
Miranda yang tak tahu malu, kembali datang menghampiri rumah kekasihnya. "Sayang, aku minta maaf!" ia memeluk Bara.
"Apa yang kau lakukan, bagaimana jika istriku tahu?" melepaskan pelukan Miranda.
"Bukankah kau tidak mencintainya?"
"Memang iya, tapi ini rumahku. Bagaimana jika orang tuaku datang ke sini? Bukan hanya kau saja yang dicampakkan, aku juga," ungkap Bara.
"Itu lebih bagus, sayang. Kita bisa bersama," ujar Miranda manja.
"Apa kau mau kita hidup miskin?" Bara menatap kekasihnya.
Miranda menggelengkan kepalanya.
"Kenapa datang lagi? Kau mengatakan sudah memiliki kekasih," ujar Bara.
"Aku berbohong, Bara. Aku cuma ingin tahu, apa kau benar-benar mencintaiku atau tidak," jelas Miranda.
Bara tersenyum memegang pipi kekasihnya dengan tangan kanannya. "Iya, aku percaya padamu. Ayo, masuk!"
"Di mana istrimu?" Miranda mengedarkan pandangannya.
"Ada di kamarnya," jawab Bara.
"Suruh dia membuat makanan buat kita," pinta Miranda.
"Tidak usah, aku harus ke kantor," Bara mendorong pelan tubuh Miranda agar keluar rumah.
"Bara, aku ingin menunggumu di rumah ini," protes Miranda.
"Tidak perlu, nanti ku jemput. Jika aku butuh kamu," ujar Bara.
"Kau datang bila butuh saja?" tanya Miranda.
"Iya, karena penting bagimu saat ini uangku, kan?" balik bertanya.
"Kau dan uangmu juga," Miranda tersenyum genit.
"Aku tidak punya banyak waktu, kita harus segera pergi dari sini," Bara mengambil tas kerja yang ada di meja makan lalu berlari kecil menuju mobilnya.
-
-
Semenjak menikah, Bara jarang sekali pulang sore. Paling cepat ia akan tiba di rumah jam 8 malam.
Jam di ponsel menunjukkan pukul 16.30 waktu bagian barat. Ia mengetuk pintu utama namun tak ada sahutan.
Bara membuka pintu dan memanggil nama istrinya, lagi-lagi tak ada sahutan. Ia mencari di kamar tidak ketemu juga. Ia mencari Marsha di kolam renang, ternyata wanita itu sedang berada di sana.
Marsha menenggelamkan tubuhnya tak lama ia menampakkan kepalanya. Suaminya berdiri di pinggir kolam memperhatikannya. "Mas, sudah pulang?"
__ADS_1
"Kamu ngapain di sini?" tanya Bara.
"Ya, berenang," jawab Marsha ketus.
"Aku pikir kau ingin bunuh diri," tebak Bara.
"Apa kau begitu mengkhawatirkan aku?" tanya Marsha masih berada di dalam kolam.
"Tidak juga," Bara berbohong padahal hati kecilnya ia sangat mengkhawatirkan istrinya. "Tadi pagi kau sakit, kenapa berenang?" lanjut bertanya.
"Aku sangat bosan, jadinya aku berenang," jawabnya.
"Apa kau sudah sehat?" tanya Bara.
Marsha dari kolam, pakaian yang ia gunakan sangat minim dan menampakkan lekuk tubuhnya membuat Bara harus menelan saliva.
"Kenapa kau berpakaian seperti ini?" tanya Bara.
"Aku berenang, Mas. Lagian di rumah ini cuma ada kita, tak mungkin aku pakai gaun," Marsha mengelap rambutnya dengan handuk.
"Benar juga," batin Bara.
"Aku akan mengganti pakaian dan membuat minuman untukmu," ujar Marsha lalu ia pergi ke kamarnya.
Setengah jam kemudian, Marsha mengantarkan minuman teh ke kamar suaminya.
"Terima kasih," ucap Bara membuat Marsha heran.
"Malam ini Mas, makan di rumah atau di luar?" tanya Marsha.
