
"Anahita, sekarang giliran mu." Ucap Adriana.
"Baiklah kak Adriana."
Anahita menarik napas, ia terlihat sangat gugup. Untuk meredakan rasa gugup Anahita, Adriana tersenyum dan menatap Anahita hangat. Mata Anahita tiba- tiba menjadi yakin.
Ia kemudian mengangkat tangannya ke atas, "A water storm!"
Air yang entah dari mana berkumpul menjadi satu membentuk pusaran air. Hanya saja pusaran air itu ada di atas tanah dan mirip seperti badai sesuai dengan namanya.
"Bagus, jurus itu juga bisa di gunakan untuk pertahanan diri. Tapi tidak akan bisa di gunakan di daerah dengan rawan air."
"Ya, benar, karena A water storm membutuhkan air yang sangat banyak. Benar, kan, kak?"
"Benar, berikutnya adalah Alfathunisa."
Alfathunisa melangkah dengan perasaan gugup seperti Anahita. Ia menarik napas dalam- dalam dengan degupan jantung yang tidak beraturan. Ia takut jika misalnya akan membuat kesalahan.
"Alfathunisa, semangat, ya!" Teriak Anahita.
Anahita tersenyum hangat dan di balas dengan tatapan hangat Alfathunisa. Melihat persahabatan itu, Adriana ikut tersenyum lega karena murid- muridnya terlihat sangat akur.
Alfathunisa mengangkat tangannya, "Ground golem!"
Kretek, kretek, kretek, tanah di bukit Que tiba- tiba berguncang hebat seperti terkena gempa bumi. Duar, sebuah golem raksasa yang sepenuhnya di kendalikan oleh Alfathunisa keluar dari dalam tanah.
"Bagus, tapi jurus itu tidak akan bisa di gunakan di tanah yang penuh air dan becek, kan?"
"Ya, yang di katakan kak Adriana benar sekali. Jurus ku memang lemah di keadaan tanah yang seperti itu."
"Baiklah, kemudian Kiano."
Kiano melangkah dengan penuh rasa percaya diri seperti Hillary. Walau di dalam hati ia sangat takut kalau nanti akan di banding-bandingkan dengan adik perempuannya itu. Hak yang di takutkan Kiano pun benar- benar terjadi.
"Hei, Kiano, jangan sampai kau melakukan hal yang lebih buruk dari Anahita, ya." Ejek Adriana yang sebenarnya memberi motivasi.
"Cih, itu tidak akan pernah terjadi sampai kapan pun."
"Kalau di lihat- lihat lagi, kau terlihat seperti lelaki yang kasar dan biad*b, ya."
Jleb, kata- kata itu benar- benar menusuk hati Kiano. Kiano pun tersenyum terpaksa sambil menahan amarah. Lantaran Adriana mengatakan hal itu secara terang- terangan di depan adiknya yang masih polos.
"Nenek Adriana, kata- kata mu itu bisa di jaga tidak? Rasanya telinga ku sangat gatal, nih."
Jleb, Kiano melontarkan kata- kata perlawanan sekaligus peringatan. Adriana hanya tersenyum dengan manis tapi auranya sangat menakutkan dan membuat orang lain bungkam.
"Haha, maaf, ya, Kakek moyang Kiano."
"Sudah, sudah, kalian lebih baik menyelesaikan latihan ini sebelum waktu makan siang tiba." Ujar Caldwel.
"Waktu makan siang?" Tanya Adriana dengan mata berbinar bahagia.
__ADS_1
"Iya, akan aku traktir kalian ke restoran paling enak yang aku ketahui, deh, nanti."
"Huh, tidak perlu, aku saja yang akan mentraktir makan Adriana dan anak- anak. Kau diam saja dispenser." Ujar Hyuga.
"Beraninya kau memanggilku seperti itu."
"Baiklah,"
Semua orang menatap Adriana bingung dan penasaran. Apa maksud kata 'baiklah' yang di katakan Adriana. Sementara Ryu Ice dan Meira masih duduk manis di tempat mereka.
"Baiklah kalau begitu, anak- anak, cepat kita selesaikan agar aku bisa makan siang yang enak!"
"......"
Semuanya menatap Adriana datar dan no komen sama sekali. Adriana masih dengan mata berbinar senangnya itu. Semua murid menghela napas berat melihat tingkah guru mereka itu.
"Guru gw gini amat, ya?" Batin Kiano.
"Hei, Kiano, ayo cepat lakukan jurusmu itu agar aku bisa makan siang! Ayo cepat!"
"Iya, iya, dasar guru rakus."
Kiano memejamkan mata, tangannya di angkat ke atas. Gerakan itu terasa sangat menyedihkan, padahal hanya sedikit gerakan yang di buat. Tapi kenapa terasa se sedih ini?
"Rain of sadness."
