
Shaquil POV
"Pak, berikan aku waktu sebentar."
"Baiklah, 5 menit."
Apa? 5 menit? Buat masak telur aja belum kelar! Sial, gw malah laper kan sekarang.
"Pak, aku rasa 5 menit terlalu sedikit, bagaimana kalau di perpanjang?"
Dispenser, kau memang penyelamatku (maksudnya Caldwel). Terima kasih, kau memang sahabat sejatiku, nggak kaya si konyol bin nyebelin itu(maksudnya Shamus).
"Em, baiklah, kalau begitu aku perpanjang menjadi 10 menit."
WTF?! Waktunya cuma di kali dua aja? Kenapa nggak di bagi 1000 aja sekalian?!
"Bagaimana Shaquil, apa kau sanggup?" Tanya guru itu dengan tatapan kasihan.
"Iya, saya sanggup, Pak."
Guru menyebalkan, akan ku buat kau merasakan ketidak seriusan ku dalam mengerjakan dari jawaban dan cara aneh yang aku lakukan!
Baiklah, kalau gitu kita mulai dari menjumlah angka- angka ini dulu. Yosh, ayo kita mulai, akan aku buat kau geleng- geleng kepala nanti.
Isi coret- coretan Shaquil:
*47-(15+7)\=25
25+50+30\=105
Total halte\=3
Kalau gitu, 105:3\=35
Jadi kesimpulannya, umur supir bisnya adalah 35 tahun*!
Astaga, jawaban dan cara dari mana ini? Dari got, selokan, atau lubang hidung gajah? Bener- bener nggak nalar, jika aku jadi guru itu, aku pasti akan tertawa sampai tertabrak tank perang.
"Ja, jawabannya adalah 35 tahun, dan ini, a, adalah, ca, caranya."
Sialan, sekarang aku cara bicaraku malah terbata- bata kan? Padahal aku tidak sedang membangun rumah melainkan mengerjakan tugas tidak senonoh. Terbata- bata dari mananya?
"Hm, jadi begitu..."
Uh, rasanya seperti ingin segera masuk ke dalam dompet ayah untuk bersembunyi saking malunya. Kalau di hitung- hitung untung juga, sih, kan dompet ayah banyak uang.
"Baiklah, jawabanmu benar."
"Aku tahu kalo jawabanku selalu benar, aku kan anak, Apa?!"
Dia bilang tadi jawbannya benar? Aku yakin dia isi kepalanya sekarang sedang di bongkar dan ia lemparkan ke kubangan sampah. Bagaimana bisa jawaban nyeleneh seperti itu dianggap benar?!
"Hm, lumayan, sekarang lanjut pertanyaan ke dua." Pak guru sialan memperlihatkan smirknya.
Aduh, perasaanku mulai nggak enak lagi, nih. Apa aku mati aja dengan cara lompat ke kolam penuh emas ya? Lumayan, dapet thr yang belum kesampean.
'Pertanyaan ke dua:
__ADS_1
Kalau kamu punya uang 10.000, bagaimana cara kamu bisa membeli televisi?'
Astaga, pertanyaan aneh apalagi ini? Uang 10.000 itu baru bisa beli sate telur 5 tusuk doang. Itupun aku belum kenyang tahu?
"Bagaimana caranya?" Tanya guru itu mendesak Shaquil.
"Bukankah itu pertanyaan yang sangat mudah?"
Mudah palamu dasar kepala tong isi tomat busuk. Gimana caranya coba? Huwa, gw pengen cepetan lulus, nyari pasangan abis itu nikah!
"Em,"
Aku terus- terus saja mendengus kesal, sebenarnya apa sih yang ada di pikiran guru ini? Dia pasti sedang kerasukan setan, bukan, dia pasti kemasukan iblis kepala 10 berekor 7 bermata 1 juta!
Kali ini tidak ada cara lain selain menjawab nyeleneh lagi, "Ya, tinggal beli aja." Ujar ku sudah kehabisan akal. Walau enggak juga.
"Kok bisa? Kan uangmu 10.000." Tanya Guru sialan.
"Iya, 10.000, maksudnya $10.000."
Kan banyak tuh, coba aja 13.000 kamu kaliin 10.000. Jawabannya 130.000.000 kalo uang Indonesia, uang segitu juga bisa kok beli cowok, tapi setelah itu di tinggalin.
Author POV
Tak, mulut guru itu terkunci saat mengetahui tipu muslihat dan akal licik muridnya. Guru itu masih membeku di tempat, sepertinya dia sedang menimang- nimang jawaban Shaquil. Emang bayi di timang- timang?
"Pft, lihat raut wajahnya itu, hahaha, aku benar- benar murid durhaka. Hahaha!" Batin Shaquil terus tertawa dalam hati.
"Baiklah, kau ternyata cukup pintar juga. Malah aku rasa kau lebih hebat dari yang di ceritakan." Ujar guru itu.
