
Ceklek, Adriana masuk dan mengunci pintu kamar dengan raut wajah senang bercampur smirk. Caldwell hanya diam saja memandang kekasihnya yang tampak menggoda itu.
"Ayo bermain." Ajak Adriana.
"Hm?"
Adriana mendekatkan wajahnya ke wajah Caldwell, keduanya mengikis jarak. Senyum menyeringai masih terpancar dan Caldwell masih dengan wajah polos andalannya. Walau wajah polosnya itu cuma topeng saja. Beberapa menit kemudian.
"Ha! Aku Menang!" Teriak Adriana.
"Tidak mungkin! Ayo main satu ronde lagi!"
"Menyerah sajalah, aku ini Ratu kartu. Semua orang pasti kalah di hadapan ku!"
"Pokonya kita mulai ulang!"
"Jangan menyesal, ya~"
Beberapa menit kemudian, lagi, lagi, dan lagi, Adriana terus saja memenangkan ronde- ronde yang di ajukan Caldwell. Tetap tidak mau kalah bersaing, Caldwell terus meminta tanding ulang.
"Ulangi lagi! Lagi! Lagi!"
"Anak ini pasti sudah kerasukan." Batin Adriana.
Tik, tok, tik, tok, jam menunjukkan pukul tiga pagi. Caldwell dan Adriana masih saja bermain tanpa lelah. Hoaam, Adriana menguap ngantuk, Caldwell sadar kalau dia terlalu memaksakan diri.
"Apa kau lelah? Kalau begitu kita akhiri saja."
"Ahaha, kau memang sangat perhatian Caldwell!"
"Tentu saja, untuk orang yang kita cintai. Kita harus lebih perhatian dan peka." Gumam Caldwell, suaranya lirih.
"Ha? Kau bilang apa?"
"Tidak apa- apa, ayo kita tidur."
Sebelum berjalan pergi, Caldwell menampilkan senyum manis layaknya malaikat kecil. Adriana sempat terpukau akan kecantikan wajah Caldwell yang melebihi standar.
Tap, tap, tap, Caldwell berjalan menuju meja di samping pintu untuk mengambil air. Gluk, gluk, set, saat ia berbalik setelah meminum air putih bukan air comberan, ya.
Kalau air comberan itu nggak enak, jijik. Caldwell terkejut, lantaran ia melihat Adriana yang sudah tertidur dengan nyenyak. Ia ingin mengangkat Adriana kembali ke kamarnya.
"Adriana tidak boleh tidur di sini, tapi mau bagaimana lagi? Aku bahkan tidak tahu di mana kamarnya." Batin Caldwell.
Intinya seperti memanfaatkan kesempatan di dalam kesempitan. Itung- itung lumayan juga buat teman tidur, cuma tidur. Jangan ngayal sampai yang lain, loh.
Set, Caldwell mengangkat Adriana dan membaringkan tubuh Adriana di atas kasur. Bruk, ia merangkak naik dan tidur di sebelah Adriana tepat. Ia memeluk Adriana sambil menyelimutinya.
"Selamat malam, Adriana."
Cip, cip, cip, pagi harinya cuaca sangatlah cerah. Burung- burung berkicau seperti biasanya. Tetapi di kamar Caldwell, suasananya malah suram dan mencekam.
Meira memergoki kakaknya ada di kamar seorang laki- laki. Untung pakaiannya masih lengkap, dengan kata lain tidak terjadi apa- apa. Grep, Meira mengepal tangan dan membuka mulut membentuk huruf o.
__ADS_1
Meira menarik napas, "KAKAK! APA YANG KAU LAKUKAN?!"
"Hah?!"
"Apa yang...?"
Adriana langsung terperanjat kaget, ia langsung membuka mata dan memasang posisi duduk. Sementara Caldwell mengedipkan mata beberapa kali, ia tidak terkejut sama sekali.
Dengan tenang, Caldwell duduk dan menangani calon adik iparnya Meira dengan lemah lembut dan penuh kasih sayang. Hump, Meira menggembungkan pipi kesal.
"Eh, Meira, kenapa kau di sini?" Tanya Caldwell santai.
"Lalu kau?! Apa yang kau lakukan dengan kakak tadi malam?!"
"Ah, begini, kemarin malam kakak mu dan aku bermain kartu sampai pagi."
"Kalian tidak minum wine, kan?"
"Tidak, kalau tidak percaya kau bisa tanya pada kakak mu sekarang."
Set, Meira melirik ke arah kakaknya yang masih tersenyum canggung dan berusaha memiliki sikap tenang seperti Caldwell. Adriana memasang posisi seperti akan batuk.
