
Hari keberangkatan pun tiba, Bara dan istrinya bersiap pergi ke luar negeri bersama kedua orang tuanya dan kedua adiknya.
Liburan ini yang pertama bagi pasangan suami istri itu. Perjalanan kali ini juga merupakan kesempatan mereka berbulan madu.
"Sha, kenapa diam? Apa kamu sakit?" tanya Bara yang berada di samping istrinya.
"Tidak, Mas. Cuma aku merindukan saat dahulu kami sering pergi berlibur ke luar negeri. Namun, semua sudah berakhir. Perusahaan Papa dan Mama hancur oleh orang kepercayaannya," jelas Marsha.
"Sekarang aku akan berusaha mewujudkan impian kamu yang tidak sempat terpenuhi dan membahagiakanmu," Bara memegang tangan istrinya.
Marsha meletakkan kepalanya di bahu. "Kenapa Mas menyukaiku?"
"Aku juga tidak tahu, kamu wanita yang cantik. Begitulah awal ku menyukainya."
"Itu artinya Mas sudah jatuh cinta padaku, dari awal bertemu?" tanya Marsha mengangkat kepalanya lalu menatap suaminya.
"Ya."
Marsha tersenyum lalu kembali meletakkan kepalanya di bahu.
...----------------...
Matahari sudah tinggi, namun pasangan suami istri masih berbalut selimut sampai terdengar suara telepon berdering.
Bara terbangun dan menjawabnya, suara berisik dari ujung telepon membuat pria menjauhkannya dari telinganya. Ya, suara Nia yang selalu membuat Bara tak bisa berkutik. Gadis itu paling pintar mengoceh dan paling cerewet.
__ADS_1
"Kakak akan ke sana, kalian tunggulah sebentar lagi!" Bara menutup teleponnya.
"Pasti Nia dan Tia?" tebak Marsha.
"Ya, mereka sudah menunggu kita di restoran. Bersiaplah kita akan sarapan pagi," ajaknya.
"Ya, Mas." Marsha menyibak selimut lalu turun dari ranjang dan membersihkan diri.
-
Bara berjalan di sampingnya istrinya memasuki restoran hotel, seluruh keluarga sudah mengumpul.
"Kak, kalian ke sini bukan untuk bulan madu tapi membantu Tia memilih sekolah," omel Nia.
"Tidak, Nak." Sahut Laras.
Ucapan itu membuat Nia menjadi iri, karena ia sekali menikah namun belum mendapatkan izin.
Selesai sarapan mereka berjalan-jalan keliling kota di negara itu sambil mencari sekolah perguruan tinggi yang menjadi rekomendasi.
Hingga menjelang malam hari, mereka kembali ke hotel untuk beristirahat. Esok hari akan dilanjutkan lagi.
Begitu sampai kamar, Bara memeluk tubuh istrinya dari belakang ia mencium ceruk leher.
"Mas, aku mandi. Bisakah kau melepaskanku?"
__ADS_1
"Jangan lama mandinya," bisiknya dengan menggoda.
"Mas, kemarin kita sudah melakukannya berulang kali. Bisakah memberikan aku waktu beristirahat?"
Bara membalikkan tubuh istrinya dan kini mereka saling berhadapan. "Tidak, ini kesempatan kita berdua. Kalau aku sudah kembali ke kantor, tidak ada kesempatan lagi berlama-lama seperti ini."
"Ya, aku mengerti. Tapi, bisakah beri waktu untuk menyegarkan tubuh ini. Aku sudah gerah," pintanya.
"Kita akan mandi bersama," Bara menarik tangan istrinya dan membawanya ke kamar mandi.
-
Beberapa menit kemudian, Bara menggendong istrinya dan merebahkan tubuhnya di ranjang. Dengan lembut, ia menyusuri setiap lekuk tubuh Marsha. Suara ******* menambah gairah Bara untuk menikmati area sensitif yang membuat istrinya terbang melayang.
Hampir sejam bergulat mesra di atas ranjang akhirnya mereka tertidur dan saling berpelukan.
Pagi belum menjelang, Bara terbangun ia melihat istrinya yang berada di sampingnya. Ia mengecup keningnya dan berkata, "Aku mencintaimu!"
Marsha yang merasakan sentuhan di keningnya membuka matanya. "Mas, kenapa tidak tidur?"
"Tadi aku terbangun, lalu ku melihat bidadari tidur di sampingku," Bara merayu.
Marsha tersenyum lalu memukul pelan dada istrinya, "Sudah pintar 'ya menggodaku!"
Bara pun tersenyum, mengeratkan dekapannya dan kembali tertidur.
__ADS_1