"Ya, sudah." Marsha pun pergi meninggalkan kamar suaminya.
-
Bara pergi menemui sahabatnya yang baru saja pulang dari luar negeri di sebuah kafe yang menjadi tempat langganan mereka berdua.
"Aku pikir kau tidak akan datang," ujar pria yang bernama Mike.
"Aku pasti datang, apalagi kita sudah lama tidak bertemu."
"Maaf, aku tidak bisa menghadiri acara pernikahanmu tapi hadiah yang ku kirim sudah diterima, kan?"
"Sudah, tapi aku belum memakainya," jawabnya.
"Kenapa? Apa kau tidak suka dengan tempatnya?"
"Tidak juga, cuma aku dan dia belum melakukannya," jawab Bara.
Mike tertawa mendengar jawaban sahabatnya itu. "Apa kau tahan melihatnya setiap hari tanpa menyentuhnya?"
"Aku tidak mencintainya," jawab Bara.
__ADS_1
"Kalau kau memang tidak mencintainya, kenapa menikahinya?"
"Kau pasti sudah tahu alasan ku menikahinya."
"Sampai kapan kau menyimpan dendam? Kasihan dia," ujar Mike.
"Tapi, aku belum puas membalas perlakuannya dahulu."
"Lebih baik kau hentikan saja, kalian sudah menikah juga. Aku khawatir kau akan menyesal dikemudian hari," nasehat Mike.
"Aku tidak akan pernah menyesal," Bara begitu yakin.
"Apa kau menyiksanya?" Mike penasaran.
"Ya, aku melakukan persis yang ia lakukan padaku."
"Kau sangat gila, Bara!" Mike tak habis pikir dengan sahabatnya.
"Tujuan ku menikahinya ingin membalas semua ia lakukan," ujar Bara tersenyum.
-
Pukul 12 malam, Bara pulang ke rumah. Hujan turun sangat deras dan jalanan juga sepi. Begitu sampai, ia melihat kediamannya tampak gelap. Hanya lampu teras yang menyala.
Ia membuka pintu yang tidak terkunci lalu menyalakan lampu, ia melihat barang-barang di ruang tamu tampak berantakan. Bara memanggil nama istrinya, namun tak ada sahutan.
Saat melewati ruang makan dan dapur juga tampak berantakan. Rasa cemas menyelimuti hatinya, ia mempercepat langkahnya ke kamar istrinya.
Perlahan membuka pintu, ia terkejut Marsha tergeletak di dekat pintu dengan wajah memar. Bara menyentuh tangan istrinya, "Marsha bangun!"
Marsha perlahan membuka matanya, "Mas!" kemudian ia kembali pingsan.
Bara mengangkat tubuh istrinya ke mobil lalu membawanya ke rumah sakit terdekat.
Sesampainya di sana, Marsha mendapatkan pengobatan oleh Dokter jaga. Bara menunggu di ruang tunggu pasien.
Hampir setengah jam, Bara akhirnya bisa menemui istrinya.
"Apa yang anda lakukan padanya?" tanya seorang wanita muda cantik yang bergelar dokter.
"Saya tidak melakukan apa-apa, Dok!"
"Saya bisa menjadi saksi wanita ini, jika anda terlibat dalam penganiayaan terhadapnya," ancam wanita yang bernama Alexa.
"Anda bicara apa, Nona?" Bara tidak suka.
"Saya tahu anda melakukan ini padanya. Lihatlah wajahnya lebam, lengan tangannya memar dan kakinya terluka," Alexa menunjuk bagian tubuh Marsha pada Bara.
Marsha yang masih lemah, akhirnya bicara. "Dok, bukan suami saya yang melakukannya. Rumah kami didatangi perampok."
"Perampok?" Bara terkejut.
__ADS_1
"Anda tidak perlu berbohong, ada luka dibibir yang sudah mengering. Saya tahu Nona mengalami kekerasan rumah tangga," ujar Alexa.
"Ayo, kita pulang. Aku tidak mau wanita ini menuduhku yang bukan-bukan," Bara membantu istrinya bangun dan memapahnya keluar dari ruang pengobatan.