"Uhuk, uhuk, begini. Yang di katakan Caldwell itu benar. Jadi tenang oke?"
"Aku tahu kalian berdua lagi kasmaran. Tapi kalian tidak boleh melebihi batas juga."
"Iya, iya, maaf."
"Kak Caldwell juga! Kenapa tidak membawa kakak kembali ke kamarnya?"
Deg, seketika Meira sedikit merasa bersalah. Memang kemarin ia dan Reryu tidak memberi tahu ke beradaan kamar kakak karena sebuah alasan. Inilah alasan yang di maksud.
Takut kalau Adriana dan Caldwell malah melakukan hal- hal yang aneh. Di tambah lagi Adriana masih dalam umur remaja dan Meira tidak mau kakaknya menikah terlalu cepat.
"Tapi kau bisa bertanya pada kakak di mana kamarnya, kan?"
"Saat itu Adriana sedang tidur dan aku tidak enak membangunkannya."
"Benarkah?"
"Iya, wajahnya juga tampak lesu. Apa kau sering begadang akhir- akhir ini?"
"Aku tidak begadang. Aku hanya sulit tidur saja."
"Kalau kakak sulit tidur ke kamar Meira saja! Kenapa ke kamar Kak Caldwell?!"
Lagi- lagi Adriana tidak dapat menghindar dari pertanyaan Meira yang sangat blak- blakan dan terus terang. Memang benar agar masalahnya jelas, tapi agak sedikit memalukan.
"Aku takut membangunkan mu, itu saja."
"Kakak ini, kita adalah saudara! Dan saudara pasti akan selalu membantu saudara lainnya saat mereka kesulitan!"
Adriana menjadi sangat terharu dengan perkataan Meira yang sangat mendalam dan penuh akan perasaan. Membuat siapapun yang mendengarnya menjadi lega dan bahagia.
__ADS_1
Dari dulu, Meira memanglah anak yang baik, perhatian, ekspresif, aktif, dan sangat penyayang. Ia bukan anak yang kaku kalau misalnya di hadapkan dengan dunia luar.
"Ah, kau memang adik yang sangat baik Meira!"
Adriana berlari dan memeluk Meira penuh haru. Meira malah memasang ekspresi datar dan tidak peduli. Ya, itulah kelemahan Meira, dia itu anak yang agak aneh.
"Ahaha, keluarga yang harmonis." Batin Caldwell.
"Lepaskan aku Kakak. Kau mau membuat adik mu tiada, ya?"
"Huh, kenapa suasana hati mu sangat cepat berubah, sih?"
"Sudah, ganti pakaian dan ayo kita makan bersama."
Ceklek, Meira menutup pintu meninggalkan Adriana dan Caldwell berduaan lagi di kamar. Tik, tik, tik, keadaan menjadi hening selama beberapa saat.
"Yah, itulah Meira. Kadang kekanak- kanakan kadang dewasa."
"Sudah, sudah, cepat pergi ke kamar. Kita bertemu di meja makan nanti."
"Memang kau tahu meja makan di mana?"
"Em, ti, tidak."
"Hahaha, dasar."
Adriana terkekeh kecil melihat tingkah Caldwell yang malu- malu kucing, meow😻. Di tambah dengan wajah imut dan polosnya. Sangat memukau dan memikat hati.
"Tenanglah, nanti Reryu akan datang dan menuntun mu, kok."
"Baiklah."
"Tapi aku mau kau yang menuntun ku, ke pelaminan tentunya." Batin Caldwell.
Beberapa menit kemudian, Adriana dan Caldwell berada di meja makan bersama Reryu, Meira, dan Ryu Ice. Tidak ada yang berbicara. Hanya ada suara piring, garpu dan sendok yang bertubrukan.
"Oh, ya, aku mau tanya Kak Caldwell."
"Mau tanya apa, Meira?"
"Kapan kau akan menikahi, kakak?"
Bruuuuuuth, Adriana dan Caldwell sontak menyemburkan minuman mereka masing- masing. Hihi, Ryu Ice malah terkekeh geli mendengar pertanyaan Meira.
"Ahaha, ini pasti seru." Batin Ryu Ice.
"A, apa maksud mu itu Meira?" Tanya Adriana.
"Memang kenapa? Apa salah jika bertanya?" Meira memasang wajah polos.
"Ti, tidak, sih."
"Kalau begitu jawab dong!"
__ADS_1
"Adik sialan." Batin Adriana.
Bersambung