Marsha, Milik Bara

Marsha, Milik Bara
Mencoba Berdamai


__ADS_3

Selepas mengantar kedua tamunya pulang, Marsha kembali ke rumah. Ia berjalan ke dapur, suaminya sudah menunggunya di sana.


"Terima kasih sudah membelaku," ujar Bara.


"Ya." Marsha memberikan ucapan singkat.


"Bagaimana kalau malam ini kita makan di luar?" ajak Bara.


"Tidak bisa," tolaknya.


"Kenapa?"


"Aku bukan siapa-siapa bagimu."


"Sebagai permintaan maaf ku," ucap Bara.


"Tidak, Mas." Marsha memilih pergi ke kamar.


"Dia kenapa sih'?"


-


Malam harinya...


"Hai, sayang!" sapa Miranda tersenyum genit.


"Aku sudah bilang, jangan pernah ke sini lagi!" Bara menarik tangan Miranda menjauh dari rumah.


"Aku kangen kamu, Bara." Miranda ingin memeluk namun didorong pelan oleh kekasihnya itu.


"Miranda, kamu harus bisa mengerti posisi aku sekarang," ujar Bara.


"Iya, aku tahu kamu sekarang sudah berstatus suami orang, tapi aku ini kekasihmu," Miranda memanyunkan bibirnya.


"Ini ada uang untukmu, sekarang kamu pulang!" Bara mengambil dompet di kantong celana lalu menyerahkan 6 lembar uang berwarna biru.


"Iya, aku akan pulang. Terima kasih," Miranda memegang wajah Bara kemudian ia pergi menggunakan mobilnya.


Setelah Miranda pergi, Bara kembali masuk ke dalam rumah.


Marsha sedang menyajikan makan malam di meja. Bara sudah bersiap menikmatinya.


"Kekasihmu tidak diajak makan?" tanya Marsha.


"Dia sudah pulang," jawab Bara menikmati masakan istrinya.


"Cepat sekali? Bukankah kalian tidak bisa dipisahkan?" sindir Marsha.


"Jangan memancing emosiku, Marsha!" Bara meletakkan sendoknya.


"Baiklah," ucap Marsha. Ia pun bersiap hendak pergi ke kamar.


"Mau ke mana?"


"Mau tidur!" jawab Marsha ketus.


"Kamu tidak makan?"


"Tidak."


"Marsha!" panggilnya.

__ADS_1


"Ada apa lagi?"


"Duduklah, temani aku makan!" ajak Bara lembut.


Marsha kembali ke meja makan, ia menarik kursi lalu duduk di hadapan suaminya.


Marsha hanya duduk tanpa memakan apapun.


"Kenapa tidak makan?" Bara menatap istrinya.


"Aku akan menemanimu makan saja," jawab Marsha.


"Sha, tolong makan!" titahnya.


"Untuk apa, Mas?" Marsha meninggikan suaranya. "Saat ini dirimu bersikap lembut setelah itu menyiksaku kembali," ujarnya.


Bara memilih diam.


"Dahulu aku memang salah, mempermalukanmu di depan para siswa lainnya tapi ada alasan ku melakukan itu!" Marsha berbicara lantang.


Bara memundurkan kursinya secara kasar lalu berdiri. "Aku tidak perlu tahu alasanmu, tapi perlakuanmu saat itu sangat buruk!"


"Oke, aku minta maaf!"


"Terlambat, Marsha!"


"Mas, ingin aku perlahan mati. Baiklah, aku menuruti keinginanmu itu!" Marsha mengambil gelas lalu memecahkannya. "Biar Mas puas dan memaafkan kesalahanku!" ia lalu mengambil serpihan kaca yang sedikit lebih besar lalu mengarahkannya di pergelangan tangan.


"Marsha, jangan!" teriak Bara.


"Kenapa? Bukankah ini yang Mas inginkan?" Marsha terus berurai air mata.


"Marsha, jangan lakukan itu!" Bara berbicara lembut.


Dengan cepat, Bara memukul tangan kiri Marsha yang memegang kaca sehingga benda tersebut jatuh. Bara lantas memeluk istrinya.


