Magician Knight

Magician Knight
Love You


__ADS_3

Selama dua hari, kediaman Adriana dan Caldwell terasa sangat ramai dan berisik. Mau bagaimana lagi, akan ada orang yang menikah di kediaman mereka masing- masing. Di tambah lagi Caldwell itu anak tunggal.


Kebayang bukan lebaynya orang tua Caldwell. Mereka juga di beri hukuman kaga boleh ketemu sebelum nikah, loh. Poor Caldwell, dia terus saja cemberut setiap hari. Membuat ayah dan ibunya tertawa bahagia, ralat, tertawa nista.


"Menyebalkan, padahal aku sangat ingin bertemu Adriana." Batin Caldwell.


Sekarang Caldwell berada di jendela kamarnya, menatap bintang sambil sesekali menghalu. Iya, menghalu. Menghalu seberapa cantiknya Adriana saat menggunakan gaun cantik saat pernikahan mereka. Dan ekhem, betapa manisnya uhuk bibir uhuk Adriana.


"Aku benar- benar tidak sabar melihat mu, Adriana." Gumam Caldwell.


"Aku juga."


Deg, niatnya sih cuma mau bicara sendiri. Tapi pucuk di cinta ulam pun tiba, sang pujaan hati tiba- tiba datang. Lengkap dengan jubah berwarna hitam dengan rambut di ikat kucir kuda. Mata Caldwell terbelalak senang.


"Adriana?!"


"Hihi, apa kau merindukan ku?"


"Tentu saja aku merindukan mu!"


"Haha, kau sangat jujur."


Caldwell menatap intens mata Adriana, semakin lama tatapan Caldwell turun hingga ke bibir ranum Adriana. Bibir itu terlihat menggoda dan memabukkan. Sial, otak Caldwell mulai menghitam sepenuhnya.


Tak, Adriana menjitak kepala Caldwell sambil tersenyum manis. Kepalanya di dekatkan sampai beberapa senti. Mata biru mereka berdua saling bertemu, mata biru langit dan mata biru laut itu hampir tidak berkedip.


"Jadi, apa kau tersiksa selama ini?" Tanya Adriana penuh senyum mengejek.


"Bukannya itu sudah jelas? Kau juga terus saja mengabaikan ku."


"Eiy, ada yang ngambek, nih. Jangan marah gitu dong."


"Huh! Aku tidak akan ngambek. Tapi ada syaratnya!"


"Baik, baik, apa syaratnya?" Tanya Adriana tersenyum pasrah.


Tatapan Caldwell menjadi aneh, tidak bisa di deskripsikan. Matanya menunjukkan keinginan yang begitu besar. Adriana menatap polos tidak mengerti apa maksud tatapan buas Caldwell yang mulai menyeringai.


"Syaratnya adalah,"


Set, Caldwell menarik jubah Adriana mendekat ke bibirnya. Adriana terlihat masih bingung, sementara Caldwell terus saja tersenyum bahagia. Anak ini pasti kerasukan karena saking bucinnya. The power of bucin.


"Kau harus memuaskan ku di malam pertama kita. Bagaimana? Adriana ku sayang~?"


Krek, Caldwell menggigit telinga Adriana. Membuat pipi sang empu kepanasan di kedinginan malam. Set, Adriana buru- buru menarik badannya menjauh ke Caldwell. Alarm bahaya kembali berbunyi keras.

__ADS_1


"Sial! Anak ini baca apaan sih selama ini?" Batin Adriana berusaha tenang.


"Are~ Kau tambah manis."


"Dia pasti sudah g*la!" Batin Adriana.


Senyuman Caldwell membuat Adriana bergidik ngeri sambil menatap horor. Karena salting atau salah tingkah, Adriana langsung berpindah dimensi dan meninggalkan Caldwell yang menunjukkan wajah masam.


"Huh, kenapa dia pergi? Sudah ku duga, ajaran Shamus memang sesat."


Bibir di tarik ke samping, menampilkan senyum menyeringai indah. Ibu jari kanan di jilat dengan wajah sangat, aku ulangi, sangat menyebalkan. Tapi tampan, pikirannya mulai menggelap.


"Tapi lumayan juga. Bisa melihat Adriana tersipu malu seperti itu."


Di sisi lain, di sisi Adriana. Brak! Dia membanting pintu dengan wajah masih memerah padam. Ia menutup wajah itu menggunakan lengan kanannya agar tidak terlalu terlihat. Kan malu kalau sampai ketahuan.


"Caldwell sialan! Dia pasti akan membayarnya!" Batin Adriana.


