
Mata Adriana sedikit berlinang air mata, ia tersenyum tipis dan mengusap kepala dua anak itu. Adriana berlutut menyesuaikan tinggi mereka bertiga.
"Terima kasih, terima kasih sudah mau mengerti keadaan ku saat ini."
"Terima kasih kembali, Kakak."
Mereka berdua pun pergi tidur, keesokan harinya, karena Adriana sibuk. Yang menggantikan Adriana mengajar adalah Caldwel, Hyuga, Ryu Ice dan Meira.
Apa? Kenapa?
Alasannya adalah karena pembawaan mereka berempat yang tenang. Selain itu Meira dan Ryu Ice dapat menjadi penengah saat Hyuga dan Caldwel beradu mulut.
"Jadi, kalian berempat yang akan mengajar kami? Kakak itu memang tidak bertanggung jawab." Ujar Kiano.
"Bukan begitu, hanya saja tugas Adriana semakin banyak. Jadi sementara waktu kami yang akan menggantikannya." Ucap Caldwel.
"Cuih, sekali tidak bertanggung jawab tidak akan pernah bertanggung jawab." Ucap Kiano.
Kiano terus saja mengoceh dan Caldwel tidak henti- hentinya memberikan penjelasan kepada anak keras kepala dan menyebalkan itu. Muak mendengar adu mulut itu, Meira mulai bertindak.
"Mereka sangat mengganggu." Ucap Hyuga dengan tangan di belakang.
"Kak Hyuga, bawa Ryu Ice sebentar."
"Ha?"
Hyuga hanya melongo dan menurut permintaan Meira. Perasaannya mulai memburuk, dia ramal sebentar lagi pasti akan ada sebuah perkelahian dia antara mereka bertiga.
"Apa kau sangat membenci kakak ku?"
Pertanyaan Meira membuat Caldwel dan Kiano berhenti beradu mulut dan menatap ke arahnya. Tatapan remeh terlihat di wajah Kiano saat melihat Meira.
"Anak kecil tidak perlu ikut campur!" Ujar Kiano.
"Aku berhak ikut campur, karena dia kakak ku."
"Ya, dia memang kakak mu, kakak mu yang tidak berguna."
Deg, tangan Meira mengepal dengan sangat kuat. Dia mirip dengan Adriana, saat adu mulut tidak berjalan baik. Maka adu tangan lah yang akan berulah berikutnya.
"Sebelum mengatai orang lain, lihat lah diri mu sendiri dulu, bodoh." Ucap Meira.
"Cih, apa kakak mu tidak mengajarkan sopan santun kepada orang yang lebih tua, ha?"
"Ini tidak ada hubungannya dengan kakak ku. Jadi, jangan pernah coba- coba mengaitkan ini dengan kakak ku."
"Cuih, masih kecil saja belagu."
"Ck, aku rasa yang belagu itu kau, dasar tidak sadar diri."
Kiano menggetarkan gigi geram karena kalah beradu mulut dengan Meira. Catatan, jangan pernah debat dengan perempuan, jangankan menang, seri aja susah.
"Kau ini tidak tahu berhadapan dengan siapa, ya?"
"Dasar penakut, sudah tahu akan kalah mencoba menyeret- nyeret nama keluarga? Betapa memalukannya diri mu."
__ADS_1
"Cih, karena aku pria terhormat, aku tidak akan memukul perempuan."
"Halah, bilang saja kau itu takut. Nggak usah kebanyakan alasan, dasar laki- laki."
"Kau benar- benar ingin tiada, ya, bocah?"
"Sadar diri dong, yang bocah itu kamu. Udah tahu salah masih aja ngelak."
Hyuga dan Caldwel saling melirik, dengan cepat mereka berdua berkerja sama menghentikan adu mulut antar anak- anak itu.
Caldwel menenangkan Meira sementara Hyuga menenangkan Kiano. Tatapan mata mengajak berkelahi itu terhias di mata Meira dan Kiano.
"Tidak perlu menahan ku. Tahan saja anak tidak tahu malu itu." Ucap Kiano.
Kiano pun meninggalkan arena adu mulut itu terlebih dahulu. Tapi sepertinya, Meira tidak akan membiarkan Kiano hidup dengan tenang sebelum ia puas membalas.
"Haish, pengecut, kenapa kau langsung meninggal kan arena begitu saja?"
Deg, tatapan kesal menghiasi mata Kiano, ia berbalik badan dan terlihatlah wajah remeh Meira. Sekarang posisi mereka berbalik.
"Aku bukan pengecut, kalau kau ingin bertarung, maka ayo kita bertarung!"
"Siapa takut? Ayo kita mulai, bodoh!"
"Nj*r, walau kecil nyalinya besar juga. Siapa sangka dia akan menerimanya dengan wajah percaya diri seperti itu?" Batin Kiano.
