Marsha, Milik Bara

Marsha, Milik Bara
Membela Menantu


__ADS_3

Pagi ini Robin menyuapkan bubur ke mulut istrinya. Sebelum ke kantor ia akan melakukan aktivitas itu mengurus semua keperluan Nia termasuk memandikannya.


Pasca meninggalnya calon bayi mereka, Nia lebih sering melamun terkadang tiba-tiba mengamuk.


Di tengah rutinitas pagi pasangan suami istri. Silvia datang berkunjung. "Selamat pagi, sayang!"


Robin segera bangkit dari kursinya, lalu mendekati Silvia dan menarik tangannya menjauh dari istrinya. "Kenapa kau di sini?" tanyanya pelan.


"Aku rindu padamu, sayang."


"Mulai hari ini kau harus jauhi aku!" mohon Robin.


"Kenapa, sayang? Aku mencintaimu," ujar Silvia dengan wajah sedih.


"Aku tidak lagi, ku sengaja mendekatimu untuk membuat hati istriku tersiksa. Namun, sekarang semua berbeda. Lebih baik kau pergi dari sini!"


"Jadi selama ini kau mempermainkan aku?"


"Kau yang lebih dulu pergi meninggalkan aku," jawab Robin.


Mama Carla datang mengunjungi kediaman suaminya yang sekarang ditempati anak dan menantunya. Namun, begitu sampai wajahnya mendadak kesal. Ia berjalan menghampiri putranya. "Mau apa dia ke sini?"


Robin dan Silvia terkejut melihat kedatangan Mama Carla. "Mama?"


"Kenapa kau masih di sini?" Carla menatap Silvia.


"Aku ingin bertemu Robin, Tante."


"Putraku sudah menikah dan cucuku meninggal juga karena ulahmu!" tuding Carla.


"Bukan aku yang melakukannya?" Silvia tampak ketakutan begitu juga dengan Robin


"Aku tahu semua, kau meninggalkan putraku saat perusahaannya bangkrut. Sekarang dia mulai bangkit, kau malah datang lagi di kehidupannya," Carla menatap sinis.


"Ma, aku yang mencari Silvia lagi," ujar Robin.


"Usir dia atau kau juga pergi bersamanya dan jangan pernah kembali ke sini karena Mama tidak akan memberikan sepeserpun harta kepadamu!" Carla berbicara pada putranya.


Robin menarik tangan Silvia keluar dari rumahnya. "Jangan pernah kemari lagi!" menekankan kata-katanya.


Silvia mendengus kesal, "Kau tidak akan pernah bahagia!" ancamnya. Ia pun kemudian berlalu.


Robin tak membalas ucapan mantan kekasihnya itu, ia memilih masuk dan menemui Mama Carla.


"Mama ingin bicara padamu!" Carla memilih menjauh dari menantunya agar bisa berbicara empat mata dengan putranya.


"Apa yang ingin Mama bicarakan?"


"Dari awal meninggal calon cucu, Mama ingin tanyakan hal ini tapi karena ku lihat kamu sedang berduka tak tepat untuk bertanya," jawab Carla.


Robin tahu mamanya tahu semuanya.


"Apa selama ini kamu jarang pulang ke rumah?"


"Ya, Ma."


"Kenapa?"

__ADS_1


"Di rumah ini penuh kenangan, Ma."


"Jadi kamu meninggalkan istrimu yang sedang hamil di rumah ini sendirian," ujar Clara. "Mama juga melihat kamu sering memarahi bahkan membentak Nia," lanjutnya.


Robin terdiam.


"Karena perlakuanmu itu Nia menjadi pendiam dan sering melamun. Mama kecewa dengan sikapmu!" sentak Carla.


"Maafkan aku, Ma!"


"Aku menginginkan cucu lagi dari Nia, jadi Mama mau kamu harus mengembalikan dia seperti dulu," Carla pun berlalu meninggalkan putranya dan menghampiri menantunya duduk di kursi roda yang berada di taman kecil samping rumah.


Robin memijit pelipisnya. "Bagaimana bisa punya anak? Menyentuhnya saja ku tak berani," gumamnya.


-


Rio masih terus mengejar Weni, ia pun kembali mendatangi toko ponsel. Namun, wanita yang ia cari sedang cuti kerja.


Rio bertanya alamat rumah Weni kepada rekan kerjanya dan akhirnya ia dapatkan.


Menggunakan mobilnya, ia mendatangi kediaman Weni yang harus melewati jalan kecil yang cukup dilewati satu kendaraan roda empat.


Begitu sampai, ia harus turun dan berjalan memasuki gang kecil yang padat penduduk. Sesekali ia bertanya kepada warga untuk sampai ke rumah wanita itu.


