
Adriana masih berdiri santai sambil berbincang dengan yang lainnya. Perbincangan mereka di selingi canda tawa, murid- murid Adriana juga belum pulang ke rumah.
Mungkin karena mereka sangat suka pada Adriana?
Adriana melirik ke arah Lixue yang nampak kaku dan sangat pasif. Adriana pun berinisiatif untuk mendekatinya atau mungkin mengajaknya berbicara walau hanya beberapa kalimat.
"Hei, Lixue, kenapa kau tidak bermain bersama yang lainnya?" Tanya Adriana.
"Tidak apa- apa."
Adriana tertawa canggung, tap, tap, tap, beberapa menit kemudian Meira datang bersama Kiano di belakangnya tersenyum dengan senang.
"Wah, apa yang terjadi selama aku tidak ada, nih?"
Meira melirik ke arah Kiano yang masih tersenyum bahagia. Lixue menatap ke arah Meira dan Kiano. Dia menghela napas paham akan hubungan ke dua orang itu.
"Tidak terjadi apapun, ya, tidak juga." Jawab Meira.
"Oh, gitu? Ngomong- ngomong, Lixue, apa kau mau berkunjung ke rumah kami?" Tanya Adriana.
"Ha?"
Lixue menampakan mimik wajah bingung. Ia kemudian memalingkan wajah seraya berpikir akan tawaran Adriana itu. Apa yang sebenarnya Adriana lakukan?
"Tapi, untuk apa aku melakukannya?" Tanya Lixue.
"Tenang saja, bukan hanya kau sendirian saja. Seluruh murid juga pasti akan ikut."
"Wuih, kau ingin mengadakan pesta apaan, nih?" Sahut Shamus.
"Rahasia, kalau kalian mau ikut, datang ke rumah ku dua hari lagi pukul enam malam. Yang mau menginap di rumah ku juga boleh."
"Hore!"
Adriana dan yang lainnya pun pulang ke rumah masing- masing dengan teleportasi yang di lakukan Adriana. Di tengah perjalanan, Adriana ternyata malah mengikuti kakaknya, Rian.
"Kak, kenapa kau mengikuti kak Rian? Apa yang akan kau lakukan?" Bisik Meira.
"Shttt, diamlah dulu."
Adriana mendekatkan dirinya ke dinding, begitupun dengan Meira. Kalau Ryu Ice di gendong oleh Adriana ke dalam pelukannya sambil menggandeng tangan Meira.
"Kakak, sebenarnya apa tujuan mu mengadakan pesta dan mengikuti ke dua orang itu?" Tanya Meira dengan wajah datar.
"Tenanglah, kau akan tahu nanti." Ucap Adriana dengan jari telunjuk di depan bibirnya.
Rian ada bersama dengan Rosean dan sekarang sedang berpegangan tangan. Pipi ke dua orang itu memerah dan nampak terlihat sangat malu- malu.
Tahu, kan, maksudnya itu?
"Aish, kakak ku sudah tidak polos lagi." Ucap Adriana.
"Kau juga sudah tidak polos lagi tahu." Ujar Meira.
__ADS_1
"Benar!" Sahut Ryu Ice.
"Tidak perlu di detail banget dong!"
Di sisi Rosean dan Rian yang sedang mabuk asmara. Keduanya benar- benar terlihat serasi, ganteng dan cantik. Cuma satu yang kurang, umur mereka belum sampai ke tahap menikah.
"Em, Rosean, apa, kau ada waktu besok?" Tanya Rian dengan malu- malu.
"Ah, a, aku rasa, tidak ada. Me, memangnya, kenapa?"
"Ekhem, aku, ingin mengajak mu ke taman lampion. Apa, kau mau ikut?"
"Oke, btw, apa aku bisa, mengatakan ini sebagai, kencan?"
"Ah, tentu saja kau bisa. Kita ketemuan besok jam tujuh malam, ya?" Tanya Rian dengan senyum merekah di bibirnya.
Sementara Adriana yang sedang gregetan sambil menahan diri berteriak melihat ke UwU an kakaknya itu hanya bisa menggigit jari saja sambil berteriak dalam hati.
"Ah, kaya nonton Drakor sumpah! Menyentuh hati banget gregetannya!"
"Tapi, sayangnya cuma di Drakor dan manga saja yang bisa melihat cowok peka dan perhatian."
"Kamu jangan bilang gitu dong Meira."
"Hump, itu memang kebenarannya, kok."
Kembali lagi ke Rosean dan Rian, dengan pipi merah meronanya Rosean meninggalkan Rian. Sepertinya mereka benar- benar sudah jatuh cinta satu sama lain.
"Ekhem!"
