Marsha, Milik Bara

Marsha, Milik Bara
Merencanakan Sesuatu


__ADS_3

Begitu sampai Silvia melemparkan tasnya ke sembarang arah. Ia menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang menangis sesenggukan. Dia harus menerima kenyataan bahwa pria yang selalu mengatakan cinta dan ada untuk dirinya kini menolak calon janin di perutnya.


Silvia mengepalkan tangannya, "Aku memilih dirimu dari pada Robin, sekarang begini perlakuanmu padaku!" gumamnya.


Suara ketukan pintu terdengar. "Nona, anda belum sarapan!"


"Aku tidak mau makan!" Silvia berteriak dari dalam kamarnya.


"Nona, nanti kami dimarahi Tuan Galvin. Tolonglah, makan!"


Silvia membuka pintu, "Kau sangat berisik!" menatap pria yang menjadi kepercayaan kakak angkatnya.


"Apa anda tidak kasihan dengan calon bayi yang ada di perut, Nona?"


"Bukan urusanmu!" jawabnya ketus.


"Anda jadi urusan saya, karena Tuan memberikan amanah," jelas Leo.


"Bawa saja makanannya di sini!" titahnya.


"Baiklah," Leo pun pergi lalu menyuruh pelayan membawakan makanan untuk Silvia.


-


-


Leo mendatangi kantor Galvin, ia memberikan laporan tentang Silvia padanya.


"Setelah keluar dari rumah, Nona Silvia berada di dalam kamar saja. Sarapan pagi sampai di antar ke kamar," jelas Leo.


"Kau tidak tanya siapa ayah dari calon bayi yang dia kandung?" tanya Galvin.


"Saya tidak berani, Tuan. Nona Silvia sudah seperti harimau yang siap menerkam," jawab Leo.


Galvin tertawa kecil mendengar jawaban orang kepercayaannya itu.


"Memang benarkan apa yang saya katakan, Tuan?"


"Ya, kau benar." Galvin mengiyakan.


"Jadi, apa rencana kita selanjutnya, Tuan?"


"Tetap awasi saja Silvia, jangan sampai ia mengganggu keluarga Alonso lagi."


"Baik, Tuan."


...----------------...


Beberapa hari kemudian....


Pagi ini Radit menjemput Arum di rumahnya, Mama Carla tersenyum menyambut pria itu namun tidak dengan wanita yang akan menjadi calon istrinya itu. Mereka bertiga menikmati sarapan bersama.


"Kapan kamu akan melamar Arum?" tanya Mama Carla.


"Saya akan melamar jika Arum sudah siap, Tante." Radit melirik wanita yang ada disampingnya.


"Ma, aku harus pergi ke kantor." Arum mengakhiri sarapannya tak ingin membahas lamaran kemudian ia berdiri meraih tasnya dan mencium pipi kanan dan kiri Mama Carla.


"Kalau begitu saya permisi, Tante!" Radit ikut pamit.


Di dalam mobil Arum hanya diam, Radit memperhatikannya.


"Bisakah kau mencari wanita lain?" tanya Arum.


"Tidak bisa, Arum. Aku hanya menyukaimu, Robin dan Tante Carla setuju padaku," jawab Radit.

__ADS_1


"Yang menikah itu aku, bukan mereka," ujar Arum tanpa menatap.


"Ya, aku terserah kamu saja. Jika keluargamu menyuruhku mundur, ku akan melakukannya itu," Radit tersenyum.


"Aku akan bicara pada mereka, agar tidak melanjutkan acara lamaran ini," jelas Arum.


"Baiklah, walau ini terasa menyakitkan bagiku."


-


-


-


Arum akhirnya berbicara kepada Mama Carla dan Robin serta istrinya saat makan malam bersama.


"Ma, Kak, aku tidak mau dilamar Radit," ujar Arum.


"Kenapa? Radit pria yang baik dan kalian saling mengenal saat di luar negeri," ungkap Carla.


"Aku tidak menyukainya, Ma." Arum berkata alasannya.


"Kakak dan Nia awalnya menikah tidak saling mencintai tapi akhirnya kami saling mengisi satu sama lain," Robin tersenyum menatap sekilas istrinya.


"Kak, Ma, aku ragu," ucapnya pelan.


"Apa kamu mencintai Galvin?" tanya Robin.


Arum tersentak mendengar nama pria itu, ia tak bisa menjawab.


"Apa kamu memiliki rasa padanya?" tanya Robin sekali lagi.


"Galvin kakak angkatnya Silvia, Mama tak setuju dengannya. Kamu lebih dahulu mengenal Radit daripada dia," sahut Mama Carla.


"Kamu tetap harus menikah dengan Radit, sampai kapan begini terus. Kakakmu tak bisa terus menjaga dan mengawasimu," ujar Carla.