"Ya, aku akui, kau juga lumayan sombong."
Jleb, kata- kata itu lantas langsung menusuk hati Shaquil yang sedang berbahagia itu. Sangat menyakitkan, seperti dia yang ninggalin kita pas lagi sayang- sayangnya.
"A, apa maksud bapak, ya?" Tanya Shaquil menahan amarah.
Guru itu kembali memperlihatkan smirknya, "Bukankah sikapmu tadi memperlihatkan kesombonganmu?"
"Ke, k*p*r*t, awas saja kau nanti." Batin Shaquil dengan senyum di paksakan.
Sekedar saran, kalau senyum jangan di paksain, apa lagi cinta, kalau cinta kamu paksain, pasti nggak akan baik. Biar ngalir aja kaya jalan tol tanpa hambatan. Eh, ngalir itu di sungai ya? Kok meleset ke jalan tol.
Kelas penyihir sore itupun selesai, Shaquil keluar dengan wajah ditekuk sangat negh dilihat. Rosean hendak mendekati Shaquil, tapi malah ke duluan Caldwel.
"Hei, ada apa? Apa gara- gara guru tadi?" Tanya Cadlwel.
"Eh?!"
Caldwe tiba- tiba terkejut karena Shaquil melotot ke arahnya dengan wajah marah. Seperti ibu- ibu yang sedang nyeramahin anaknya yang gagal ujian, serem woi.
"Ka, kau baik- baik saja?" Caldwel bertanya lagi.
"Jangan sebut guru itu lagi, atau aku akan mengahabisi mu." Ujar Shaquil menekan nada bicaranya menjadikanny tambah menakutkan.
"Ba, baiklah, ba, bagaimana kalau kita ke ruang olah raga, saja?"
"Ruang olah raga?"
__ADS_1
"Iya, kau bisa melampiaskan kekesalanmu di sana."
"Baiklah ayo."
Sesampainya di ruangan olahraga, tanpa di sangka, para gadis yang pemasaran akan hubungan Caldwel dan Shaquil pun membuntuti mereka dari kejauhan.
"Hah, baiklah, akan aku anggap sarung tinju di depanku sebagai guru menyebalkan itu!" Ujar Shaquil.
Caldwel hanya diam di tempat, karena jika dia ikut campur, dia pasti akan kena amukan Shaquil, jika bukan hal itu mungkin dia akan kena tinjunya.
Bugh, buagh, bugh, Shaquil yang masih terbakar api amarah pun meninju sarung tinju itu dengan amat keras. Sampai karung tinju itu berlubang dan isinya mulai keluar.
"Ah, berhenti Shaquil,"
Caldwel memegang tangan Shaquil yang ternyata berdarah. Darahnya memang sedikit, tapi pasti sangat perih.
"Jika kau terus melanjutkannya, maka tanganmu bisa- bisa remuk seperti camilan enak yang terinjak. Kan sayang sekali." Ujar Caldwel.
"Kau berlebihan." Ucap Shaquil dengan wajah datar.
Sementara di sisi para fans Caldwel dan Shaquil, mereka mulai berbisik- bisik. Seperti yang orang bilang 'semakin rendah suaranya, semakin panas beritanya.'
Dan benar saja, beritanya itu memang panas, para fans- fans itu mengira kalau Shaquil dan Caldwel itu gay.
"Astaga, apa mereka adalah salah satu dari pasangan sejenis?"
"Ah, kumohon jangan, masa ganteng- ganteng gay? Aku sungguh tidak terima."
"Huhuhu, kumohon jangan sampai seperti itu."
Mereka tidak berkata seperti itu tanpa sebab, mereka mengatakan hal itu karena posisi Shaquip dam Caldwel lah yang membuat semua orang ambigu, termasuk aink.
Kalau ada yang tanya gimana posisinya, si Caldwel itu berlutut di depan Shaquil. Terus Shaquil itu duduk di depannya sambil mainin kakinya dan mereka itu saling tertawa.
BERSAMBUNG~
\-Iklan\-
"Author, sekarang harus nepatin janji dengerin curhatanku." -Shaquil.
"Nggak mau, lu nggak bantuin gw ngerjain ujian, kok." -Author.
"Ya elah thor, ujian kan nggak boleh di bantuin." -Rea.
"Ya, kalau nggak di bantuin di semangatin, kek. Gw tu sah bosen, dah bosen berjuang sendiri tau nggak?" -Author.
"Lah, kok lu yang curhat, sih?" -Shaquil.
"Nggak usah banyak b*c*t. Lu mau curhat kalo lu punya guru yang nyebelin kan? Gw juga punya tahu!" -Author.
"Hehe, iya, iya, guys jumpa besok lagi, ya!" -Shaquil.
"Jahat bat sih kalian -,-." -Author.
__ADS_1