Rian segera melirik ke segala arah mencari asal suara. Adriana menampilkan senyum jahil, ia tiba- tiba berdiri di belakang kakaknya dengan cepat sambil bersandar di punggung Rian.
"Sejak kapan kakak dan Rosean, Ekhem, pacaran? Sampai mengadakan kencan segala?"
"Kau ini, kenapa kau suka sekali ingin mengetahui urusan orang lain, sih?" Tanya Rian dengan wajah kalem agar tidak kelihatan malu.
"Karena senang saja gitu lihat ke UwU an orang lain."
"Ck, dari pada mengurusi ke UwU an orang lain, lebih baik kau mencari pasangan saja sana!"
"Huh, berhubung i'm masih single, boleh dong ganggu yang lagi pacaran."
"Huh, kau tidak akan bisa melakukannya!"
Adriana sedikit membungkukkan tubuhnya menghadap Rian dan mengayunkan telunjuknya menandakan kata 'tidak'.
"Ow, tidak semudah itu kau lari dari ku, ferguso~"
"Cih, apa yang kau inginkan? Akan aku beri, deh, tapi jangan ganggu urusan percintaan ku."
"Aish, kakak ku kenapa tiba- tiba jadi l*cn*t, nih, setelah tahu cinta?"
"Kau ini, pacaran saja sana dengan Hyuga atau Caldwel agar tidak mengganggu ku!"
__ADS_1
"Eiy, udah langsung di restui aja, nih. Berarti kalau misalnya salah satu dari mereka melamar ku kakak akan menerimanya dong!"
"Tidak semudah itu, maimunah!"
Adriana kemudian menggembungkan pipi cuby nya kesal. Ia kemudian membalikkan badan sambil melipat tangannya di dada sambil mendengus sebal.
"Huh, katanya pacaran saja sama Hyuga atau Caldwel, tapi kenapa kalau mereka melamar tidak di restui? Dasar munafik!"
"Karena aku belum rela!"
"Ih, menyebabkan banget! Nanti akan aku adukan pada kakak ipar Rosean! Titik tidak pake koma!"
"Eiy, kenapa kau malah menarik Rosean dalam hal ini, sih?!"
"Karena kakak kan takut pada kakak ipar Rosean."
Rian mengepal tangannya dengan kepala yang kian memanas karena amarah. Adriana menampilkan senyum kemenangan karena ia berhasil mengerjai kakaknya itu.
"Meira, lihat kakak mu itu, benar- benar sangat menyebalkan!"
"Bukankah kau adalah kakak kandungnya? Itu malasalah mu bukan urusan ku. Aku kan hanya adik saja." Ucap Meira.
"Ngomong- ngomong, kenapa hanya Caldwel dan Hyuga saja yang di ajukan? Lalu kalau Shamus bagaimana?" Tanya Adriana.
"Owh, kalau Shamus, aku lihat dia berduaan dengan Rea beberapa hari lalu."
"Apakah mereka berpacaran?!" Tanya Adriana dengan antusias.
"Em, sepertinya benar, soalnya mereka terlihat sangat mesra. Baju mereka juga couple."
Mata Adriaan berbinar senang, ia turut senang dengan kebahagiaan sahabat- sahabatnya. Sepertinya dia juga tidak peduli kalau dia akan single selamanya.
"Bagaimana dengan kakak? Apa kakak tidak mau berpacaran?" Tanya Meira.
"Kalau itu, sih, aku tidak terlalu peduli. Tapi pertanyaan ku, kalau mereka berpacaran seperti apa, ya, sikapnya?"
"Kalau di pikir- pikir benar juga, soalnya setiap mereka bertemu selalu saja bertengkar."
Meira, Rian, dan Adriana memasang pose berpikir. Adriana memikirkan sikap Rea yang melembut seperti kucing mirip dengan Shamus yang konyol.
Rian memikirkan Shamus yang bersikap lebih dewasa mirip dengan Rian. Sementara Meira, ia berpikir kalau Rea selalu, memukul Shamus setiap langkah mereka(?).
"Haha, pasti sangat sweet, deh." Ucap Adriana.
"Ya, aku rasa mereka akan terlihat lebih baik." Ucap Rian.
"Aku tidak yakin tentang hal itu." Ucap Meira dengan wajah curiga.
Dan pemenang pemikiran itu adalah, Meira. Karena nggak mungkin hari- hari pacaran Rea dan Shamus akan terlewati tanpa kekesalan dan pukul- pukulan.
BERSAMBUNG~
"Bagi yang menjawab benar selamat, ya! Pemikiran kalian mantap!" Ucap Author Numpang lewat🤣.
__ADS_1