Hampir sejam mencari alamat Weni akhirnya ketemu juga. Tampak rumah dua lantai berdiri dengan cat dinding mulai kusam dikelilingi pagar besi warna hitam yang juga sudah pudar.


Rio mengetuk pintu, lalu muncul seorang wanita paruh baya menyambutnya dengan tersenyum. "Cari siapa, Nak?"


"Saya ingin mencari Weni," jawab Rio.


"Kamu siapanya Weni?"


"Oh," ucapnya singkat. "Dia sedang tidak di rumah," lanjutnya berucap.


"Jadi, dia lagi di mana?"


"Coba kamu pergi ke ujung jalan sana!" wanita itu menunjuk ke arah barat. "Biasanya dia di sana," lanjutnya.


"Baiklah, saya akan ke sana. Kalau begitu saya permisi, Tante!" Rio pun pamit. Ia kembali mencari Weni.


Sambil melihat ke kanan dan kiri akhirnya tak sampai 5 menit, ia bertemu dengan wanita yang dicarinya. Tampak Weni sedang duduk di teras rumah di kelilingi bocah-bocah dibawah usia 10 tahun sambil memegang buku dan pensil.


Rio berdiri menatap wanita bertubuh langsing, kulit kuning langsat yang rambutnya dicepol tanpa riasan wajah namun tetap kelihatan cantik.


"Kak, sepertinya kakak laki-laki itu melihat ke arah kita," ujar salah satu bocah perempuan kepada Weni.


Weni segera mengarahkan pandangannya kepada seseorang yang dimaksud, ia sedikit terkejut melihat kedatangan Rio yang tiba-tiba. "Dari mana dia tahu alamatku?" batinnya.


Rio tersenyum kearahnya.


"Kalian lanjutkan belajarnya, ya. Kakak mau menemui teman," ujarnya.


"Ya, Kak!" jawab serempak para bocah.


Weni pun menghampiri Rio, "Kenapa ke sini?"


"Aku tadi ke rumahmu, kata Ibumu kau di sini," jawab Rio.

__ADS_1


"Ya, ada apa kau ke sini?"


"Ingin tahu saja alamatmu," jawabnya.


"Sekarang kau sudah tahu alamatku, jadi mau apa lagi. Lebih baik pulang sana," ujar Weni.


"Aku mau mengajakmu makan malam," ucap Rio.


Weni tertawa kecil, "Apa aku tidak salah dengar? Kau mengajak gadis yang salah."


"Aku tidak salah, aku akan menjemputmu nanti pukul tujuh malam. Jadi, bersiaplah!" ucap Rio kemudian ia berlalu.


"Aku belum mengiyakan, tapi dia sudah main kabur saja," batin Weni.


Sebuah pesan masuk ke ponsel Weni, 'Aku akan datang tepat waktu, jangan membuatku lama menunggu.'


Weni melihat jam di ponselnya masih menunjukkan pukul 4 sore. Ia pun kembali menghampiri anak-anak yang diajarinya. "Pelajaran hari ini cukup, ya. Kalian bisa lanjutkan di rumah. Atau bisa kalian tanyakan pada Kak Putri."


"Baik, Kak." Jawab mereka serempak.


Weni kembali ke rumah, ibunya berdiri menghampiri putrinya. "Tadi ada temanmu ke sini, apa dia sudah bertemu denganmu?"


"Sudah, Bu."


"Ibu tidak pernah melihatnya kemari, apa dia kekasihmu?"


"Bukan, Bu."


"Lalu?"


"Hanya kenal di toko saja, Bu."


"Teman kerjamu?"


"Bukan, dia pembeli ponsel di toko."


"Oh, begitu. Tapi dia sangat tampan," puji Ibunya Weni.


Weni hanya tersenyum tipis, ibunya memuji pria aneh itu. Ia pun bergegas ke kamar membuka lemari mencari pakaian yang pantas dipakainya untuk nanti malam.


Akhirnya pilihannya jatuh pada gaun selutut berwarna coklat muda lengan panjang.


-


Tepat pukul 7 malam, Rio menjemput Weni setelah berpamitan pada kedua orang tua wanita itu mereka pun pergi.


Rio tersenyum melihat penampilan Weni malam ini yang sangat berbeda dari biasanya. Rambutnya yang dikucir ke atas nampak jenjang lehernya yang berbalut kalung emas.


"Tidak usah melihatku seperti itu," ucapnya ketus.


"Aku pikir kau tidak bisa berdandan," ujar Rio.


"Aku berdandan juga lihat akan ke mana pergi."


"Benar juga, sih."


"Sekarang kita mau ke mana? Kau tidak menculikku, kan?"

__ADS_1


"Aku akan mengajakmu bertemu kedua orang tuaku."


Dengan cepat Weni menoleh, "Apa!"


__ADS_2