"Bukankah sudah saya bilang, datang ke rumah mempelai pria itu bukanlah hal bagus."


"Wah! Kau mengejutkan ku saja Reryu!"


Yap, dia adalah Reryu, pelayan paling setia dan ngeselin di kediaman Adriana. Hampir seluruh perkataan Reryu benar, alias absolut. Adriana terus memonyongkan bibirnya membaca mantra, lebih tepatnya mantra sant*t gitulah.


"Kenapa kau ada di sini? Mengganggu orang saja tahu tidak?"


"Yah, kau benar. Besok adalah hari yang besar dan penentu kehidupan ku selanjutnya."


"Tidak perlu khawatir ataupun ragu, Tuan. Karena pilihan Tuan adalah yang terbaik. Saya yakin itu."


"Terima kasih atas dukungan mu, Reryu."


"Karena itu Tuan segeralah tidur."


"Iya, iya, sejak kapan kau mulai cerewet?"


"Saya undur diri dulu, Tuan."


Ceklek, pintu di tutup dengan begitu pelan. Takut hancur mungkin, kan pintunya mahal seharga emas. Senyum senang dan bahagia muncul. Sebentar lagi, semuanya akan di mulai.


Ding, dong, ding, dong, suara bel Gereja terdengar sangat keras. Mengantarkan pasangan muda itu ke altar pernikahan. Meira dan Kiano bertugas menebar bunga di sepanjang jalan. Sebenarnya itu karena permintaan dari Meira juga.


"Wah! Adriana benar- benar sangat cantik!" Teriak Rea lantang.


"Iya! Nanti minta PJ- PJ nya, yuk!" Ajak Shamus.

__ADS_1


"Tentu saja itu harus!"


Rosean menghela napas, "Kalian ini, apa hanya itu yang ada di pikiran kalian saat ini?"


"Ayolah Rosean! Itu sangat menyenangkan! Hitung- hitung dapat tambahan uang jajan." Ujar Rea.


"Benar sekali, kan lumayan!" Shamus


membela.


Rea dan Shamus terus berbicara berapa banyak uang yang akan mereka rampas dari Caldwell nanti. Memang pasangan yang serasi, sama- sama memiliki pemikiran dan otak licik yang sama. Huft, Rosean kembali menghela nafas.


"Mereka itu benar- benar, ya." Gumam Rosean.


"Sudahlah, namanya juga Shamus dan Rea. Siapa lagi yang bisa menghentikan mereka?"


"Benar juga, sih."


"PENGANTIN WANITA SUDAH TIBA! HARAP SEMUANYA BERSIAP!"


Suara mc itu menggema mengisi Gereja yang sangat besar itu. Rea dan yang lainnya memberi hormat sambil terus bersorak kegirangan. Kalau pengantin laki- lakinya sudah ada di altar. Cuma nunggu pengantin wanita.


Wush, srak, sring, Adriana muncul dengan gaun putih panjang sampai menyentuh lantai. Rambutnya di gulung ke belakang dengan rapi. Kedua tangannya menggenggam buket bunga.


Cantik, batin semua orang. Oh, jangan lupa dengan pedang putih cantik yang bersarang di pinggangnya. Nggak tahu buat apa, mungkin tipikal dari seorang Adriana. Set, Caldwell menjulurkan tangan dan di sambut hangat oleh Adriana.


"Ekhem, baiklah, bisa kita mulai?"


Adriana dan Caldwell mengangguk. Sang paus menyiapkan buku besar yang di bawanya. Semua orang menunggu dengan penuh kekhidmatan. Huft, Caldwell menghela napas agak gugup. Grep, Adriana menggenggam tangan Caldwell kuat, memberi dukungan.


"Jangan takut. Santai saja, mengerti?" Bisik Adriana.


"Ya, terima kasih."


"Anda, Nona Adriana Alaqua. Siapkah Anda untuk bersama dengan Tuan Caldwell Kalaila. Dalam susah dan senang, miskin dan kaya?"


"Saya bersedia."


"Dan Anda, Tuan Caldwell Kalaila. Siapkah Anda untuk bersama dengan Nona Adriana Alaqua. Dalam susah dan senang, miskin dan kaya?"


"Saya bersedia."


"Silahkan kepada dua pengantin untuk berciuman sekarang."


Caldwell berbalik menatap Adriana dengan bibir ranumnya yang membuka. Ih, bikin horny sumpah. Cup, kedua pasangan itu saling berciuman dan membuat kegembiraan bagi orang orang si sekitarnya.

__ADS_1


Tamat~


Maaf kalau misalnya aneh dan terkesan tidak jelas. Tetap semangat di masa pandemi.


__ADS_2