Marsha, Milik Bara

Marsha, Milik Bara
Dikurung


__ADS_3

Selama perjalanan pulang, Marsha memilih diam. Karena ia bingung ingin bicara apa. Sesekali ia melirik suaminya yang sedang menyetir.


"Tadi pagi wanita yang bersamamu kemarin datang ke rumah," ucap Marsha.


"Miranda?"


"Aku tidak tahu namanya," jawabnya.


"Mau apa dia ke rumah?"


"Katanya mau menunggumu, tapi siang harinya dia pulang. Karena aku melarangnya tidur di kamarmu," jawabnya lagi.


"Kenapa kau melarangnya tidur di kamarku? Kami biasa melakukannya," ujar Bara.


"Menjijikkan sekali," ucap Marsha membuang wajahnya.


"Kami saling mencintai, memangnya kenapa kalau tidur bersama?"


"Mas, menikah denganku tapi tidur dengannya," jawab Marsha menatap wajah suaminya.


"Aku menikahimu karena kedua orang tuaku tidak menyetujui hubungan kami," ungkap Bara.


Marsha segera membuang wajahnya lagi, rasanya hatinya sesak. Ucapan suaminya membuatnya kesal dan kecewa.


-


Sesampainya di rumah, Marsha bergegas ke kamarnya. Ia malas berlama-lama dan berdekatan dengan suaminya.


Baru saja mengganti pakaiannya, suara ketukan pintu terdengar. Ia membukanya," Ada apa lagi?"


Bara tertawa sinis, "Kau di sini tugasnya melayaniku!"


"Aku bukan pelayanmu," Marsha berkata tegas.


Bara mengeraskan rahangnya, ia menarik paksa tangan Marsha lalu membawanya ke dapur. "Buatkan aku minuman, sekarang juga!"


Marsha mengangguk mengiyakan.


-


Beberapa menit kemudian, Marsha membawa secangkir teh hangat di kamar suaminya.


"Letakkan di sini!" perintahnya menyuruh istrinya meletakkan teh di meja yang berada di balkon kamar.

__ADS_1


Marsha menuruti perintah suaminya.


Bara menyesap tehnya, tiba-tiba ia menyiramkannya di wajah istrinya membuat wanita itu terkejut.


Marsha mengelap wajahnya dengan telapak tangannya. Ia hendak pergi dari kamar suaminya, namun pria itu menahan lengannya.


"Kau mau ke man, hah?" Bara menampar Marsha membuat wanita itu memegang pipinya.


Mata Marsha mulai berair, dia berusaha keras melepaskan genggaman suaminya. "Kau pria yang paling brengsek yang aku temui!" ia meludah wajah suaminya.


Bara semakin mengeratkan genggamannya, kemudian ia membawa istrinya ke sebuah kamar yang tidak terpakai lalu ia mendorongnya. "Aku akan bersenang-senang dengan Miranda, aku harap kau jangan membuat keributan!"


Marsha bergegas berdiri, mencoba kabur dari kamar itu. Namun, tubuh suaminya besar hingga ia kesulitan menerobosnya.


Bara kembali mendorong Marsha sampai terjengkang. Kemudian ia menutup pintu dan menguncinya dari luar. Dia tidak peduli dengan suara teriakan istrinya. Dia menarik sudut bibirnya, "Ini belum seberapa setelah apa yang kau lakukan dahulu!" gumamnya.


Bara lantas pergi ke kamar istrinya, sesampainya di sana ia mencari ponsel Marsha. Setelah dapat ia lantas mengambilnya dan menonaktifkan nomornya.


...****************...


Matahari sudah berada di peraduan, Bara tidak memikirkan bagaimana kondisi istrinya yang ia kurung di kamar kosong. Ia lalu pergi ke kantor tanpa sarapan terlebih dahulu.


Marsha terbangun dari tidurnya, ia memegang kepalanya yang sakit. Semalaman dia terus menangis, ia pun bangkit dan berjalan tertatih ke arah pintu dan menggedornya berulang kali.


"Mas, tolong buka!" pintanya berteriak.


"Apa dia sudah ke kantor?" tanyanya dalam hati.


Marsha kembali menggedor dan memanggil nama suaminya.


Lagi-lagi tak ada jawaban.


Marsha mencari cara agar bisa keluar, dalam hati ia berjanji akan kabur dan memberitahu kedua orang tuanya serta mengajukan gugatan cerai.


Dia tidak peduli dengan omongan orang lain, jika dia harus berpisah.


Perutnya terasa lapar dan tenggorokannya terasa haus. Tanpa terasa tubuhnya semakin lama semakin lemas dan ia pun pingsan.


Menjelang pukul 5 sore, Bara kembali ke rumah bersama Miranda. Keadaan rumah masih sama saat ia pergi ke kantor.


"Di mana istrimu?"


"Paling juga di kamarnya," jawab Bara berbohong.

__ADS_1


"Sayang, aku haus. Bisakah kau suruh istrimu membuatkan kita minuman?"


"Kau tunggu di sini, aku akan memanggilnya." Bara berjalan ke kamar penyekapan.


Bara membuka pintu dan melihat Marsha tergeletak tak berdaya. "Marsha!" panggilnya. Namun, tubuh itu tidak bergerak.


Ia pun mendekatinya dan menggoyangkan tubuh istrinya. "Hei, bangun!" panggilnya dengan suara kuat. Tetap tidak ada jawaban.


Bara melihat sudut bibir Marsha memerah begitu juga dengan lengan dan pergelangan tangannya. "Marsha, bangun!" ia mulai khawatir.


"Tidak, dia tak mungkin mati!" wajah Bara memucat. Ia meletakkan jarinya di hidung Marsha.


Bara lalu mengangkat tubuh lemah istrinya itu ke kamarnya.


Miranda yang melihat kekasihnya membopong tubuh Marsha merasa tak suka dan mendekatinya. "Kenapa dia?"


"Lebih baik kamu pulang!"


"Sayang, aku ingin berdua denganmu!" rengek Miranda. Ia mengikuti Bara ke kamarnya.


"Miranda, aku mohon pulanglah!" usir Bara.


"Sayang, kenapa kau lebih memilih mengurus dia?"


"Dia lagi pingsan, cobalah mengerti!" pinta Bara.


"Baiklah, aku akan pulang. Tapi, minta uang untuk uang taksi," Miranda menengadahkan telapak tangannya.


Bara menyodorkan tiga lembar uang berwarna merah.


Miranda tersenyum, ia lalu mengecup pipi kekasihnya.


"Jangan melakukan itu lagi di rumahku," mohon Bara.


Iya, sayang. Aku pulang, ya!" pamitnya. Miranda pun meninggalkan rumah kekasihnya.


Bara kembali melihat istrinya yang masih tergolek lemas, matanya masih terpejam. Ia menepuk pelan pipi Marsha.


Ia pergi ke dapur, mengambil air es dan handuk lalu mengompres sudut bibir Marsha yang memerah.


Hampir sejam di ranjang suaminya, Marsha akhirnya sadar. Tubuhnya terasa sakit, ia mengedarkan pandangannya seketika ia terbangun lalu bergegas turun dan keluar dari kamar.


Marsha ke kamarnya mencari ponselnya namun tidak ia temukan. "Aku tidak pernah memindahkannya," gumamnya. "Pasti dia yang mengambilnya," tebaknya.

__ADS_1


Marsha membawa sisa uang yang tersisa untuk kabur. Dengan berjalan mengendap-endap dan melihat sekelilingnya, ia akhirnya sampai di pintu utama.


"Mau ke mana?"


__ADS_2