
Marsha baru saja pulang kerja, sesampainya di sana Mama Mira menghampirinya dan tersenyum.
"Kamu pasti belum makan malam?"
"Belum, Ma!"
Mira mendekap lengan putrinya, membawanya ke arah dapur lalu mendudukkannya. Ia menyajikan berbagai hidangan di depan Marsha.
"Tidak biasanya," ujar Marsha curiga.
"Makanlah!" Mira tersenyum.
"Sebenarnya ada apa, Ma, Pa?" menatap kedua orang tuanya.
"Makanlah dahulu," Candra menyuruh putrinya.
Marsha mulai menyuapi makanan ke dalam mulut sambil memperhatikan kedua orang tuanya. "Kenapa aku jadi curiga?"
Mira hanya tertawa sedangkan Candra menampilkan senyuman.
Marsha menghentikan makannya, "Apa yang ingin Mama dan Papa katakan?"
"Papa saja yang bicara," Mira menoleh ke arah suaminya.
"Kami ingin menjodohkan kamu dengan Tuan Bara," ungkap Candra.
"Papa dan Mama tidak salah? Tuan Bara itu orang yang kaya raya, kita ini sudah miskin," ujar Marsha.
"Tapi, dia ingin melamarmu. Kamu 'kan belum ada kekasih, usia juga sudah sepantasnya menikah, apa salahnya menerimanya?" jelas Mira.
"Tapi, Ma. Aku tidak terlalu mengenal dia," Marsha memberikan alasan.
"Kata Tuan Bara kalian satu sekolah," ujar Candra.
"Iya, Pa. Tapi aku sama sekali tidak terlalu mengenal dia, bagaimana sikapnya dan lainnya," tutur Marsha.
"Tuan Bara, pemuda yang baik. Kami yakin kamu menikah dengannya pasti bahagia," ujar Candra.
"Mama dan Papa ini bagaimana bisa menilai seseorang hanya baru beberapa kali bertemu saja," Marsha memijit keningnya.
"Tuan Bara sangat baik kepada keluarga kita, dia order kue lagi untuk besok pagi," jelas Mira.
"Ma, Pa, aku menolaknya!" Marsha bergegas berdiri.
"Marsha, kapan kamu akan menikah?" tanya Candra. "Teman-temanmu sudah menikah dan memiliki anak, usiamu akan menginjak 27 tahun, apa kamu menunggu Radit datang?" tanyanya lagi.
"Pa, aku tidak menunggu Radit atau menunggu yang lainnya. Kita belum tahu, bagaimana sikap asli pria yang akan Papa dan Mama jodohkan padaku," ungkap Marsha.
"Percaya pada kami, Nak. Bara itu pria yang tepat untukmu," ujar Mira.
"Aku akan pikirkan lagi tentang perjodohan ini," Marsha berlalu kamar.
"Pa, bagaimana ini?" tanya Mira.
"Biarkan saja dia berpikir dahulu, mereka juga belum terlalu kenal," jawab Candra.
...----------------...
Kali keduanya, Marsha mengantarkan kue pesanan Bara. Sesampainya di sana, ia bertemu dengan pria yang sama saat menemuinya.
"Ada Tuan Bara?"
"Ada, serahkan saja kuenya pada saya," jawab pria itu.
"Tidak, saya ingin menyerahkan ini langsung kepada Tuan Bara," tolak Marsha.
"Pesanan ini sudah dibayar, kan?"
"Sudah, tapi saya ingin bertemu dengannya." Marsha tetap bersikeras.
"Tunggulah, saya akan memanggilnya," pelayan pria itu pun pergi ke dalam rumah.
Tak lama kemudian Bara keluar menghampiri Marsha sambil tersenyum.
"Kenapa hatiku deg-degan begini?" tanya Marsha dalam hati.
"Ada apa?"
__ADS_1
"Ini kue pesanan anda, setelah ini jangan pernah datang ke rumah saya!" Marsha menyodorkan wadah berisi kue buatan mamanya.
"Itu rumah kedua orang tuamu," ujar Bara.
"Ya, memang rumah orang tuaku. Tapi, saya tidak suka dengan cara anda," jelasnya.
"Memangnya apa yang aku lakukan?" Bara berpura-pura tidak tahu.
"Apa maksud anda bicara dengan orang tua saya?"
"Oh, itu. Memangnya aku salah menyukai kamu?"
"Astaga, perasaan apa ini?" batin Marsha.
"Orang tua kamu setuju," ujar Bara.
"Tapi, anda belum bertanya pendapat saya!"
"Kalau begitu, aku akan bertanya padamu. Maukah kamu menikah denganku?"
Marsha seketika terdiam.
"Kenapa diam? Ayo, jawab!"
Wajah Marsha mendadak merah, ia bergegas pergi menggunakan motornya meninggalkan Bara yang masih berdiri di dekat pagar.
Bara yang melihat wajah Marsha tersipu malu, hanya tersenyum tipis. "Sombong sekali!"
Bara berjalan memasuki rumahnya.
Laras yang melihat putranya membawa sesuatu. "Kue lagi?"
"Ya, Ma."
"Sejak kapan Kak Bara menyukai kue-kue seperti ini?" tanya Nia.
