
Setelah seminggu di kota itu, keluarga besar Bara kembali ke tanah air melakukan aktivitas seperti biasa.
Dua hari berada di rumah Marsha pergi ke rumah orang tuanya.
Bara menyediakan sopir khusus untuk istrinya, walaupun sebenarnya wanita itu bisa mengendarai mobil sendiri.
Marsha turun setelah dibukakan pintu oleh sopirnya. Ia menenteng dua paperbag oleh-oleh dari luar negeri.
"Mama!" sapanya memeluk Mira.
"Mama rindu sekali denganmu!"
"Marsha!" Candra menghampiri putrinya.
"Papa!" Ia pun memeluk pria paruh baya itu.
"Kamu sendirian, Nak?" tanya Mira.
"Iya, Ma. Mas Bara sudah ke kantor," jawabnya.
Ditengah obrolan anak dan orang tua, Mark datang berkunjung. Ia menyapa Candra dan Mira begitu hangat. "Siang, Paman, Bibi!"
"Mark!" Candra membalas sapaan pria itu.
"Kebetulan ada Marsha, saya ingin bicara dengannya berdua," ujar Mark meminta izin.
"Oh, ya. Silahkan, kami tinggal ke belakang dulu," Candra mengajak istrinya pergi meninggalkan putrinya dan Mark.
"Ada apa, Tuan Mark?" tanya Marsha setelah kedua orang tuanya berlalu.
"Sha, aku sudah tahu dengan kondisi rumah tanggamu. Jika kamu ingin berpisah, aku bersiap menjadi penggantinya," Mark berkata serius.
Marsha cukup terkejut dengan perkataan Mark. "Hubunganku dengan Mas Bara baik, mungkin Tuan Mark salah mendengar."
"Jujur saja, Sha!"
"Tuan, saya dan suami baik-baik saja. Tidak ada masalah, kami baru pulang berlibur dari luar negeri dan mobil itu ia berikan khusus padaku."
"Bukankah orang tuamu pernah mengatakan kalau hubungan kalian tidak sehat?"
"Dalam berumah tangga pasti ada cekcok tapi bukan langsung selesai saat itu juga. Kami sudah saling introspeksi diri, jadi Tuan Mark tidak perlu khawatir dengan pernikahan kami."
"Sha, aku mencintaimu dari awal kita bertemu."
"Tuan Mark, saya adalah istri dari orang lain. Jadi, dimohon untuk tidak mengusik kebahagiaan kami," pintanya. Marsha pun pergi ke mobilnya, ia menelepon Mama Mira untuk berpamitan.
Mark menghela nafas.
_
_
Nia hendak pergi ke kantor temannya, namun ditengah perjalanan mobilnya mogok. Ia pun turun melihat kondisi kendaraannya.
Ia berdiri di samping mobil untuk mencari bantuan dai orang yang lalu lalang. Namun, tak ada bisa ia mintai tolong sampai seorang pengendara motor berhenti dan membuka helmnya.
"Ada yang bisa saya bantu, Nona?"
Nia sejenak terpesona dengan ketampanan pria yang baru saja bertanya.
"Nona, ada yang bisa saya bantu?" tanyanya sekali lagi sembari melambaikan tangannya di wajah gadis itu.
"Eh, iya Tuan. Mobil saya mogok," jawabnya.
"Biar saya bantu perbaiki," tawarnya.
"Memangnya bisa?"
__ADS_1
"Kita coba saja," jawabnya lagi.
Hampir 30 menit pria itu selesai memperbaikinya. Nia menyodorkan tisu lalu kemudian air mineral botol. "Terima kasih!"
"Sama-sama," pria itu mengelap keringatnya dengan tisu lalu membuka tutup botol dan menenggaknya.
"Kita belum kenalan, namaku Nia," ia mengulurkan tangannya.
"Saya Robin," ujarnya tanpa meraih tangan gadis itu.
"Apa boleh bertukar nomor telepon?" Nia menyodorkan ponselnya.
"Boleh," Robin mengambil ponsel Nia dan mengetik angkanya.
Nia menghubungi nomor tersebut dan menyambung, ia kemudian tersenyum melihat Robin memegang ponsel.
"Nia, saya duluan!"
"Ya, Kak Robin. Sekali lagi, terima kasih."
-
Sesampainya di rumah Nia selalu tersenyum sampai heran dengan kelakuan putrinya itu.
Selesai makan siang pun, gadis itu duduk di ruang santai sembari tersenyum menatap layar tipis.
"Kenapa dari tadi senyum saja?" Laras penasaran.
