
Shaquil pov
Leanna, orang yang paling berpengaruh dalam pemyiksaanku. Saat ini, dia berada di depanku, aku ingin pergi. Tapi, jika aku pergi, berarti aku sudah mengaku kalah!
"Kenapa kau mencarinya?" Rosean tiba- tiba bicara dengan nada bicara dingin.
Nada bicara dingin itu baru aku dengar darinya sejak kami bertemu dulu. Aku memutar kepala, nampaklah Rea yang juga memperlihatkan wajah dingin dan kesalnya.
"Aku, cuma mencarinya karena ada orang yang mengatakan kalau dia itu tampan. Ternyata saat di lihat langsung lebih tampan ya." Ujar Leanna dengan penampilan menggoda.
"Hei, cewek j*l*ng! Jangan berani- berani menggoda teman kami ya!" Ujar Rea berdiri dengan cepat.
"Kau, terlihat seperti seorang, pelak*r." Ucap Lynelle sambil memegang boneka beruang berwarna pink lembut itu dengan tatapan imut nan polos.
Aku tidak percaya kata- kata 'pelak*r' akan keluar dari mulut gadis imut nan polos itu. Caldwel ternyata juga ikutan terkejut saat mendengar kata- kata kasar dari mulut adiknya.
"Heh, apa kau ingin mendekati Shaquil dengan kekayaanmu itu? Sayang sekali, tapi Shaquil kami bukan orang seperti itu." Tatapan Shamus mulai mendingin.
Aku sempat berpikir, "Kenapa mereka tiba- tiba seperti ini, mereka seperti sedang, melindungiku?" Batinku bingung.
Rea pov
Cewek sialan dari mana sih dia? Berani- beraninya dia menggoda Shaquilku yang baik, imut, manis dan polos itu. Aku tidak akan pernah membiarkannya jika sampai dia berani menyentuh Shaquil.
"Huh, orang- orang menyebalkan, urusanku hanya dengan Shaquil seorang saja. Benarkan, sayangku?" Leanna berkedip menggoda Shaquil.
Huh, cewek br*ngs*k itu, tapi, kenapa Shaquil tersenyum? Apa aku salah lihat? Aku rasa tidak. Lupakan saja, yang aku lakukan sekarang adalah menghabisi cewek menyebalkan ini.
Author pov
"Maaf, nona Leanna, tapi aku sedang sibuk saat ini. Mungkin kau bisa menggoda yang lainnya, karena aku tidak tertarik sama sekali." Ujar Shaquil dengan tatapan dingin.
"Keterlaluan, dia bahkan berani merendahkan Leanna yang cantik badai seperti ini? Huh, tunggu saja pembalasanku!" Batin Leanna geram.
Leanna pun meninggalkan mereka berdua tanpa satu patah katapun. Yang lainnya tertawa puas melihat Leanna pergi dengan perasaan jengkel dan kesal.
"Hahaha, benar- benar cewek bodoh, dia menggoda Shaquil dengan cara murahan seperti itu? Tidak akan mempan!" Ujar Shamus masih tertawa mengejek.
Tertawanya Shamus sangat keras, dan bahkan sepertinya dia sengaja agar Leanna tambah kesal dan marah. Ya, kalau bukan Shamus siapa lagi yang senamg memancing emosi seperti itu?
"Tapi, cewek itu terlihat sangat, memuakkan." Ucap Lynelle membuat semuanya diam.
__ADS_1
"Ya, dia kan memang memuakkan. Benar tidak?" Tanya Rea meminta teriakan setuju.
"Tentu saja!"
"Baiklah, sekarang sudah pukul 21:38 waktunya tidur teman- teman." Ucap Caldwel.
Semuanya ber oh panjang dengan nada kecewa. Jelas mereka tidak mau berpisah secepat ini, tapi apalah daya, besok mereka semua harus sekolah.
"*****, kenapa waktunya cepet banget sih?" Tanya Rea tidak terima.
"Benar, padahal aku masih ingin bermain- main lebih lama lagi." Ujar Rosean menghela napas berat.
"Tenang saja, kitakan bis. berkumpul lagi besok." Ujar Lynelle menenangkan Rosean dan Rea.
"Lynelle benar, ayo tidur, eh?"
Mata Caldwel terbelalak sempurna saat melihat teman sekamarnya itu saat ini sedang, memeluk pohon(?). Caldwel menepuk jidat frustasi, mau tak mau Caldwel harus menarik Shamus dan Shaquil agar melepaskan pohon itu.
