Marsha, Milik Bara

Marsha, Milik Bara
Sifat Buruk Miranda


__ADS_3

Bara mendatangi kediaman Miranda yang baru. Begitu sampai ia disambut dengan ramah dan manis oleh wanita.


Miranda memeluk tubuh Bara, "Aku rindu kamu!"


Bara melepaskan pelukannya dan mengedarkan pandangannya melihat tempat tinggal kekasihnya itu.


"Dari mana kamu mendapatkan uang untuk membeli rumah semewah ini?"


"Dari hasil tabunganku, Bara."


"Benarkah? Bukan dari para lelaki yang mengajakmu jalan dan tidur?" sindir Bara.


"Kamu kenapa bicara seperti itu, Bara?" Memegang perutnya yang mulai membuncit. "Ini anak kita," Miranda tersenyum.


"Sejak kapan kita melakukannya?" Bara menatap wajah wanita itu.


"Apa kamu lupa, kita sering tinggal satu rumah?"


"Tinggal bersama tapi belum menyentuhmu. Jangan bicara omong kosong, Miranda."


"Aku tidak mungkin berbohong padamu, Bara."


"Baiklah, aku percaya padamu. Bisakah kamu membuat minuman untukku?" pintanya.


"Tentunya, aku akan dapur membuatkan minuman untukmu," Miranda pun pergi.


Bara mengirimkan pesan ke salah satu anak buahnya.


Tak lama kemudian, Miranda datang membawa segelas jus jeruk dan ia letakkan dihadapan Bara


"Kamu tidak minum?" Bara menatap kekasihnya itu.


"Tidak, Bara. Kamu minum sajalah," jawab Miranda tersenyum.


Bara mengangkat gelas sambil melirik Miranda, begitu mendekati bibir ia menurunkan kembali. "Buat kamu saja, setelah itu aku yang akan meminumnya!" ia menyodorkannya.


"Tidak usah, Bara. Nanti aku bisa buat sendiri," ujarnya.


"Ayo, minum. Bukankah kita saling berbagi seperti ini?"


"Kamu saja terlebih dahulu, Bara."


"Biasanya kamu yang pertama melakukannya, kita pernah satu piring dan saling bertukar nafas."

__ADS_1


"Aku tidak mau, Bara!" tolaknya.


"Kenapa?"


"Kamu di sini adalah tamu," Miranda memberikan alasan.


"Aku curiga minuman ini kamu beri sesuatu," tuding Bara.


Miranda tersenyum, ia lalu duduk di sebelah Bara. Jemarinya meraba dada pria yang tertutup kemeja. "Kenapa kamu begitu curiga padaku?"


Bara menyingkirkan tangan Miranda dari tubuhnya. "Selama kita kenal dan dekat, aku tidak pernah bertemu dengan orang tuamu. Di mana mereka?"


"Mereka tidak tinggal bersamaku," jawabnya.


Bara mengangkat gelasnya kembali, Miranda tersenyum menyeringai. Dengan sengaja, Bara menumpahkan gelasnya di pakaian wanita itu.


Miranda terkejut lalu ia berdiri dan mengibas pakaiannya yang basah.


"Aku minta maaf, tidak sengaja," ujar Bara pura-pura panik.


"Tidak apa, Bara. Aku akan menggantinya."


"Kalau begitu aku pamit pulang," ujar Bara.


"Aku masih banyak pekerjaan."


"Ya, sudah. Hati-hati di jalan," ucapnya.


Bara pun pergi meninggalkan kediaman Miranda, tak lama kemudian sebuah mobil memasuki pekarangan rumah kekasihnya.


Bara melihat dari kaca spion mobil tersebut tersenyum. "Aku akan segera membongkar kebusukanmu!"


Miranda tersenyum melihat kehadiran seorang pria. "Hai, sayang!"


"Kenapa pakaianmu kotor seperti ini?"


"Pria bodoh itu yang sudah melakukannya, aku akan menggantinya. Apa kau mau ikut?" tawarnya dengan senyum menggoda.


"Boleh," tersenyum senang.


Keduanya kini berada di dalam kamar, Miranda membuka pakaiannya yang kotor mencampakkannya ke sembarang arah. Ia membuka kancing kemeja pria selingkuhannya. Lalu mengalungkan tangannya, bibir keduanya saling berpautan.


Miranda mendorong tubuh pria itu ke ranjang dan menaikinya, ia menyusuri dan mencecap setiap lekuk tubuh. Dan mereka saling bertukar posisi menikmati hasrat sesaat.

__ADS_1


...----------------...


Pagi harinya seperti biasa Bara mengikuti istrinya mengantar kue. Namun, kali ini tampak berbeda karena mertuanya Papa Candra ikut serta menemani Marsha.


Bara berkali-kali mengetuk jemarinya di stang mobil, ia mencari ide agar bisa bertemu dengan istrinya tanpa kena omel mertuanya.


Dengan keberanian dan tekad bulat, Bara akhirnya turun sebelum motor yang dikendarai Papa mertuanya berlalu.


"Mas Bara!" ucap Marsha lirih.


Candra melihat ke belakang, "Mau apa lagi kamu ke sini?" tanyanya ketus.


"Saya ingin bertemu Marsha, Pa."


"Kamu yakin mau bertemu dengannya, Nak?" Candra menatap putrinya.


Marsha mengangguk.


"Papa beri waktu sepuluh menit untuk bicara, cepat sana!" perintah Bara.


Marsha berjalan ke arah mobil suaminya. "Mau bicara apa, Mas?"


"Aku kangen sama kamu!" jawabnya tersenyum.


"Tiap pagi kita ketemu, Mas."


"Tapi, aku mau tiap hari kita bertemu," ujarnya.


"Apa Mas sudah bisa membuktikannya?"


"Sebentar lagi, aku bisa membuktikannya dan membawamu kembali."


"Seandainya aku kembali padamu, bolehkah aku menyiksamu?" Marsha menatap suaminya.


"Dengan senang hati, kamu boleh menyiksaku," jawab Bara tersenyum.


"Marsha!" panggil Candra dari kejauhan.


"Mas, aku harus mengantar kue. Kamu pulanglah, jangan telat sarapan," ucap Marsha.


"Iya, Sha. Aku mencintaimu!"


Marsha tidak menjawab hanya tersenyum kemudian ia berlalu meninggalkan suaminya dan menghampiri papanya.

__ADS_1


__ADS_2