"Lepaskan aku, Mas!" Marsha terus memberontak.


"Marsha, tenanglah!" bujuk Bara.


"Ceraikan aku, Mas!" pintanya sembari menangis.


Mendengar kata itu, Bara mengeraskan rahangnya. Ia lalu mengcengkeram lengan istrinya dengan kedua tangannya. "Sampai kapanpun aku tidak akan menceraikanmu!" menekankan kata-katanya.


"Kenapa? Mas, ingin menyiksaku lagi?" Marsha menatap wajah suaminya penuh amarah.


"Marsha, kau milikku!" Bara menegaskan perkataannya. Ia melepaskan cengkeramannya lalu pergi meninggalkan istrinya yang menangis.


...----------------...


Pagi ini tidak ada aktivitas apapun di dapur. Rumah tampak sepi. Bara yang turun memperhatikan sekelilingnya. Seperti biasa ia akan duduk menikmati hidangan yang dibuat istrinya.


"Marsha!" panggilnya.


"Ya, ada apa?"


"Mana sarapanku?"


"Aku sedang malas membuatnya," jawabnya santai.


"Kau bilang malas?"

__ADS_1


"Mas, aku ini bukan siapa-siapa. Jangan menyuruhku lagi, suruh saja istrimu!"


"Hei, kau itu istriku!" ujar Bara.


"Tapi, cuma sekedar di buku nikah saja!"


"Kau pagi-pagi sudah mencari masalah saja!" Bara menghidupkan kompor memasak air dan membuat teh.


Marsha malah duduk sambil memperhatikan suaminya, ia mengambil buah apel yang tersedia di meja lalu memakannya.


"Siapa yang menyuruhmu makan itu?" Bara yang melihat istrinya makan buah dengan santai.


"Aku lapar, anggap saja Mas sedang mengasihiku," jawab Marsha santai.


"Kau tidak boleh menyentuh apapun di rumah ini," larang Bara.


"Baiklah, kalau begitu aku akan keluar dari rumah ini!"


"Siapa yang menyuruhmu keluar?"


"Apa Mas ingin terkenal karena tak memberikan makan orang yang berada di dalam rumahnya?"


Bara sejenak berpikir, " Kau boleh memakannya!"


"Begitu dong!" Marsha mengambil satu buah apel lagi. "Jangan lupa setelah sarapan, cuci piring," Ia pun berlalu.


Bara mendengus kesal mendengar perintah istrinya itu.


Baru hendak meminum tehnya, Marsha melewati meja makan dengan celana pendek di atas paha dan kaos ketat tanpa lengan tampak belahan dadanya.


"Kau mau ke mana?"


"Berenang!"


"Ya, sudah pergi sana!" Bara melanjutkan sarapannya.


Selesai sarapan, Bara hendak ke kantor mendadak membatalkannya. Ia lantas pergi ke kamarnya mengganti pakaiannya lalu berjalan ke arah kolam dan ikut berenang bersama istrinya.


"Kenapa tidak ke kantor?"


"Aku sedang malas saja."


"Tumben!" sindirnya.


"Aku tidak mau saja, kau bunuh diri di kolam ini," ujar Bara.


"Aku tidak sebodoh itu!"


"Lalu yang semalam itu?"


"Aku hanya menggertak, Mas. Ternyata, masih punya rasa kasihan," jawabnya.


"Jadi, kau mempermainkan aku!" Bara meraih tubuh istrinya lalu mendekapnya.


"Apa yang Mas lakukan?"


"Kau istriku jadi ku berhak atas dirimu," jawab Bara.


Marsha melepaskan dekapan suaminya lalu naik ke atas. "Mas sangat membenciku, jadi seharusnya tidak menyentuhku!"


"Kenapa? Kita sudah menikah," ujar Bara yang juga mengakhiri berenangnya.

__ADS_1


"Aku tidak mau hamil anakmu, jika ayahnya saja sangat membenci ibunya," Marsha meraih handuk dan mengelap tubuhnya.


Ucapan istrinya membuat Bara terdiam dan berpikir.


__ADS_2