Marsha, Milik Bara

Marsha, Milik Bara
Hari Pernikahan


__ADS_3

Hari pernikahan tiba, Marsha memakai gaun berwarna putih keemasan. Ia tampak begitu cantik dan anggun. Ia menatap layar kaca yang disediakan panitia acara.


Matanya tampak berkaca-kaca, melihat pria yang tidak terlalu mengenalnya mengucapkan janji suci di depan papanya dengan lantang.


Setelah pengucapan, Marsha dipertemukan dengan suaminya. Ia berjalan pelan di bantu beberapa orang panitia. Saat berhadapan dengan Bara, ia tampak gemetaran. Ia meraih tangan pria yang kini jadi suaminya, ia lalu mencium punggung tangan lelaki itu.


Seluruh keluarga tampak begitu bahagia dengan pernikahan Bara dan Marsha, mereka antusias untuk meminta foto.


Dengan senyum terpaksa Bara dan Marsha melayani permintaan para keluarga dan tamu berfoto.


Ketiga sahabat Marsha, datang memberikan ucapan selamat. Mereka berempat menangis haru bersama saling berpelukan.


"Terima kasih kalian sudah datang," Marsha memaksakan tersenyum.


"Semoga kau bahagia!" Rere melirik Bara yang sibuk dengan ponselnya.


"Apa kalian sudah selesai?" tanya Bara.


"Sudah, Tuan." Jawab Rere dan Ika.


"Kalau begitu, turunlah!" usir Bara.


"Ya, kami akan turun. Tapi, tolong jaga sahabat kami, jangan sakiti dia!" pinta Weni.


"Ya," jawab Bara ketus.


Ketiga sahabat Marsha turun, sesekali mereka melihat pasangan pengantin itu di pelaminan.


"Setelah ini, kau tidak boleh bekerja lagi dan bertemu dengan mereka," ucap Bara berbisik.


Marsha menatap suaminya seakan ingin bertanya alasannya, namun ia urungkan karena ada tamu yang ingin memberikan ucapan selamat.


-


-


Dengan tangan berkeringat dan hati berdegup kencang, Marsha memasuki kamar yang di dekorasi begitu cantik.

__ADS_1


"Aku tidak mau tidur satu ranjang denganmu!" ucapan Bara mengejutkan Marsha.


"Lalu, aku tidur di mana?"


"Terserah kau mau di mana," Bara mengambil handuk kemudian ia membersihkan diri.


Hampir setengah jam, Marsha menunggu Bara keluar dari kamar mandi. Ia duduk di tepi ranjang masih dengan gaun pernikahan.


Bara keluar menyugar rambutnya, istrinya menatapnya. "Apa kau akan tidur dengan pakaian itu?"


"Aku tidak membawa pakaian," jawab Marsha.


Bara mengambil ponselnya di nakas, lalu menghubungi seseorang. Setelah mematikan panggilan telepon, ia naik ke atas ranjang. "Bisakah kau duduk di sana?" tunjuknya ke arah sofa.


Marsha berjalan dengan menggeret gaunnya yang panjang ke arah sofa. Karena sangat mengantuk, ia pun tertidur.


Suara ketukan pintu, membangunkan Bara. Ia melihat Marsha tertidur di sofa, ia lantas melempar bantal ke arah istrinya membuat wanita itu terbangun dan tampak kebingungan. "Cepat lihat sana!" perintahnya.


Marsha tidak membantah perintah suaminya, ia bangkit dari sofa dan berjalan pelan membuka pintu.


"Malam, Nona. Ini pesanan Tuan Bara untuk anda!" pelayan wanita itu menyodorkan paper bag.


Setelah menutup pintu, ia melihat isi paper bag. Lalu menoleh ke arah suaminya yang sudah kembali tidur. Marsha bergegas membuka gaun yang dikenakannya, lalu pergi ke kamar mandi.


...----------------...


Marsha terbangun saat mendengar suara bariton suaminya. Dengan cepat, ia berdiri dari sofa. "Ada apa?"


"Kau bilang, ada apa?" Sentaknya. "Apa kau tidak tahu tugasmu sebagai seorang istri?" tanyanya dengan suara tinggi.


Marsha menggelengkan kepalanya.


"Bersihkan tubuhmu, kita akan segera pulang ke rumah!"


"Rumah siapa?" tanya Marsha polos.


"Rumahku!" jawab Bara.

__ADS_1


-


-


Sesampainya di rumah, Bara menyuruh Marsha membawa kopernya ke dalam kamar. Tanpa membantah, Marsha menggeret koper suami dan dirinya.


"Aku di kamar ini dan kau tidur di kamar bawah!"


"Jadi, aku harus turun ke bawah?"


"Ya."


Marsha pun turun membawa kopernya lagi. Ia membuka kamar yang akan ditempatinya. Tampak ruangan kecil penuh dengan barang berdebu.


Marsha pun membersihkan kamar yang akan ia gunakan untuk tidur, ia sempat terbatuk-batuk karena debu.


Bara yang mendengar suara batuk Marsha menarik sudut bibirnya, "Baru membersihkan itu saja sudah batuk!" gumamnya. Ia menikmati makan siang sendirian di meja makan. Makanan tadi ia beli saat perjalanan ke rumahnya.


Selesai membersihkan kamarnya, Marsha pergi ke dapur karena perutnya terasa lapar. Ia melihat suaminya baru selesai makan. "Apa kau masih memiliki makanan lagi?"


"Sudah habis, jika kau ingin makan beli di luar sana!" Bara pun berlalu.


Marsha kembali ke kamarnya dan melihat dompetnya. "Aku sudah tidak bekerja lagi, apa uang ini cukup sebulan? Bagaimana kalau dia tidak memberikan uang belanja?" pertanyaan itu terus berputar di kepalanya.


"Marsha!" teriak Bara memanggil.


Dengan cepat, Marsha berlari menghampiri suaminya.


"Ada apa?"


"Cepat bersihkan kamarku ini!" perintahnya.


Marsha melihat kamar suaminya begitu berantakan. "Tadi tidak seperti ini!"


"Kau ingin membantah?" bentaknya.


"Tidak," jawab Marsha.

__ADS_1


Bara mendorong tubuh Marsha hingga terjatuh, "Cepat bersihkan!"


__ADS_2