
Key kini sedang berhadapan dengan Handoko Kartajaya di ruang kerja pribadinya yang berada di rumah di samping atasannya ada Laras yang tersenyum kepadanya.
"Istri saya sudah mengatakan semuanya," ujar Handoko.
Key hanya menelan saliva dengan pandangan menunduk.
"Apa kamu menyukai putri kami?" tanya Handoko.
Key menggelengkan kepalanya pelan.
"Jawab jujur, kami tidak akan marah," ujar Handoko.
"Maaf, Tuan. Saya tidak berani menyukai putri anda," ujar Key.
"Kenapa? Apa kamu sudah memiliki calon istri?" tanyanya lagi.
"Saya belum memiliki calon istri, Tuan."
"Lalu, kenapa Tia mengatakan kalau kamu sudah memiliki calon istri?" Laras kali ini bertanya.
"Saya ingin Nona Tia menjauh," Key masih menunduk.
"Tapi, Tia tidak ingin jauh darimu," ujar Laras.
"Kalau begitu perpindahan kamu ke luar pulau ini, saya batalkan," sahut Handoko.
Key mengangkat kepalanya, "Tuan memecat saya?" lidahnya terasa kaku.
"Ya, saya memecat kamu sebagai pengawal pribadi," jawab Handoko.
"Tuan, maafkan saya jika belum bisa menjadi pengawal sekaligus asisten yang sesuai dengan harapan anda," Key bersikap tegar.
"Ya, memang dirimu tidak sesuai dengan harapan saya. Tapi sangat sesuai dengan keinginan putri kami," ujar Handoko lagi.
Key mulai bingung dengan ucapan atasannya itu.
"Jadilah pengawal pribadi dalam rumah tangga putri bungsu kami," pinta Handoko.
Key semakin tambah bingung, "Saya tidak mengerti, Tuan!"
"Kami ingin kamu menikah dengan putri kami, menjaganya dan melindunginya. Tia sangat mencintaimu," tutur Laras tersenyum.
"Tapi...."
"Tidak ada penolakan, apa kamu menyukai putri kami?" tanya Laras.
Key mengangguk pelan kepalanya tanda mengiyakan.
Laras dan Handoko saling pandang lalu tersenyum.
"Maafkan saya, Tuan, Nyonya. Jika berani menyukai putri anda," Key masih menunduk.
"Kami senang mendengarnya," ujar Laras.
"Beritahu keluargamu untuk datang menemui kami," titah Handoko.
Key pun mengiyakan dengan cepat.
...----------------...
Tanpa sepengetahuan Tia, seminggu setelah pernyataan cintanya ia sampaikan kepada Key. Rumahnya tampak ramai dikunjungi beberapa tamu.
Kedua kakak dan para ipar datang pagi itu juga. Karpet warna warni menghiasi lantai ruang tamu. Hidangan prasmanan telah tersedia dengan berbagai macam lauk dan sayur sesuai kesukaan anggota keluarga.
Tia, Marsha dan Nia di dandan sangat cantik yang membedakan ketiganya adalah pakaian yang digunakan si bungsu.
"Kenapa pakaianku dengan kalian berbeda, Kak?" tanyanya.
"Karena kamu belum menikah, kami sudah memiliki suami," jawab Nia.
"Kenapa bisa begitu? Mama dan Papa juga sama dengan kalian," protes Tia.
"Tia, ikutin saja keinginan Mama Laras. Kamu sangat cantik pakai warna ini," puji Marsha.
__ADS_1
"Memangnya ini acara apa, sih?" tanya Tia yang belum tahu.
"Ada tamu spesial yang akan datang," jawab Marsha tersenyum.
"Tamu spesial? Memangnya siapa? Aku jadi penasaran," ungkap Tia.
"Sebentar lagi mereka juga datang," sahut Nia.
Tia turun ke lantai bawah, ia mengedarkan pandangannya sekelilingnya mencari seseorang.
"Cari siapa?" tanya Marsha.
"Tidak ada, Kak." Tia tampak gelagapan.
"Kamu mencari Key, ya?" tebak Marsha.
"Tidak, Kak."
"Key sudah pergi kemarin, jadi hari ini ia tak ada di acara," jelas Marsha.
"Begitu ya, Kak."
"Ya," Marsha tersenyum kemudian ia meninggalkan adik iparnya.
Mata Tia tampak berkaca-kaca, "Kenapa dia tak bilang kalau akan pergi?"
"Nona Tia, anda dipanggil Nyonya besar!" pelayan wanita datang menghampirinya.
"Ya, saya akan ke sana!" Tia tersenyum tipis.
Sebagian keluarga yang pria menunggu di bagian depan rumah dan para wanita duduk di ruang tamu di atas karpet.
Tia masih terlihat bingung, "Sebenarnya tamu spesial itu siapa, Ma?"
"Kamu juga akan tahu dan senang," jawab Laras.
Akhirnya tamu yang ditunggu pun datang, Key tampak rapi dengan kemeja batik. Hal itu membuat Tia semakin bingung.
"Kak, kenapa ada Key dan keluarganya?" bisik Tia di telinga Nia.
Perwakilan keluarga Tia membuka percakapan lalu dilanjutkan dengan pihak dari keluarga Key.
"Maksud dan tujuan kami ke sini untuk melamar Tia sebagai istri Keydra Vallecano," ujar salah satu pria dari pihak Key.
"Apa melamar?" Tia tampak terkejut.