"Jangan lebay ah, ayo kembali ke kamar dan tidur." Ujar Caldwel dengan tegas.
"Kenapa mereka bersikap seperti anak kecil?" Tanya Lynelle dengan polosnya.
"Itu karena hanya luarnya saja yang kelihatan tua. Tapi dalamnya masih seperti anak- anak." Rosean menjelaskan dengan bahasa yang mudah di mengerti.
Shamus dan Caldwel hanya diam saja, memberi Shaquil waktu untuk sendiri sampai ia tenang. Sementara di sisi Shaquil, tampak sepertinya ia sedang memperhatikan sesuatu, para wanita kah?
Shaquil pov
Leanna itu, dia lebih menyebalkan dari yang aku duga sebelumnya. Huft, setidaknya aku punya teman- teman yang melindungiku dan ada saat aku senang ataupun susah.
Sekarang pun, mereka memberi ku waktu untuk sendiri, tanda bahwa mereka percaya kalau aku bisa menghadapi ini semua. Aku menatap 1 lantai di atas kamar Rosean, Rea, Lynelle di bagian kiri.
Tampaklah seorang Leanna yang sepertinya sedang menggodaku di malam itu, dia adalah Leanna. Aku hanya menatapnya dengan datar nyaris tanpa ekspresi agar dia tau kalau dia tidak akan berhasil.
Menatapnya saja membuatku muak, apalagi mendekatinya. Aku pun kembali masuk, tapi sekarang aku bisa tersenyum karena setelah ini, aku akan segera menghancurkan hatinya.
Yah, tentu saja melakukan apa yang di lakukan seorang playboy sejati. Rencanaku akan aku mulai besok dan akan aku pastikan, kau menyesal Leanna.
*Gimana gengs, kurang cantik apa kurang jelek😎*
__ADS_1
Author pov
Leanna artinya jujur dan penuh keyakinan. Sementara nama keluarganya adalah Menea. Oke skip balik ke Shaquil dan yang lainnya.
"Hei, Shaquil, apa kau sudah merasa baikan?" Tanya Caldwel.
Setelah bergabung dengan kami, sisi perhatian dan baik hati yang belum pernah di lihat Shamus dan Shaquil pun muncul. Saat pertama kali Caldwel melakukannya saja di kira kerasukan.
Mereka sekarang sudah mulai terbiasa dengan sifat dispenser Caldwel. Maksudnya kadang dingin kadang hangat.
"Iya, aku baik- baik saja. Terima kasih sudah mengkhawatirkanku." Ujar Shaquil.
"Tidak masalah~" Jawab Shamus.
"Emang tidak masalah sih, tapi kenapa malah lu yang njawab?" Batin Shaquil.
Setelah itu keesokan harinya, yang bagian belajar di sekolahnya aku skip aja dulu. Di tempat yang sama yang mereka gunakan untuk bermain di malam hari.
"Shamus," panggil Shaquil.
"Hm, ada apa?"
"Bagaimana caranya menjadi fakeboy?"
Jeder, pertanyaan Shaquil membuat semuanya terbengon- bengong. Apalagi Rea dan Rosean yang hampir tidak bisa menutup mulutnya saking terkejutnya.
"Hei, apa kau kerasukan? Hah, jangan bilang hantu yang pernah merasuki Caldwel sekarang berpindah kepadamu?!" Tanya Shamus dengan sedikit hiateris.
Buagh, Shaquil memukul kepala Shamus lantaran terus- menerus memegang wajahnya yang mahal. Shamus pun mengerang kesakitan sementara yang lainnya hanya diam.
"Jangan berpikit aneh- aneh. Aku hanya ingin balas dendam kepada seseorang saja." Ujar Shaquil memalingkan kepala.
"Apa dia adalah pelak*r kemarin yang bernama, Leanna?" Tanya Lynelle.
Perkataan Lynelle tepat sasaran, semuanya mengangguk paham. Shaquil hanya mengantup kan bibirnya memilih diam.
"Jadi kau ingin membuat perempuan jal*ng yang bernama Lynelle itu sakit hati?" Tanya Rosean yang kini perkataannya mulai sekasar Rea.
"Tentu saja itu sudah pasti bodoh!" Ujar Rea.
"Jadi, bagaimana caranya, Shamus?" Tanya Shaquil dengan tatapan berharap yang tidak dapat di tolak.
__ADS_1
BERSAMBUNG~