Hujan gerimis turun, wajah semua orang terlihat sangat murung dan sedih. Jurus itu mempan kepada semua orang kecuali Adriana. Adriana hanya tenang dan bersikap care saja.
"Hujan ini memang terlihat tidak memiliki kelemahan. Tapi,"
Adriana menata tajam, "Jangan memanggil ku nenek dasar murid l*cnut!" Ucap Adriana.
"Baiklah, aku minta maaf, tapi apa kelemahannya."
Adriana menatap ke atas langit- langit, tatapannya terlihat serius dan sedikit hampa. Kiano dibuat semakin penasaran dan bingung akan tingkah Adriana gurunya itu.
"Tapi, jika saat itu kau sedang senang namanya berubah menjadi rain of excitement dong."
Hah?
"Bayangkan saja, namanya kan Rain of sadness yang berarti hujan kesedihan bukan? Kalau kau sedang senang maka namanya berubah menjadi hujan kegembiraan."
"Apa, itu bisa terjadi?" Tanya Kiano.
"Hei, di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin. sana seperti doi yang dulunya dingin sekarang jadi hangat. Itu bisa, kan?"
"......"
Penjelasan Adriana memang terdengar masuk akal dan logis. Tapi, kenapa ada sesuatu yang mengganjal, ya, di dalam kata- katanya itu?
"Baiklah, lupakan saja itu. Berikutnya adalah Sakura~ Ayo maju."
__ADS_1
Saat Sakura melangkah, tiupan angin menjadi sangat kencang. Beberapa helai rambut Adriana pun berterbangan tapi tidak ia perhatikan sama sekali dan ia biarkan saja.
"Wind of chaos!"
Wush, wush, wush, anginya bertambah kencang dan semakin kencang. Angin itu memporak-porandakan semua benda yang ada di sana. Bahkan pohon- pohon pun banyak yang tercabut dan ikut terbawa dalam angin.
"Baiklah, berhenti sekarang atau kakak ku akan marah besar karena jemurannya pada berterbangan nanti."
"Baik, kak Adriana."
Bruk, brak, duar, semua pohonnya langsung jatuh dan hampir menimpa Adriana dan yang lainnya. Sakura menggenggam tangannya dengan kuat, ia terlihat sangat ketakutan.
Adriana mendekati Sakura yang wajahnya masih di landa ketakutan itu. Pluk, tangan Adriana menyentuh kepala Sakura dan mengusapnya dengan sangat lembut.
"Ka, kak Adriana...?"
Adriana berjongkok karena dia lebih tinggi walau sedikit di banding Sakura. Sakura menatap Adriana bingung dengan degupan jantung yang masih kencang.
"Tidak apa- apa, sudah wajar jika orang membuat masalah. Jadi, kau tidak perlu merasa takut, Sakura."
"Tapi, pohon itu tadi hampir mengenai kakak dan yang lainnya." Ucap Sakura.
"Tidak apa- apa, baiklah, berikutnya sekaligus yang terakhir adalah Lixue."
Lixue yang sedari tadi hanya mengatakan beberapa patah kata maju ke depan. Wush, angin berhembus sangat kencang, tapi terasa begitu dingin.
"Eternity snow!"
Wush, dalam sedetik, tempat mereka berubah seluruhnya menjadi Padang es. Es- es itu juga tidak mencair sama sekali, padahal di sana sangat panas karena matahari sudah ada di atas kepala.
"Wah, hebat juga anak serigala putih itu." Ucap Hyuga dengan lirih.
Suaranya memang lirih, tapi karena terlahir sebagai keturunan serigala putih. Pendengaran Lixue menjadi lebih hebat dari yang lainnya, selirih apapun suaramu.
Aka tetap terdengar oleh Lixue, kecuali suara hati dan pikiran tentunya. Di saat yang lainnya menikmati kesejukan dan kehebatan itu, Adriana malah melakukan sesuatu yang aneh.
Adriana malah mengubah stel bajunya ke stel baju musim dingin yang membuat boneka salju yang cukup besar. Beberapa anak menggigil karena baju mereka yang tipis.
"Anak- anak, ayo kita buat boneka salju dan menggelindingkan Hyuga nanti agar tampak seperti bola salju raksasa!"
"Apa? Kenapa aku yang jadi korbannya?" Tanya Hyuga.
"Heh, kau pantas mendapatkannya!"
"Ta, tapi kak, ini sangat." Sakura menutup mulutnya sambil memeluk dirinya erat.
Adriana tersenyum dan menjentikan jarinya. Ctak, seluruh murid, Hyuga, Caldwel, Meira dan Ryu Ice tiba- tiba berpakaian tebal dan hangat. Adriana memanglah sosok yang pengertian, apalagi kalau dengan anak- anak.
"Jadi, ayo kita main bola salju!" Teriak Adriana mengajak yang lainnya.
"Ayo!"
__ADS_1
"Mereka benar- benar sangat payah." Batin Kiano, Hillary, dan Lixue.
BERSAMBUNG~