Marsha, Milik Bara

Marsha, Milik Bara
Hadiah Untuk Mertua


__ADS_3

Suara lantang mengejutkannya, dengan cepat Marsha memaksa membuka pintu. Namun, ia tak berhasil keluar. Tangan kekar suaminya menariknya kembali ke kamar. Tapi, bukan ke kamarnya melainkan ke kamar Bara. Marsha dihempaskan ke ranjang.


"Jangan mencoba kabur dari sini, jika berani kau akan tahu akibatnya," ancamnya.


Marsha turun dari ranjang menyusul suaminya lalu memegang kakinya yang hendak keluar. "Tolong, lepaskan aku!" pintanya berurai air mata.


Bara berusaha melepaskan genggaman tangan Marsha di kakinya.


"Apa salahku?" tanyanya terbata.


Bara sedikit merendahkan tubuhnya lalu menarik rambut Marsha hingga wanita itu mendongakkan kepalanya.


"Apa kau ingin tahu salahmu?" tanya Bara.


Marsha mengangguk.


"Belum saatnya kau tahu, aku ingin menyiksamu hingga rasa sakit hatiku terbalas," ucapnya dingin.


Marsha terus menangis.


"Hentikan tangisanmu!" sentaknya.


Marsha mencoba berhenti tapi air matanya terus menetes.


"Tadi kedua orang tuamu menelepon ku menanyakan kabarmu, jadi besok pagi kita akan ke sana. Aku harap, kau jangan mengadu apapun kepada mereka. Jika berani, bukan kau saja yang menderita tapi mereka juga!" Bara menekankan kata-katanya.


Marsha mengangguk mengiyakan.


...----------------...


Selesai sarapan, Marsha dan suaminya berkunjung ke rumah orang tuanya.


Bara kemarin malam memberikan salep penghilang rasa sakit dan memar di wajah dan tangan istrinya. Ia sengaja melakukan itu agar kedua mertuanya tidak curiga. Tepat pukul 11 siang, Bara tiba di rumah mertuanya.


Mereka berempat berkumpul di ruang tamu sembari berbincang.


Mira memandangi Marsha begitu seksama. Ia lantas menyentuh wajah putrinya, "Ini kenapa?"


Marsha memegang wajahnya. "Oh, ini tidak apa-apa, Ma."


"Tidak apa-apa, bagaimana?" tanya Mira lagi.


"Aku kurang hati-hati, jadinya terpeleset di tangga," jawabnya.


"Oh, begitu." Mira tersenyum lega.


"Bagaimana kabar Mama dan Papa?" tanyanya.


"Baik, Nak. Kata suamimu, ponselmu rusak?" Mira kembali bertanya.


"Oh, iya Ma."


"Bara, terima kasih ya. Kiriman pakaian yang kamu berikan pada kami," ujar Candra.


"Ya, Pa, Ma, sama-sama," Bara tersenyum melirik istrinya.


"Pakaiannya bagus dan cantik, Mama suka," puji Mira.


"Maksudnya apa dia mengirimkan hadiah kepada Mama dan Papa? Ingin menutupi keburukannya?" batin Marsha.


"Nanti Bara kirim lagi, kalau Mama dan Papa suka," ujarnya tersenyum.


"Tidak perlu repot, Nak. Kemarin buah-buahan yang kamu antar sampai kami bagikan kepada tetangga karena kebanyakan," jelas Mira. "Mubazir kalau dibuang," lanjutnya.


"Tidak apa-apa, Ma. Lebih baik begitu," Bara kembali menunjukkan senyumnya.

__ADS_1


Marsha tersenyum tipis melirik suaminya.


Candra melihat jam dinding, "Waktunya kita makan siang!" ia berdiri dari kursi.


"Mama sudah masak makanan kesukaan kamu, Marsha. Tapi, Mama tidak tahu makanan kesukaan suamimu , semoga dia suka," ujar Mira.


"Apa yang di masak Mama, aku akan memakannya," sahut Bara.


Mereka berempat kini berada di meja makan. Tersaji aneka lauk pauk dan sayuran seperti balado telur, sop sayur, mie goreng instan dan ayam semur.


Bara menikmati masakan mertuanya begitu lahap, ia juga makan mie goreng instan.


Sembari menyuapkan nasi di mulutnya, Marsha memperhatikan suaminya. "Katanya dia tak suka mie goreng tapi kenapa malah memakannya," batinnya.


Pukul 3 sore, Bara dan Marsha pamit pulang. Di perjalanan menuju rumah tak ada pembicaraan keduanya saling diam.


Begitu sampai, Marsha mengerjakan pekerjaan rumah yang belum sempat dikerjakan. Ia tak peduli dengan suaminya yang duduk di meja makan sambil memainkan ponsel. Ia juga sudah menyediakan minuman dan cemilan di hadapan Bara.


Marsha terus mengelap keringat yang mulai menetes. Sejenak ia berhenti untuk sekedar menghela nafas.


Tepat pukul 6 sore, ia selesai mengerjakan tugas rumah termasuk makan malam.


