Marsha, Milik Bara

Marsha, Milik Bara
Akhirnya Bisa Berbicara Berdua


__ADS_3

Hari kedua Bara kembali mengikuti istrinya mengantarkan kue buatan Mama mertuanya. Ya, karena mengikuti Marsha ia sampai telat ke kantor.


Handoko yang mendengar jika putranya itu sering terlambat datang karena berusaha mendekati istrinya kembali dari anak buah kepercayaannya.


Tepat pukul 7 pagi, Marsha kembali melanjutkan aktivitasnya membantu Mama Mira berjualan. Ia mengendarai motor kesayangannya menyusuri jalanan yang terlihat mendung. Dari kaca spion ia melihat sebuah mobil terus mengikutinya, lalu ia mempercepat laju kendaraannya.


Begitu sampai di toko pertama, Marsha sejenak memandang ke arah mobil yang terparkir lebih kurang 100 meter sebelum mengangkat wadah berisi kue.


Setelah dari toko pertama ia melanjutkan kembali ke toko berikutnya. Marsha masih melihat kaca spionnya, karena sangat mencurigakan ia kemudian menghentikan motornya di keramaian orang.


Bara yang mengikutinya mendadak ikut berhenti juga. "Kenapa dia berhenti di sini?"


Marsha turun dari motornya lalu mendekati mobil yang mengikutinya. Bara yang tidak bisa melarikan diri, akhirnya pasrah jika istrinya memergokinya.


Marsha mengetuk pintu mobil sedan berwarna hitam, tak cukup lama menunggu pengemudi menurunkan kaca jendelanya dan tersenyum gugup. "Mas Bara!"


Bara membuka pintu lalu turun. "Maaf, Sha!"


"Kenapa mengikuti aku?"


"Aku hanya ingin melihatmu baik-baik saja."


"Seperti Mas lihat aku baik-baik saja," ujarnya.


"Kenapa kamu melakukan pekerjaan ini?"


"Memangnya kenapa? Ini dagangan orang tuaku dan aku biasa melakukannya sebelum kita menikah," jawab Marsha ketus.

__ADS_1


"Sha, mari pulang ke rumah!" ajak Bara.


"Tidak, Mas. Kamu belum membuktikannya dan aku tidak mau di siksa lagi," ucapnya.


"Sha, aku janji tidak akan melakukannya lagi. Aku khilaf dan sadar selama ini aku salah paham," jelas Bara.


"Aku bisa memaafkan perlakuan burukmu itu tapi tidak dengan hubunganmu dan Miranda," ujarnya.


"Aku akan membuktikannya kalau janin yang dikandung Miranda bukan anakku."


"Ya, aku akan menunggu pembuktian itu!" Marsha pun kembali ke motornya dan melanjutkan perjalanannya.


Sementara itu Bara masih terus mengikutinya sampai Marsha tiba di rumah orang tuanya.


...----------------...


Keesokan harinya, Marsha memasang helm lalu melihat arah jalanan. Mobil sama yang digunakan suaminya untuk memantau dirinya. Dari kejauhan Marsha tersenyum menyapa suaminya.


"Sha, aku akan terus berjuang mendapatkan kamu kembali. Harusnya ku sadar kalau memang sudah mencintaimu dari awal kita bertemu beberapa tahun yang lalu," gumamnya.


Ia menghidupkan mesin mobil mengikuti motor yang dikendarai istrinya. Hampir sejam keliling mengantar kue. Marsha berhenti di pinggir jalan yang tidak terlalu banyak dilalui pengendara.


Bara yang melihat istrinya berhenti, bergegas turun dan menghampirinya. "Kenapa berhenti?" tampak raut khawatir di wajahnya.


"Tidak ada masalah," jawabnya. "Apa Mas tidak capek mengikutiku setiap hari?" tanyanya.


Bara menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Apa Mas tidak ke kantor?"


"Setelah kamu sampai rumah, aku akan ke kantor."


"Kalau menunggu aku sampai rumah Mas Bara pasti akan terlambat," ujar Marsha.


"Itu tidak masalah, yang penting bagiku kamu baik-baik saja sampai rumah," ucap Bara tersenyum.


Marsha tersenyum, "Andai dari awal kita menikah Mas perhatian seperti ini padaku, betapa senangnya hatiku!"


"Aku ingin kita mengulang dari awal, Sha."


"Terlambat, Mas." Marsha membuang wajahnya.


"Apa kita tidak bisa memperbaikinya?"


"Semua sudah hancur, orang tuaku tahu kamu menghamili Miranda belum lagi sikapmu selama ini kepadaku."


"Aku berjanji akan merebut hatimu dan kedua orang tuamu lagi," ucap Bara dengan mantap.


"Semoga saja kamu bisa, Mas!" Marsha tersenyum.


"Apa kamu mau kita cari sarapan dulu?" tawarnya.


"Mas, belum sarapan?" Marsha balik bertanya.


"Belum."

__ADS_1


"Ya sudah, kalau begitu aku temani Mas sarapan," ujarnya.


Bara tersenyum senang jika istrinya itu menemaninya sarapan.


__ADS_2