
Tak... tak... tak...
Dengan gagah dan tegasnya Varo berjalan memasuki gedung kantornya bersama dengan asisten nya, Reno Mahardika. Teman sekampusnya dulu. Setiap kali Varo memasuki kantor, semua mata akan langsung tertuju padanya. Siapa yang tidak akan terpesona saat melihat ketampanan bos mereka. Wajah tampan dengan di penuhi sedikit bulu, rahang yang tegas dan tubuh yang atletis.
"Selamat pagi pak" sapa seluruh karyawan kantor bila mana mereka berpapasan dengan Varo. Dan Varo hanya menjawab dengan mengangguk kan kepalanya.Varo memasuki lift khusus yang langsung terhubung dengan lantai atas, di mana ruangan nya berada.
"Meting jam berapa Ren..?" tanya Varo saat sedang berada di dalam lift.
"Jam 10 bos, dan semua berkasnya sudah siap, tapi kali ini bos meting nya di temani Moza" ucap Reno yang langsung mendapat tatapan tajam dari Varo. Seakan meminta penjelasan.
"Hehehe.... saya harus ke Surabaya bos, meninjau langsung proyek yang sedang kita tangani" jawab nya lagi. Dan lagi Varo menjawab dengan deheman saja.
Ting...
Pintu lift terbuka. Varo dan Reno langsung keluar dari lift dan berjalan ke ruangan masing-masing.
"Selamat pagi pak... " sapa Moza dengan menunduk kan kepalanya sedikit.
"Pagi... " jawab Varo singkat tanpa menatap Moza. Setelah itu Varo masuk ke dalam ruangan nya.
Sampai ruangan Varo langsung melepaskan jasnya dan meletakkan nya di punggung kursi kerjanya. Varo memang tidak suka memakai jas. Dia lebih suka memakai kemeja ataupun kaos oblong.
__ADS_1
Tok... tok... tok...
"Masuk... " Jawab Varo dari dalam.
Pintu ruangan terbuka. Moza masuk ke dalam ruangan sambil membawa beberapa berkas untuk di pelajari oleh Varo.
"Ini berkas yang harus bapak pelajari" ucap Moza memberikan sebuah map berwarna kuning.Varo sedikit melirik Moza sebelum akhirnya dia membaca berkas itu kembali.
"Kalau begitu saya permisi dulu" Ucap Moza berpamitan.
"Hmmm.... " Jawab Varo hanya dengan mengangguk kan kepalanya.
Moza keluar dari ruangan Varo dan kembali ke ruangan nya. Melanjutkan pekerjaan nya yang lain nya.
"Maz, Moz, Maz, Moz, bisa sih kamu itu manggil namaku dengan lengkap, Moza M-O-Z-A" Jawab Moza dengan ketus. Sedangkan Reno malah terkekeh. Reno memang suka menjahili Moza. Padahal dia tahu nanti akhirnya dia akan mendapatkan tatapan mematikan dari Varo. Tapi dia tidak pernah takut, karena memang dia tidak melakukan hal yang aneh-aneh pada Moza. Hanya sebatas menjahilinya saja.
"Dah ya bay Moza cantik" ucap Reno yang langsung melangkah pergi meninggalkan Moza.
"Dasar Reno... " Gerutu Moza sambil menggelengkan kepalanya.
Tepat jam setengah sepuluh Moza pergi ke ruangan Varo untuk memberitahukan waktu meting nya.
__ADS_1
Tok... tok... tok...
Moza mengetuk ruangan Varo terlebih dahulu sebelum akhirnya dia membukanya dan masuk ke dalam.
"Permisi pak, sudah waktunya untuk pergi meting" ucap Moza yang berdiri di depan meja Varo. Varo pun menghentikan pekerjaan nya dan langsung berdiri, meraih jas dan memakainya kembali.Varo berjalan melewati Moza, tapi sebelum itu dia melakukan sesuatu yang membuat Moza langsung tersenyum.
Cup...
Dengan cepat Varo mencium kening Moza dan kemudian dia berjalan keluar ruangan. Moza yang mendapat tindakan tiba-tiba dari Varo membuatnya sedikit terkejut sebelum akhirnya dia tersenyum. Moza mengambil berkas di meja dan berjalan keluar menyusul Varo yang sudah menunggunya.
Mereka berdua berjalan beriringan tanpa bersuara. Memasuki lift khusus yang langsung terhubung ke lobi kantor. Di dalam lift Moza hanya bisa diam, takut untuk menatap seseorang yang sudah mengisi hatinya. Varo dan Moza resmi berpacaran setelah Varo mengungkapkan perasaan nya pada Moza sebulan yang lalu. Moza pun dengan bahagia menerima Varo menjadi pacarnya. Namun sayang setelah pacaran sikap Varo berubah menjadi dingin dan juga cuek pada Moza. Varo jarang sekali mengajaknya pergi. Namun karena Moza mencintai Varo dengan tulus dia pun menerimanya dengan senang hati dan dengan penuh ke ikhlasan. Dia yakin suatu saat pasti Varo akan berubah.
.
.
.
.
.
__ADS_1
...Bersambung........