"Sepertinya Kakakmu lagi jatuh cinta pada gadis itu," tebak Laras.
"Gadis yang mana, Ma?" tanya Handoko.
"Ya, Ma, Pa. Aku akan melamarnya," ujar Bara santai.
"Hah!"
"Kamu tidak salah, Nak?" Laras tak percaya.
"Kamu belum mengenalkan dia pada kami, sudah mau mau melamar saja," ujar Candra.
"Apa gadis itu akan menerimamu?" tanya Laras.
"Bara yakin, Ma." Jawab Bara tegas.
"Kak Bara yakin suka dengan gadis biasa, bukankah mantan kekasih Kakak itu para wanita kalangan elit?" ungkap Nia.
"Yakin," jawab Bara.
"Kapan kami akan melamar dia untukmu?" tanya Handoko.
"Aku akan memberi tahunya nanti."
-
Begitu sampai rumah Marsha bergegas ke kamar ia melihat wajahnya dan memegang dadanya. "Ya, ampun. Kenapa dengan hatiku?"
Dia duduk ditepi ranjang, sambil memikirkan ucapan Bara yang melamar dirinya. Ia menjatuhkan tubuhnya di kasur lalu menatap langit-langit kamar. "Kenapa semudah itu ia mengungkapkan cinta? Selama sekolah aku tidak kenal dengannya, siapa dia sebenarnya?" bertanya lirih.
Mira yang tidak melihat keberadaan putrinya, bergegas ke kamar. Biasanya Marsha setelah pulang mengantarkan kue lebih dahulu melapor kepadanya sebelum bersiap untuk kerja. "Sha!" ia mengetuk pintu.
"Ya, Ma." Marsha membuka pintu kamar.
"Kamu baik-baik saja, kan?"
"Ya, Ma. Marsha mau bersiap ke toko," jawabnya.
"Ya, sudah," Mira pun berlalu.
-
__ADS_1
-
Menjelang sore hari, Bara datang ke rumah orang tua Marsha. Ia menyampaikan tujuan yang kemarin.
"Paman, Bibi, minggu depan kedua orang tua saya akan datang untuk melamar Marsha," ujar Bara.
"Tapi, Tuan!" Candra mau bicara.
"Panggil saja saya Bara," ucapnya.
"Nak, kami belum bisa memutuskan karena Marsha masih memikirkan lamaran ini," jelas Candra.
"Tadi pagi, saya sudah bicara dengan Marsha," ungkap Bara.
"Lalu dia sudah menjawabnya?" tanya Mira.
"Belum, Bi. Dia masih malu-malu," jawab Bara tersenyum.
"Apa Nak Bara yakin dengan putri kami?" tanya Candra. Pertanyaan ini sebelumnya sudah ia tanyakan.
"Yakin, Paman," Bara menjawab dengan tegas.
"Nanti kami akan bicara lagi dengan Marsha," ujar Mira.
"Kalau begitu, saya permisi pulang!" pamitnya.
Dijawab dengan anggukan oleh Mira dan Candra.
Sementara itu, sore ini Marsha dan teman yang lainnya sedang bergantian istirahat. Tiba-tiba dikejutkan dengan suara makian seorang wanita memanggil dirinya. Ia pun mendekatinya.
"Kau namanya Marsha!" tunjuknya.
"Ya, ada apa?"
"Kau yang menawarkan ponsel ini padaku, kan?" wanita itu tampak marah.
"Ya, memang saya."
"Kau jual barang rusak!" tuduhnya.
"Ada yang bisa saya bantu, Nona?" Mark datang meredakan situasi.
"Kau pecat karyawanmu ini!" tunjuknya pada Marsha.
"Kesalahan apa yang dibuatnya?" tanya Mark ramah.
"Dia menjual barang bekas padaku, aku membeli barang baru tapi seperti ini yang diberinya," wanita itu menunjuk ponselnya.
"Sepertinya ini bukan barang kami, kapan anda membelinya?" tanya Mark.
"Kemarin pagi," jawab wanita itu.
"Benarkah itu, Marsha?" tanya Mark pada karyawannya.
"Benar, Tuan!" jawab Marsha.
"Apa benar ini ponsel yang kau jual padanya?" tanya Mark lagi.
"Bukan, Tuan." Marsha menggelengkan kepalanya.
"Jadi, kau menuduh aku berbohong!" teriak wanita itu pada Marsha.
"Kita lihat saja kamera pengawas. Bagaimana Nona?" tantang Mark.
"Tidak perlu," wanita itu pun berlalu.
Weni yang melihat kejadian itu mendekati Marsha setelah wanita itu pergi. "Wanita itu sengaja memfitnah Marsha."
"Benar, makanya dia tak berani ketika ditantang melihat rekaman CCTV," ujar Mark.
Marsha masih terdiam dan tak habis pikir, sebulan ini ia selalu mendapatkan kejadian yang ia sendiri bukan melakukannya.
"Sha, apa kau baik-baik saja?" tanya Mark.
"Ah, iya Tuan. Saya baik-baik saja, terima kasih sudah membantu saya bicara pada Nona tadi," jawab Marsha.
"Sama-sama," Mark tersenyum.
__ADS_1