"Tia Hermawan Kartajaya, maukah kamu menikah dengan saya?" Key kali ini yang bertanya.
Tia masih terdiam.
Nia yang berada di sebelahnya menyenggol lengan adiknya. "Cepat jawab!" bisiknya.
"Ya, saya mau menikah dengan kamu," jawab Tia terbata dan gugup.
Seluruh tamu dan undangan tersenyum lega termasuk Key akhirnya lamarannya di terima.
"Jadi ingin dilamar lagi," gumam Marsha.
"Kamu bilang apa tadi?" bisik Bara.
"Tidak ada," jawab Marsha cepat.
...----------------...
Dua minggu kemudian......
Acara akad nikah segera dilaksanakan. Tia begitu senang sebentar lagi ia akan menyandang status istri walau setelah menikah harus kembali ke luar negeri untuk menyelesaikan sekolahnya.
Seluruh keluarga sudah hadir di gedung tempat pengikatan janji kedua insan. Marsha duduk di sebelah suaminya tampak selalu tersenyum.
"Sayang, kenapa senyum-senyum sendiri?" bisik Bara.
"Key sangat tampan ya, Mas!" pujinya.
__ADS_1
Bara mendengus kesal, "Tapi aku lebih tampan!"
"Ya, Mas Bara memang tampan," Marsha menoleh sekilas melihat suaminya.
Acara pun dimulai, Key begitu lancar mengucapkan janji. Setelah pengucapan ikrar, Tia dihadirkan di tengah-tengah para tamu dan dituntun berjalan ke arah suaminya.
Key dengan mata berkaca-kaca ia menatap wanita yang tak terpikirkan sama sekali untuk dijadikan seorang istri. Tangis haru tak dapat ia tahan, akhirnya buliran air jatuh menetes di pipinya. Ia berusaha menyekanya dengan tisu yang diberikan pihak panitia acara.
Tia tersenyum begitu sangat manis, hal yang sama juga dirasakan Laras. Ya, wanita paruh baya itu memang dari dulu ia menjodohkan putrinya dengan asisten suaminya. Pemuda pekerja keras dan bertanggung jawab.
Key menyambut tangan istrinya yang terulur, keduanya kini bersebelahan menatap para tamu undangan yang sibuk mengambil foto dan video dari kedua pengantin. "Terima kasih, Nona!" bisiknya.
"Jangan memanggilku Nona lagi!" Tia balas dengan membisik.
"Baiklah, istriku!" bisik Key lagi.
Tia yang mendengarnya pipi berubah menjadi merah merona, membuat Key mengulum senyumnya.
-
Selepas menghadiri acara pernikahan adik iparnya, Marsha mengeluh pusing. Hal itu membuat Bara sangat khawatir.
"Mas, aku mau makan kerang rebus!" pintanya dengan wajah memelas pada suaminya.
Bara mengerutkan keningnya, "Kamu alergi makanan laut. Pilih yang lain saja!"
"Tapi, aku mau makan itu, Mas!" rengeknya.
"Ya, baiklah kamu boleh makan itu," Bara terpaksa mengabulkan permintaan istrinya.
Tak sampai 1 jam menunggu, kerang rebus yang diminta Marsha dihidangkan. Wanita itu begitu lahap memakannya, Bara memijit pelipisnya. Biasanya istrinya tak pernah mau menyentuh hidangan berbau laut.
Kedua orang tua Marsha kebetulan datang berkunjung. Mira yang melihat putrinya menyantap kerang bergegas menghampirinya. "Sha, kenapa dimakan?"
"Marsha lagi pengen, Ma!" jawabnya.
"Kenapa tidak dilarang, Bara?" Mira protes pada menantunya.
"Marsha yang maksa, Ma," jawab Bara tak mau disalahkan ibu mertuanya.
"Apa kamu lagi hamil?" tanya Mira curiga.
Marsha menghentikan makannya lalu ia dan suaminya saling pandang.
Mira dan Chandra menarik sudut bibirnya.
"Apa kamu memang hamil, sayang?" tanya Bara.
Marsha menggelengkan kepalanya. "Aku tidak tahu cuma sebulan ini ku belum datang bulan," jawabnya.
"Setelah ini, kalian harus segera ke dokter!" usul Mira.
"Baik, Ma!" Bara begitu semangat.
"Malia biar Mama dan Papa yang jaga, kalian berdua pergilah," ujar Mira.
Marsha menganggukan tanda mengiyakan.
Sejam kemudian Marsha dan suaminya pergi ke dokter. Senyum merekah terpancar di bibir keduanya, Marsha dinyatakan hamil.
Keduanya pulang dengan hati gembira dan memberi tahu kepada orang tua Marsha yang sudah tak sabar menunggu kabar bahagia itu.
"Selamat ya, Nak!" Chandra memeluk putri semata wayangnya.
"Terima kasih, Pa." Marsha membalasnya dengan tersenyum.
Kini Bara dan istrinya hidup bahagia, walau awal ia menikahi wanita itu untuk membalas rasa sakit hatinya ketika semasa sekolah. Ternyata, semua berubah ia malah jatuh cinta sehingga dirinya tak mau lagi menyakiti fisik dan hati wanita yang sedang hamil anak keduanya.
(TAMAT)
...----------------...
Terima Kasih Buat Like, Komen, Poin dan Vote...
__ADS_1
Jangan lupa mampir ke karyaku yang lainnya berjudul 'Jangan Mengejarku, Cantik!'
Terima Kasih Banyak 💓🌹