Marsha, Milik Bara

Marsha, Milik Bara
Marsha Di Jemput Orang Tuanya


__ADS_3

Orang tua Marsha pagi ini mendatangi rumah menantunya. Mereka menjemput paksa putrinya dari Bara.


"Bara, kami akan menjemput Marsha!" ucap Candra.


"Saya tidak mengizinkan Marsha meninggalkan rumah ini, Pa."


"Kamu sudah mengkhianati perasaan putri kami, Bara!" ucap Mira.


"Maafkan saya, Ma, Pa. Tapi percayalah, kami tidak pernah melakukannya," jelas Bara.


"Tidak pernah melakukannya, tapi kamu mengkhianati pernikahan yang kalian bangun. Kamu sudah menduakan putri kami," ujar Candra.


"Saya mengaku salah, tapi tolong jangan bawa Marsha dari rumah ini," Bara bersimpuh di kaki mertua laki-lakinya.


"Kami harus membawa dia dari sini, Bara!" Mira berkata dengan tegas.


Marsha hanya diam, ia akan mengikuti yang akan menjadi keputusan kedua orang tuanya.


"Marsha tidak boleh pergi dari rumah ini!" Bara memohon dengan mata berkaca-kaca.


Selama mereka menikah, Marsha baru hari ini melihat suaminya begitu sangat menyedihkan.


"Marsha, Mama tanya padamu. Apa kamu tetap di sini atau ikut kami?" Mira bertanya pada putrinya.


"Marsha harus pulang ke rumah orang tuanya!" sahut Handoko yang tiba-tiba datang bersama istrinya.


"Papa!" Bara berdiri.


"Marsha berhak bahagia walau bukan bersamamu," ujar Handoko.


"Tidak, Pa. Bara tidak akan membiarkan Marsha pergi dari rumahnya ini," katanya tegas.


"Sudah mengkhianati Marsha, tapi ingin bersamanya. Kamu sangat egois, Bara!" sahut Laras.

__ADS_1


"Ma, tolong aku!" pinta Bara.


"Mama tidak bisa menolongmu, sebelum kamu membuktikannya," ujar Laras.


"Ayo, Nak. Kita pulang!" Mira menarik tangan putrinya.


"Pulanglah ke rumah orang tuamu, Sha. Biar Bara bisa introspeksi diri," ucap Handoko.


Marsha berdiri, ia melihat wajah suaminya seakan memohon. Ia berpikir jika ini adalah kesempatan baik untuk dirinya lepas dari Bara yang kejam.


"Cepat kemasin pakaianmu!" titah Mira.


Marsha berjalan ke kamarnya, Laras dan Handoko melihat menantunya berjalan ke kamar pelayan. Keduanya menyusulnya dan terkejut.


"Kamu tidur di sini, Sha?" tanya Handoko membuat menantunya membalikkan badannya.


"Papa, Mama!"


Marsha diam, dia bingung mau menjawab.


"Marsha, jawab pertanyaan kami!" Handoko memaksa menantunya berkata jujur.


Marsha mengangguk.


Handoko dan Laras menghela nafas.


"Anak itu sungguh keterlaluan!" geram Handoko.


Marsha membereskan pakaiannya, sementara kedua mertuanya kembali ke ruang tamu.


Beberapa menit kemudian, Marsha muncul menggeret koper. Bara mendekati istrinya, ia memegang tangan wanita itu. "Tolong, jangan pergi!" mohonnya.


"Maaf, Mas. Aku harus pergi!" Marsha tidak menatap suaminya.

__ADS_1


"Ayo, Nak!" Candra membantu membawakan koper putrinya.


"Tuan Handoko, Nyonya Laras, kami pamit pulang," ujar Mira.


"Iya, Nyonya Mira. Maafkan putra kami!" ujar Handoko.


Candra dan Mira mengangguk lalu keduanya keluar dari rumah. Marsha melepaskan genggaman suaminya, kemudian ia berjalan menyusul orang tuanya.


Begitu Marsha dan kedua orang tuanya pergi. Handoko melayangkan tamparan di pipinya.


Bara memegang pipinya menatap papanya.


"Kamu sangat kejam, Bara!" sentak Handoko.


"Kenapa kamu meletakkan istrimu di kamar pelayan?" tanya Laras.


"Eh, itu...Ma." Tergagap.


"Katakan, Bara!" bentak Handoko.


"Aku sengaja melakukan itu, Pa!" jawab Bara terbata.


"Kenapa, Bara?" desak Laras.


"Aku menikahinya karena dendam, Ma. Aku sangat membencinya," jawabnya.


"Kalau begitu kamu harus menceraikannya!" perintah Laras.


"Aku tidak mau, Ma!" Bara menolak permintaan Laras.


"Bukankah kamu sangat membencinya? Dia sudah mendapatkan balasannya maka lepaskan dia!" titah Laras lagi.


"Aku tidak mau, Ma. Sekarang ku mencintainya," Bara tertunduk.

__ADS_1


__ADS_2