"Tadi ada pria tampan, Ma. Dia sudah menolongku," jawabnya.
"Memangnya dia menolong apa?"
"Mobilku tadi mogok dan dia yang memperbaikinya," jelasnya.
"Baik sekali pemuda itu."
"Iya, Ma. Aku menyukainya," ujar Nia tanpa sadar.
"Kami sudah putus, Ma."
...----------------...
Seminggu kemudian.....
Bara mengecup kening istrinya saat hendak pergi ke kantor. Begitu pria itu berangkat kerja sebuah mobil berhenti di halaman rumahnya.
Marsha melihat dari kejauhan tamu yang datang berkunjung ke rumahnya pagi-pagi.
Rio turun dan berjalan menghampiri Marsha yang bingung. "Selamat pagi, Sha!"
"Dari mana kau tahu rumahku?"
"Apa yang tidak bisa ku cari tentangmu?"
"Mau apa kau ke sini?"
"Aku ingin bertemu denganmu."
"Suamiku sedang bekerja, lebih baik kau pulang saja!"
"Wah, bukankah itu bagus? Kita bisa berduaan," ujarnya tersenyum.
"Apa kau sudah gila? Aku tidak mungkin mengkhianati suamiku," Marsha tersenyum sinis.
"Ayolah, Sha. Kita ini dahulunya pernah ada hubungan, tidak masalah kita melanjutkannya lagi," Rio merayu.
"Pergi dari sini," desis Marsha.
__ADS_1
"Aku tidak mau," ujar Rio.
"Kalau kau masih bersikap kurang ajar seperti ini, aku akan berteriak dan meminta warga untuk mengusirmu!"
"Sekarang kau sudah berani denganku!" Rio mengeraskan rahangnya.
"Apa yang tidak bisa ku lakukan sekarang?" Menatap tajam pria yang ada dihadapannya itu.
Rio pun pergi dengan wajah kesal, Marsha yang ia kenal gadis penurut dan sangat mencintainya. Kini berubah menjadi wanita yang keras dan menakutkan.
-
Selama dua minggu ini Nia selalu membantu di perusahaan temannya sebagai karyawan biasa. Ia bekerja untuk melatih kemampuannya sebelum membantu Bara menjalankan perusahaan.
Dengan langkah terburu-buru, ia memasuki gedung yang memiliki beberapa kantor di dalamnya. Nia memencet tombol lift untuk sampai di lantai tempat kerjanya.
Tanpa ia sadari Robin berada disampingnya. "Kamu kerja di sini?"
Nia menoleh ke sampingnya, lalu wajahnya menampilkan senyuman kebahagiaan. "Kak Robin?"
"Apa kabar?"
"Baik, Kakak kerja di sini juga?"
"Tidak, aku ke sini untuk bertemu dengan teman."
"Oh, begitu."
"Kantor teman Kakak di lantai berapa?"
"Lantai sepuluh."
"Itu artinya kita beda satu lantai saja. Aku di lantai sembilan," ujar Nia tersenyum.
Pintu lift terbuka di lantai 9, Nia pun turun sembari melambaikan tangannya kepada Robin. Begitu gadis itu keluar, Robin tersenyum menyeringai.
-
Sore harinya, Robin sengaja mengajak Nia untuk bertemu di sebuah kafe tak jauh dari kantor. Keduanya saling bercerita, tetapi yang lebih banyak berbicara adalah Nia.
Ia menceritakan semua tentang keluarganya termasuk kakak iparnya. Robin hanya memandangi gadis itu bercerita dengan tersenyum hal itu membuat Nia tersipu malu.
"Kenapa Kakak melihatku seperti itu?"
"Kamu sangat cantik," rayunya.
"Kak, aku jadi malu."
Robin tersenyum, ia meraih jemari Nia dan mengecupnya. "Apa kekasihmu tidak marah, bila kita seperti ini?"
"Aku tidak memiliki kekasih, Kak. Kami sudah putus," ujarnya.
"Kalau begitu, bolehlah aku masuk di hatimu?"
Nia tersenyum kemudian mengangguk.
"Kamu menerimaku menjadi kekasih?"
"Iya, Kak. Aku juga menyukaimu," jawabnya malu-malu.
"Itu artinya kita resmi menjadi sepasang kekasih?"
"Iya, Kak."
"Terima kasih, ya."
"Kapan-kapan aku akan kenalin Kak Robin dengan keluargaku," ujar Nia.
__ADS_1
"Iya, aku mau bertemu dengan mereka tapi tidak dalam waktu dekat karena belum siap," jelas Robin.
"Tidak apa, Kak. Lain waktu saja," tutur Nia.