
Bara merobek paksa pakaian yang digunakan Marsha, ia lalu melepas pakaiannya. Dengan cepat, ia menyusuri leher istrinya. Tak peduli dengan suara tangisan dan permohonan, Bara mencecap bagian sensitif.
Namun, seketika Bara menghentikan aktivitasnya. Melihat Marsha yang menangis ketakutan. Ia meraih pakaiannya dan memakainya lalu keluar dari kamarnya.
Marsha terisak dengan mendekap selimut. Ia lalu bergegas pergi ke kamarnya, di sana ia kembali menuang air matanya.
Sementara itu, Bara melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Ia pergi ke rumah Mike.
"Apa yang terjadi denganmu?" Ia melihat sahabatnya tampak begitu frustasi.
"Aku menumpang tidur di sini," Bara menyelonong masuk.
"Memangnya kenapa dengan rumahmu? Istrimu mengusirmu?"
"Itu rumahku, mana mungkin dia mengusirku," jawab Bara kesal.
"Lalu, kenapa kau ke sini?"
"Aku tidak mau bertemu dengan Marsha."
"Kenapa?"
"Aku malu padanya."
"Malu?"
"Iya, aku hampir saja melecehkannya."
Mike seketika tertawa terbahak.
Bara menatap sahabatnya itu. "Apa yang lucu?"
"Kalian itu sudah suami istri, lucu saja mendengar kata-katanya," jawab Mike mengulum senyum.
"Aku mengatakannya sangat membencinya dan menikahinya karena dendam tapi ku malah menginginkan tubuhnya," ujar Bara mengacak rambutnya.
"Aku sudah katakan, jangan terlalu benci dengannya. Akhirnya kau benar-benar jatuh cinta padanya," ledek Mike.
"Aku tidak jatuh cinta padanya," Bara berkata tegas.
__ADS_1
"Jangan bohongi hati kecilmu," sindir Mike.
Ponsel Bara berbunyi, tertera nama papanya. Ia tak mau mengangkatnya dan membiarkannya berdering.
"Kenapa tidak dijawab?" tanya Mike.
"Pasti Papa akan menghajar ku," jawabnya.
"Karena kau melecehkan istrimu?" tebak Mike
"Bukan itu, tapi Miranda. Dia mengaku hamil," ujar Bara.
"Apa!" sahabatnya itu tampak kaget.
"Kami tidak melakukan apapun, tapi dia datang dan mengatakannya kepada Marsha juga," jelasnya.
"Aku sudah bilang, jauhi wanita itu. Dia hanya akan menjadi duri di kehidupanmu."
"Buat pusing saja," keluh Bara.
"Kau tinggal berkata jujur saja pada papamu, lalu meminta Miranda membuktikan jika itu anakmu atau tidak," ujar Mike.
"Aku sudah memikirkan tentang hal itu, tapi aku sama sekali tidak pernah menyentuhnya," jelas Bara.
-
-
Bara pun pergi ke rumah orang tuanya. Sesampainya di sana, sebuah tamparan melayang di pipinya.
"Papa sudah memperingatkan kamu dari dulu, sekarang ini yang terjadi!" Handoko mengeraskan rahangnya.
"Aku tidak melakukannya, Pa." Bara memegang pipinya yang memerah.
"Mama kecewa padamu, Bara!" Laras ikut memarahi putranya, sembari menahan tangisnya.
"Ma, percaya padaku!" mohon Bara.
"Apa Marsha sudah tahu tentang ini?" tanya Handoko.
__ADS_1
Bara menganggukan.
"Kamu nikahi Miranda, tapi jangan harap sedikit pun harta Papa akan kami berikan!" ucap Laras.
"Ma, aku benar-benar tidak melakukannya," Bara mengulang kata-katanya.
"Papa kasih kamu waktu seminggu untuk membuktikan jika Miranda hamil anakmu atau tidak!"
"Baik, Pa!" Bara berkata tegas.
-
-
Setelah pulang dari rumah orang tuanya, Bara kembali ke rumahnya. Ia mencari keberadaan istrinya. Marsha duduk di pinggir kolam dengan kakinya bermain di air.
"Sha!"
"Kamu sudah pulang, Mas!" melihat sekilas.
Bara ikut duduk di samping istrinya. "Aku minta maaf!"
"Mas, mau mengakui kalau Miranda hamil anakmu," ujar Marsha tanpa menatap.
"Aku sama sekali belum menyentuhnya, Marsha."
"Kalian berpacaran dan sering tidur bersama, kemungkinan dia hamil anakmu."
"Itu semua tidak benar, Marsha."
"Apa Mas percaya dengan ucapanku?" Marsha menatap wajah suaminya.
"Sekarang aku percaya," jawab Bara.
"Setelah kamu melakukan kesalahan dan aku harus percaya kata-katamu," ujar Marsha.
Bara terdiam, dia mengaku salah.
"Tadi, kedua orang tuaku menelepon ku. Mereka menginginkan aku pulang karena Miranda sudah datang menemuinya."
__ADS_1
"Jadi, kamu ingin menuruti permintaan mereka?"
"Aku masih istrimu, jika Mas ingin aku pergi. Dengan senang hati ku akan kembali pada mereka," jawab Marsha lalu ia berdiri dan meninggalkan suaminya yang masih terpaku di pinggir kolam.