Magician Knight

Magician Knight
Ratu?


__ADS_3

Blush, pipi Kiano menjadi memerah, lucu sekali. Meira tertawa kecil berhasil menggoda orang terasa sangat menyenangkan baginya.


"Pft, lucunya." Batin Meira.


"Ekhem, kau ini sangat suka bermain tarik ulur, ya."


"Hihi, tau saja. Tapi aku serius loh es krim."


Set, Kiano mendekatkan wajahnya ke arah wajah Meira. Selisih jarak mereka sekarang hanya beberapa inci saja. Set, Kiano mengangkat dagu Meira.


"Aku juga serius loh rubah kecil."


Meira membuang wajah dengan pipi agak memerah, sedikit. Mata biru safir itu seketika menyala dan membuat Kiano agak terkejut.


"Eh, aneh, aku baru pertama kali melihat mata seperti ini." Batin Kiano.


"Hm, hei es krim, ada apa?"


"Ah, tidak ada apa- apa. Kau mau pergi ke sebelah sana tidak?"


"Tentu saja jawabannya, iya!"


Meira menarik tangan Kiano agar mengikutinya. Senyum merekah di antara pasangan cinta monyet itu, jadi iri, deh.


Baiklah, sekarang balik lagi ke Adriana dan Caldwell. Mereka berdua berkeliling layaknya pasangan yang berkencan, walau otw tapi anggap aja seperti itu.


"Ini sangat enak!" Ujar Adriana.


Wush, Caldwell mengangkat tangannya dan muncul cahaya. Syush, setelah cahaya itu hilang, sebuah sapu tangan berwarna putih terlihat.


Set, Caldwell mengusap bagian pinggir bibir Adriana yang terkena kotoran dari makanan yang ia makan. Blush, pipi Adriana agak sedikit memerah.


"Kau ini, kalau makan itu hati- hati."


"Huh, kau ini hanya ingin menggoda ku saja, kan?"


"Hehe, tidak juga."


"Hei, Caldwell!"


Set, Adriana dan Caldwell berbalik mencari arah suara. Mereka agak sedikit terkejut, karena yang memanggil nama Caldwell adalah seorang pria bertubuh agak kekar.


Mata Caldwell berbinar bahagia melihat sosok yang memanggil namanya itu. Bukan hanya itu, mereka juga terlihat akrab satu sama lain.


"Ayah!" Teriak Caldwell.


"Ayah? Jadi itu ayahnya si Dispenser, ya?" Batin Adriana.


Pria itu memiliki rambut krem yang sama seperti Caldwell. Hanya saja matanya berwarna hitam berbeda dengan milik Caldwell.


Kulitnya juga putih, otot- otot yang besar dan menakjubkan. Caldwell berlari menuju orang yang ia panggil sebagai 'ayah' itu.


Hug, mereka berpelukan dengan harmonis sekali. Tatapan Adriana menjadi sedikit sayu, ia terlihat agak iri dengan dua ayah dan anak itu.


"Ayah! Kenapa kau ada di sini?"


"Hoho, apakah aku membutuhkan izin dari mu untuk ke sini?"

__ADS_1


"Haha, aku benar- benar sangat merindukan ayah!"


"Aku juga, huhu."


Ayah Caldwell melirik ke arah Adriana yang berada di belakang Caldwell. Set, Adriana sedikit membungkukkan badan memberi salam hormat.


"Oh, siapa perempuan itu? Apakah dia pacar mu?" Goda Ayah Caldwell.


"Ayah, hentikan. Jangan bicara aneh- aneh dong."


"Haha, bukan, aku bukan pacarnya Caldwell. Tapi otw ke sana, sih."


"Huwahaha, kau sama seperti ku saat aku masih muda dulu!"


"Sejak kapan?" Tanya Caldwell.


Ayah Caldwell terus menggoda anaknya itu, Adriana tersenyum manis. Sampai dia tidak sengaja melihat sosok yang membuatnya curiga.


Sosok itu menggunakan jubah berwarna hitam yang aneh. Gerak- geriknya juga mencurigakan. Adriana memutuskan untuk mengikuti sosok aneh itu.


"Em, Paman, saya undur diri sebentar. Kalian berbicaralah, aku akan segera kembali."


"Baiklah, cepat kembali, ya!"


"Da, Adriana."


Drap, drap, drap, Adriana berlari dengan kecepatan tinggi. Sekarang mereka seperti bermain kejar- kejaran antara pengejar dan yang di kejar.