Menjelang pukul 7 malam, Bara turun dari langit atas menghampiri istrinya. "Aku akan pergi makan malam dengan Miranda," pamitnya.


"Pergi saja, tak perlu permisi," ucap Marsha ketus.


"Kau cemburu?"


Marsha tersenyum sinis, "Aku tidak pernah peduli apapun yang terjadi denganmu, apalagi cemburu."


Bara mencengkeram lengan Marsha dengan kuat lalu melepaskannya, kemudian ia berlalu.


Marsha memegang lengannya, ia lalu menatap meja makan. Ia menikmati masakannya seorang diri. Selesai makan dan mencuci piring, ia menonton televisi.


-


Bara dipapah seorang pria yang diketahui adalah anak buahnya dengan keadaan mabuk.


"Kau siapa?" Bara menunjuk ke arah istrinya.


"Bantu saya bawa dia ke kamar," pinta Marsha.


"Baik, Nona." Pria itu pun membantu Bara ke kamarnya kemudian ia merebahkannya.


"Terima kasih," ucap Marsha.


"Sama-sama, Nona. Saya permisi pulang," pamitnya.


"Ya."


-


Setelah menutup pintu utama, Marsha kembali ke kamar suaminya. Ia membuka sepatu dan melepaskan dasi dari leher. Kemudian ia mengambil handuk dan air dingin dengan telaten, ia mengelap wajah dan tangan suaminya.


Marsha menggelar ambal karpet di samping ranjang suaminya, ia tidur di tepat di bawahnya.


......................


Jendela sudah di buka Marsha, matahari menyinari kamar suaminya yang masih tertidur. Marsha mengerjakan rutinitasnya setiap pagi.


Bara tersentak bangun dan mengedarkan pandangannya sekelilingnya. Lalu melihat pakaiannya, ia pun bergegas turun dan membersihkan diri bersiap ke kantor.


Bara berjalan ke dapur lalu duduk di meja makan, istrinya telah menyiapkan teh hangat, roti isi selai srikaya dan potongan buah apel merah.


"Siapa yang mengantarkan aku pulang?"

__ADS_1


"Key," jawab Marsha.


"Oh," ucapnya singkat.


Marsha melanjutkan pekerjaannya dan tetap memilih diam.


"Hari ini aku mengirimkan televisi dan lemari es baru untuk orang tuamu," ucap Bara membuat Marsha menghentikan aktivitasnya.


"Mas, tidak perlu repot mengirimkan hadiah kepada kedua orang tuaku."


"Aku tidak repot dan malah senang."


Marsha kini berdiri di depan suaminya. "Kirim hadiah tapi menyiksaku. Mau menutupi kesalahan yang Mas Bara buat?"


Bara terdiam.


Marsha pergi ke kamarnya lalu membanting pintu dengan kuat kemudian menguncinya. Dia menangis sesenggukan.


Tak mau menghampiri istrinya, Bara memilih pergi ke kantor.


Sesampainya di kantor, Bara terlihat lebih diam dan melamun. Handoko menghampiri ruang kerja putranya.


"Papa!" sapa Bara memperbaiki sikap duduknya.


"Apa semalam kamu mabuk?"


"Dari mana Papa tahu?"


"Bara, kamu lupa kalau pengawal yang ada di sampingmu itu adalah anak buah Papa juga."


"Ya, Pa. Aku hanya sedikit saja meminumnya," ujar Bara santai.


"Sedikit? Kamu saja sampai tidak mengenal istrimu!" sentak Handoko.


"Aku tidak akan mengulanginya, Pa."


"Beruntung Key tahu, kalau tidak wanita itu sudah membawamu lalu kalian tidur bersama setelah itu ia menuntut pertanggungjawaban darimu!"


"Maaf, Pa!'


"Kejadian semalam terakhir, Papa tidak ingin hal ini terjadi lagi," Handoko pun berlalu meninggalkan ruangan putranya.


Bara mengacak rambutnya, ia teringat kejadian semalam karena bertengkar dengan Miranda. Wanita itu mengaku memiliki kekasih gelap.


"Kau sekarang tidak pernah ada waktu lagi untukku!"


"Miranda, kau harus mengerti. Aku sudah menikah, lagian juga ku tidak mencintainya."


"Awalnya tidak cinta lama-lama kau menyukainya, apalagi kau pernah mengatakan jika istrimu itu cinta pertamamu!"


"Tapi itu hanya masa lalu. Aku sudah memenuhi semua keinginanmu," ujar Bara.


"Aku mau kau, Bara!" Miranda berbicara keras di tengah dentuman suara musik.


"Miranda, kau bersabarlah. Aku akan berusaha untuk memperjuangkan hubungan kita," jelasnya.


"Berjuang tapi menikah dengan wanita lain," Miranda tersenyum sinis.


"Kau mau apa sekarang?" tanya Bara lembut.


"Aku mau menemui kekasihku yang lainnya," jawabnya.


"Kau berselingkuh, hah!" tanya Bara lantang.


"Iya, dia selalu ada waktu untukku!" Miranda pun pergi.

__ADS_1


Bara yang marah dan kecewa, menenggak minuman yang ada di meja.


__ADS_2