannya hanya dengan satu tangan saja.
"Heh, panah mainan ini tidak ada gunanya!" Teriak Hyuga.
"Bagaimana itu mungkin? Apa usia mempengaruhi kekuatan? Apa itu tidak berguna karena aku sudah tua, ya?" Batin Miya.
Hyuga mengangkat pedang Darknion itu ke atas, tiba- tiba siang hari itu mendadak menjadi sangat gelap seperti malam. Angin bertiup kencang, petir dan kilat terus menyambar.
Suasana saat itu tiba- tiba menjadi sangat mengerikan. Ruby tiba- tiba tersadar, ia kemudian ikut mengangkat sabit kematiannya ke atas menuju langit- langit.
"Darknion, explansion!"
Hyuga mengayunkan pedangnya ke bawah, begitupun dengab Ruby. Ia juga mengayunkan pedangnya ke bawah dengan mata merah semerah namanya itu menyala.
"Dead Hell!"
Duar, brak, brar, kekuatan Ruby dan Hyuga bertabrakan. Gempa bumi berskala besar pun tercipta, semuanya menjadi panik, beberapa lari tunggang langgang, dan beberapa masih bertahan di tempat.
Wush, duar, wish, serangan Ruby mundur ke belakang ke arahnya sedikit demi sedikit. Rexana ratu es mengangkat kedua tangannya ke atas mengumpulkan energi.
"Diamond kristal!"
Sebuah kristal es besar berbentuk berlian terbentuk, kristal es itu membentur kekuatan Ruby dan Hyuga. Karena hal itu, kekuatan Hyuga terpukul mundur walau hanya sedikit.
"*Summer, fantasions!"
"The moonlight!"
"Wings heaven*!"
"Sword power!"
Aafreeda, Aygul, Dyndra, dan Miya membantu Ruby dan Rexana menyerang Hyuga. Para dewi perang itu menggabungkan kekuatan dan memperlihatkan sebuah insiden yang tidak pernah di lihat semua orang walau hanya sebentar.
"Kalian...Terima kasih." Ucap Ruby.
"Wah, baru pertama kali, nih, aku melihat mu berbicara lembut." Ucap Miya.
"Setelah di lihat- lihat, ternyata kalian sudah banyak berubah, ya." Ucap Rexana.
"Kau baru menyadarinya? Heh, pengamatan mu lambat, Rexana." Ucap Dyndra.
"Haha, akhirnya setelah sekian lama, kita bisa bertemu lagi." Ujar Aygul.
"Walau tiada pun, aku tidak akan menyesal." Ujar Aafreeda.
"Ya jangan sampai tiada juga dong." Ujar kelima dewi perang lainnya.
Pemandangan ke enam dewi bersatu itu terlihat sangat indah. Keenam dewi perang itu tersenyum kecil tapi terlihat sangat menyejukan hati. Shaquil tersenyum tipis melihat hal itu.
__ADS_1
BEESAMBUNG~