Drap, drap, drap, melewati para pengunjung lainnya sampai ada yang masuk ke dalam tong karena kejar- kejaran yang berlangsung itu.


Tap, tap, set, mereka berdua sampai di sebuah gang kecil. Sosok aneh itu menghilang, Adriana menoleh ke kanan dan ke kiri.


Brak, tiba- tiba ada sesuatu yang terjatuh di bagian lorong kecil di dalam gang. Adriana memasang langkah waspada.


"Apa itu?!" Batin Adriana.


Tap, tap, tap, Adriana berjalan sambil mengendap- endap mendekati lorong kecil itu. Jantungnya berdegup kencang, tatapannya juga menajam.


"Kau ini seharusnya lebih berhati- hati lagi."


"Maaf yang mulia Ratu."


"Tidak ada gunanya kau meminta maaf begitu, sialan!"


"Eh, suara itu kaya kenal." Batin Adriana.


Tap, tap, Adriana semakin mendekat ke arah dinding. Bruk, Adriana menempelkan dirinya ke dinding agar lebih aman.


"Huh, sudah lupakan saja. Apa kau mendapatkan benda itu?"


"Iya, tuan. Saya mendapatkannya. Ini dia, soul powder yang Anda inginkan."


"?!" Adriana membelalakkan mata.


Soul powder adalah sebuah benda terlarang keberadaannya. Karena itu di buat secara ilegal, belum lagi dengan kekuatan kegelapan yang terkandung di dalamnya.


Selain itu, kegunaan soul powder adalah membangkitkan jiwa- jiwa yang sudah tiada. Ada alasan kenapa penggunanya di larang walaupun bermanfaat.

__ADS_1


"Kenapa mereka bisa memiliki benda berbahaya itu?" Batin Adriana.


Dulu, soul powder pernah di uji coba oleh sebuah lembaga di bawah kekuasaan Kota Reala. Memang berhasil, tapi itu adalah awal terjadinya bencana.


Jiwa- jiwa yang di bangkitkan itu menggila dan mengubrak- abrik Kota Reala. Mereka membunuh, menyakiti, dan menghancurkan Kota Reala tanpa tersisa.


Butuh waktu sekitar 2 tahun untuk membereskan kekacauan itu. Orang yang berhasil menghentikan kekacauan itu adalah para Dewi Perang.


Lihat chapter -Dewi Perang- kalau ada yang penasaran. Adriana mengepalkan tangan kesal. Dia diam- diam membaca mantra.


"Angin sepoi- sepoi datanglah." Ucap Adriana lirih.


Syush, jubah yang di gunakan orang itu berkibar. Sluk, tudung jubah terjatuh, betapa terkejutnya Adriana. Rambut warna merah dengan mata hijau.


Tidak lain lagi, dia adalah ratu Kota Reala yang sangat di hormati. Adriana terpaku akan kebenaran yang ada di depannya.


"Ba, bagaimana mungkin...?" Gumam Adriana.


"Hm, siapa itu?!"


"Ah, gawat!" Batin Adriana.


Syush, Adriana membaca mantra portal dimensi dengan cepat. Wush, saat di lihat, Adriana berhasil melarikan diri. Ratu berdecak sebal.


"Sialan, siapa sebenarnya orang itu?"


"Tuan, apa yang harus kita lakukan?"


"Segera selidiki dan tangkap siapapun yang mendengar perbincangan kita tadi."


"Baik, Tuan!"


Syush, Adriana melarikan diri dan muncul di sebuah tempat. Ia muncul di depan Meira dan Kiano yang sedang makan.


"Huft, untunglah." Ucap Adriana.


"Loh, kakak?"


"Guru? Kenapa guru ada di sini?"


Adriana mengedipkan mata beberapa kali, sampai dia melangkah mundur karena terkejut. Set, Kiano dan Meira memiringkan kepala bingung dengan polos.


"E, eh, ha, hai apa kabar?" Tanya Adriana canggung.


"Baik, kenapa kakak tiba- tiba menggunakan menggunakan portal dimensi?"


"Ahaha, karena aku lelah menggunakan kaki ku untuk berjalan saja." Adriana tersenyum canggung.


"Lelah berjalan? Kalau begitu gunanya kaki untuk apa dong?" Tanya Meira.


Adriana semakin gelagapan, bingung, dan blank menjawab pertanyaan bertubi dari Meira. Tring, Kiano paham karena dia termasuk peka.


"Ah, mungkin guru sedang terburu- buru tadi. Sudah, jangan membebaninya lagi."


"Oh, ok."


"Kiano, terima kasih banyak." Batin Adriana.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2