
Shaquil POV
Sekarang pukul 23 lewat 29 menit, seharusnya sih, ayah sudah tidur bukan kalau jam segini? Kalau begitu, aku langsung ke kamar saja nanti, jangan sampai membangunkannya.
Hah, akhirnya aku bisa melihat wajah ayah dan Rian lagi, tapi aku masih sedikit penasaran, kenapa nama ku dan nama Rian hampir mirip?
Apa kami adalah saudara?
Ah, itu adalah sesuatu yang tidak mungkin. Ngomong- ngomong, besok adalah hari festival kembang api bukan?
Enaknya sih kalau lihat festival tu sama orang tercinta. Seperti pacar atau suami biar di kira laku, lagi pula perasaannya kan pasti lebih beda kan di banding sama keluarga?
Tapi apa boleh, buat, aku kan masih kecil, dan udah jomblo eh, single dari lahir. Tapi kalo mainin hati anak orang pasti kan nggak masalah.
Hahaha, udah kebayang deh gimana amukan dari si orang tua anak saat tahu bukan mainan melainkan hati anaknya yang patah. Kasihan sekali, tapi sayangnya aku bukan good girl tapi bad girl.
Jadi, siap- siap sakit hati atau aku friend-zone nin. Haha, aku penasaran, siapa ya yang bisa menaklukan hati si wanita perfect ini?
Ceklek, akhirnya kereta kuda yang membuat pantatku sakit ini berhenti juga. Aku turun dan melihat ke rumah milik Ayah Nik. Aku menghela napas lega, aku pulang.
Kriet, eh, pintunya tidak di kunci, kah? Apa gara- gara frustasi aku tidak ada jadi ayah tambah teledor?
Tapi ya kali kaya begitu, aku harus masuk dan cari tahu. Jangan- jangan ada ayam nyasar yang masuk ke dalam rumah ayahku. Bisa gawat kalau begitu.
Author POV
Shaquil pun masuk ke dalam rumah dengan perasaan khawatir. Dia bahkan sudah siap pedang di sebelahnya untuk menebas kepala orang.
"Jika ada yang mendekat tinggal tebas saja. Benar, pasti semudah memotong kertas." Batin Shaquil.
Ceklek, lampu menyala dan terlihatlah para pekerja toko kue ayah Shaquil beserta Rian dan ayahnya itu. Mereka memakai topi seperti topi ulang tahun dan juga kue.
Shaquil pun terkejut saat melihat hal itu. Ternyata pintu yang tidak di kunci itu adalah akal- akalan dari ayahnya.
"Kirain ada ayam nyasar, ternyata yang nyasar bukan ayam, melainkan naga masuk lubang semut." Batin Shaquil.
Ayah Nik pun berlari memeluk Shaquil dengan erat. Bedanya sekarang, karena fisik Shaquil sudah di latih, dia jadi tidak kesakitan lagi dan membalasnya dengan santuy.
"Kamu akhirnya pulang, nak." Ujar Ayah Nik.
"Bukankah aku sudah berjanji? Jika aku berjanji, maka pasti akan aku tepati." Ucap Shaquil.
Ayah Nik merekahkan senyumannya dan di sambut tangisan haru oleh para pekerjanya. Tapi Rian malah merusak suasana mengharukan itu.
"Huwa, aku juga mau peluk!" Teriak Rian.
__ADS_1
Buagh, Ayah Nik memukul kepala Rian dan menghentikan langkahnya mendekati Shaquil. Dengan tatapan tajam, Ayah Nik berbalik menatap Rian.
"Berani sentuh putriku, maka neraka lah pilihan mu. Mengerti?" Suara yang pelan namun menyeramkan.
Rian mengangguk lalu menunduk dengan wajah di tekuk. Jelas bukan kalau di sedang kecewa, lantaran tidak dapat menyentuh wanita yang di sayanginya.
Shaquil mendekat dan menepuk pundak Rian, "Sudah, aku baru kembali dan sudah di hiasi wajah cemberut begini? Aku tidak terima tahu?"
Wajah senang pun menghiasi wajah Rian, beruntung dia bukan tipe orang yang 'di kasih hati minta jantung.'