"Aku bisa jaga diri sendiri, Ma."


"Kamu harus tetap menikah dengannya!" perintah Carla.


Arum harus menghela nafas pasrah.


...----------------...


Hari lamaran pun tiba, seluruh keluarga datang menghadiri acara. Namun, tidak dengan Bara dan istrinya karena kebetulan mereka lagi di luar kota.


Arum hanya tersenyum tipis saat para tamu memberikannya selamat.


Di lain tempat, Leo mengabarkan kepada Galvin bahwa hari ini Arum dilamar. Mendengarnya membuatnya patah hati. Harapannya untuk menikahi wanita itu pupus.


"Tuan, yakinlah jika Nona Arum jodoh anda pasti dia akan datang," Leo menguatkan.


Galvin tersenyum getir mencoba menahan air matanya.


"Tuan, apa anda ingin menangis?" tanya Leo. "Saya akan keluar," pamitnya. Lalu pergi meninggalkan ruangan kerja atasannya itu.


-


-


Leo kembali ke rumah Silvia, ia bertugas untuk mengawasi wanita itu.


"Di mana Kak Galvin?"


"Kerja, Nona."

__ADS_1


"Kenapa dia tidak ke sini? Aku ingin berbicara padanya," ujar Silvia.


"Tuan Galvin lagi patah hati. Tak bisa diganggu."


"Apa Arum menolak cintanya?" tanya Silvia.


"Belum mengatakannya saja sudah di tolak, kalau Nona Silvia tidak berbuat ulah pasti Tuan Galvin berhasil mendekati Nona Arum," ungkap Leo.


"Kau jadi menyalahkan aku!" ucap Silvia dengan nada tinggi.


"Kenapa Nona Silvia tidak sadar, sih? Tuan Galvin selalu tersenyum ketika semua yang berhubungan dengan Nona Arum. Apa Nona tak kasihan melihatnya bersedih? Padahal Tuan sudah terlalu banyak berkorban untuk anda, menghabiskan waktu muda terus belajar setelah itu mendirikan perusahaan namun tetap mengawasi dan menjaga Nona agar tak disakiti."


Silvia hanya diam mendengarkan penuturan Leo.


"Tuan Galvin harus menuruti keegoisan Nona yang ingin membalas dendam, namun takdir berkata lain Tuan malah menyukai wanita yang menjadi targetnya," ungkapnya.


"Jadi, aku harus apa untuk menebus kesalahannya?" tanya Silvia lirih.


"Saya juga tidak tahu, Nona."


"Biar aku saja yang berbicara pada Arum atau Robin," ia menawarkan diri.


"Tidak bisa, Nona."


"Kenapa?"


"Tuan Galvin sudah berjanji tidak akan mendekati Arum lagi termasuk Nona Silvia."


"Aku janji tidak akan menyakiti mereka lagi!"


"Tetap tak bisa Nona, Tuan Galvin akan memecat saya jika mengetahui anda mendekati keluarga Alonso," Leo menolak permohonan Silvia.


"Aku akan membelamu jika Kak Galvin memecatmu," janjinya


"Tetap tak bisa, Nona."


Silvia tampak berpikir, ia meraih gelas berisi air putih di meja makan lalu kemudian berkata," Aku punya ide lagi."


"Apa lagi, Nona?" tanya Leo malas. Pria itu masih berdiri di depan Silvia yang dibatasi dengan meja makan.


"Bagaimana kalau kita selidiki siapa calon suami Arum?"


"Untuk apa, Nona?" Leo balik bertanya.


"Kita cari tahu, apa calon untuk Arum pria baik atau tidak," jawab Silvia.


"Lalu untungnya buat Tuan Galvin apa?"


"Jika calon suaminya itu pria jahat, kita bisa memberitahu Arum dan keluarganya. Jika sebaliknya, aku akan memohon padanya untuk membatalkan pernikahan," jawab Silvia asal.


"Tidak semudah itu, anda sedang hamil tak mungkin harus ke sana kemari untuk memantau calon suami Nona Arum."


"Kita pergi bersama agar Kak Galvin tidak curiga," jelasnya.


"Saya tidak mau, Nona. Resikonya sangat besar, bagaimana jika keluarga Alonso tahu mereka akan marah besar pada Tuan Galvin?"


"Apa kau tidak sedih melihat Kak Galvin begitu?" Silvia menundukkan sedikit wajahnya.


Leo menarik nafasnya panjang lalu ia hembuskan. "Baiklah, saya akan mengikuti usulan Nona kedua."


"Begitu dong," Silvia tersenyum puas.


...ΩΩΩΩ...


Di mohon untuk like tiap episode, terima kasih 🌹

__ADS_1


__ADS_2