Di saat mata Meira dan Kiano bertatapan dengan penuh kebencian itu. Dari belakang, sebuah portal muncul dan mendaratkan seorang gadis cantik.
Siapa lagi kalau bukan, Adriana?
Adriana menatap ke arah Kiano dan Meira, ia kemudian menepuk punggung Caldwel dan Hyuga. Pemilik punggung pun terkejut dan melihat ke belakang.
Mendengar nama kakaknya di sebut, Meira segera menoleh ke arah suara. Ternyata benar yang muncul adalah Adriana.
"Hei, ada apa ini?" Tanya Adriana dengan santainya.
"Meira mengajak ku berkelahi, kak Adriana." Ucap Kiano.
Meira segera berbalik badan dengan tatapan kesal ke arah Kiano. Tapi ia masih berusaha tenang dan mengatakan sesuatu yang tidak pernah Kiano duga.
Bukan alasan ataupun pengelakang, ia malah secara terang- terangan mengatakan pada Adriana kalau dia menyetujuinya dan meminta kakaknya membuat arena untuk mereka berdua.
"Ya, benar, aku mengajak Kiano berkelahi. Aku juga meminta agar tidak akan ada siapa pun yang akan menghalangi kami bertarung."
"Apa? Apa yang dia katakan dan apa maksudnya itu?" Batin Kiano.
"Jadi, kau ingin bertarung dengan Kiano begitu?" Tanya Adriana.
"Benar, apakah kakak bisa membuatkan arena untuk kami berdua?"
"WTF?!" Batin Kiano.
Adriana memasang pose berpikir, ia kemudian tersenyum tipis dan menjentikan jarinya. Ctak, sebuah arena yang di lapisi pelindung pun tercipta.
"Silahkan kalian masuk dan bertarung lah." Ucap Adriana.
__ADS_1
Apa?!
"Hei, Adriana, bukankah ini terlalu beresiko?" Tanya Caldwel.
"Benar, Meira masih kecil, bagaimana jika ia terluka nanti?" Tanya Hyuga.
"Jika ia takut terluka, maka sampai kapan pun dia tidak akan pernah berjaya." Ucap Adriana.
Caldwel dan Hyuga tertegun dan kemudian memilih untuk diam saja. Kiano menggertakan
gigi dan masuk ke arena pertandingan dengan wajah kesal.
"Ayo kita selesaikan ini dengan cepat." Ucap Kiano.
"Dengan senang hati aku menyetujuinya." Ujar Meira dengan datar tapi menakutkan.
Adriana mengangkat tangannya ke atas untuk memulai pertandingan. Meira dan Kiano menghela napas bersamaan. Adriana melirik ke arah Kiano dan Meira, Adriana tersenyum.
"Satu, dua, tiga..."
"Selingkuh!"
Set, gubrak, Kiano dan Meira seketika terjatuh. Sementara yang lainnya berbalik mencari arah suara itu. Ternyata yang mengatakannya adalah Shamus.
Ia tidak datang sendiri, ada Rosean, Rea, dan juga, kakaknya Rian(?!). Kiano dan Meira pun berdiri dan menatap bingung satu sama lain.
"Em, biar kami urus orang- orang ini. Kalian bertengkar saja sana." Ucap Adriana.
"Baiklah, ayo kita bertarung!" Ujar Kiano.
"Ayo!"
Kiano mengarahkan tangannya ke atas sambil membaca mantra. Meira malah menyatukan tangannya di depan dada dengan tenangnya. Kiano tambah berdecak sebal.
"Rain of sadness!"
"Fire of happiness!"
Blarr, huar, duar, kedua kekuatan yang saling bertolak belakang itupun menciptakan ledakan yang cukup besar. Kesedihan melawan kebahagiaan, bagaikan gelap melawan terang.
"Kau cukup kuat juga, ya." Ucap Kiano.
"Dari pada memuji orang lain, kau lebih baik memperhatikan diri mu dulu."
Blarr, huar, kekuatan Kiano sedikit demi sedikit terpukul mundur. Matanya menatap hal itu tak percaya, dia takut kalau dia akan kalah. Ia segera menaikan kekuatannya.
"Aku, tidak boleh kalah."
Meira menyipitkan matanya dan menatap Kiano dengan tatapan serius bercampur kesal. Duar, Kiano tiba- tiba terhempas ke belakang dan menabrak pelindung yang di buat Adriana.
Kiano pun jatuh dan terbaring di tanah dengan bekas luka di beberapa bagian tubuhnya. Dengan napas ngos- ngosan, Meira mendekati Kiano dan menjulurkan tangan.
"Kenapa? Kenapa kau membantu ku?" Tanya Kiano.
"Raih tangan ku dan kita sembuhkan luka mu dulu."
__ADS_1
Tap, Kiano meraih tangan Meira dan Meira memapahnya menuju Adriana. Adriana yang sedang berbincang dengan Shamus pun segera berlari ke arah mereka berdua.
BERSAMBUNG~