Tapi tentu saja ada orang yang terbakar api cemburu, siapa lagi kalau bukan Ayah Nik yang sedang menggigit sapu tangan Shaquil sambil menahan amarah?
"Hiks, cuma dia saja yang di tepuk, aku nggak sama sekali. Aku kecewa." Ucap Ayah Nik.
Ayah Nik kemudian berbalik dan duduk dengan tangan di letakkan di paha menyangga tubuhnya yang berbobot 79 kg itu.
"Eh, ayah kok jadi sentimwn begini? Ayah lewat jalan mana tadi memangnya? Jalan patah hati, atau jalan cemburu buta?" Shaquil menggoda ayahnya itu.
Ayah Nik kemudian berbalik dengan memperlihatkan puppy eyes nya dengan wajah yang mengundang gelak tawa. Shaquil tentu saja terkejut dan gemetar menahan tawa.
"A, ayah baik- baik saja?" Tanya Shaquil.
"Hiks, huwa, kenapa cuma dia yang dapat? Ayah tidak dapat, ni? Apa kau lebih menyanyaginya dari pada ayah?"
"Iya, iya, aku akan mengelus ayah, bagaiamana? Apa sudah puas?"
"Belum."
"..."
Shaquil hanya bisa diam merasakan sikap kekanak- kanakan ayahnya yang ternyata lebih buruk dari bayi usia 5 bulan!
"Ayah, semuanya pasti sudah lelah, dan besok juga haru bekerja. Ini kan juga sudah malam." Ujar Shaquil.
"Huh, baiklah, kalau begitu kita adakan saja pestanya besok malam." Ujar Ayah Nik dengan penuh semangat.
"Apa?!"
"Benar kan semuanya?"
"Ya!"
Shaquil hanya bisa mengiyakan dan keributan kecil hari itu berakhir dengan rencana menghancurkan gendang telinga dan membangunkan orang besok malam.
.
__ADS_1
.
.
.
.
Pukul 05:34, Shaquil sudah mulai merapikan meja, memasak dan menyapu di toko kue itu. Karena sekolah Knight sekolah kesatria, tentu saja akan menyuruh muridnya untuk selalu bangun pagi.
Itulah sebabnya Shaquil dapat bangun terlebih dahulu dari pada ayahnya dan Rian. Pukul 07:32, toko di buka dengan aroma roti harum yang menyelimuti toko mereka.
Pelanggan berdatangan karena mencium aroma roti yang baru saja di panggang itu. Enak, kata- kata yang keluar dari mulut mereka setelah mencicipi roti buatan Shaquil.
Kalo mereka tahu pembuat roti yang enak itu adalah orang yang tampan, di jamin toko kue milim ayah Shaquil seperti pasar yang banyak binatang buas.
"Permisi, apa ini toko Kue Ganteng Bingits?"
Seseorang datang menggunakan jaket berwarna merah dan headset yang setia berada di lehernya. Pemuda berambut krem itu menaikan topinya dan melihat daftar makanan di sana.
"Ya benar ini adalah toko Kue Ganteng Bingits, mau pesan apa?"
"Em, kue pelipur lara, surga duniawi, senyum bagai mentari, dan minuman coklat semanis gulali."
"Baiklah, silahkan tunggu sebentar, ya."
"Oh ya satu lagi kak, tolong minta orang yang bernama Shaquil untuk bertemu di meja ku, ya?"
"Oh, baiklah."
Kasir toko kue ayahku pun masuk ke dapur menyampaikan pesanan sekaligus permintaan bocah berambut krem itu.
"Oh, baiklah, aku akan menemuinya. Kalian tunggu sebentar di sini." Ujar Shaquil.
"Baik, bos cilik."
Shaquil pun keluar dari dapur dengan keringat yang menghiasi wajahnya. Tentu hal itu menaikkan inisiatif para gadis di sana untuk mendekatinya.
Shaquil pun tiba di meja yang di maksud, betapa terkejutnya dia. Anak berambut krem dengan jaket merah itu adalah Caldwel.
"Caldwel, kenapa kau di sini?"
"Untuk mengajakmu ke festival, jadi apa kau mau ikut?"
BERSAMBUNG~
__ADS_1