Marsha, Milik Bara

Marsha, Milik Bara
Nia Pelampiasan Dendam Robin


__ADS_3

Sore hari tepat sehari acara pernikahan Robin membawa Nia ke apartemen miliknya karena rumah mewahnya telah terjual akibat ulah Bara yang menghancurkan perusahaannya.


Robin mendorong Nia hingga wanita terjatuh di tas yang ia bawa.


"Kenapa Kakak melakukan ini padaku?"


Robin mencengkeram dagu Nia, "Jangan memanggil ku dengan sebutan kakak!"


"Aku sadar ternyata kau memang jahat!" Nia mendesis.


Robin tertawa, "Kenapa kau baru tahu gadis kecil?" ia melepaskan cengkeramannya.


Nia berdiri lalu mendorong tubuh Robin sekuat dirinya mampu. "Lepaskan aku!"


Robin semakin tersenyum, ia meraih rambut Nia dan menariknya secara paksa. Ia membawa istrinya itu ke dalam kamar. "Aku tidak akan melepaskanmu!" Robin keluar dan mengunci Nia dari luar.


"Bukakan pintunya!" teriaknya.


Robin tak menghiraukannya dan memilih pergi.


-


Diskotik adalah tujuan Robin, ia duduk memesan minuman. Tiga gelas sudah ia tenggak. Menggoyangkan gelas tersebut sambil mengoceh, "Aku sudah membalasnya dengan menikahi adiknya. Kau sungguh jahat, Silvia."


"Apa anda mau tambah lagi?" tanya seorang bartender.


"Ya, beri aku segelas lagi," jawabnya tanpa sadar.


Robin menenggaknya lagi, ia teringat kejadian beberapa bulan yang lalu. Kekasihnya memutuskan hubungan karena perusahaannya hancur, ia lalu mendatangi apartemen wanita itu. Robin tahu kode pintu, perlahan ia membukanya dan melihat secara langsung Silvia bercumbu dengan pria lain. Robin tidak melabraknya dan memilih meninggalkan apartemen kekasihnya itu.


Robin meletakkan gelas itu, ia lalu berjalan meninggalkan tempat hiburan menuju apartemennya.

__ADS_1


Sementara itu, Nia menghapus air matanya ia mengedarkan pandangannya ke arah nakas. Ada sepiring buah apel dan jeruk dengan lahap ia memakannya.


Lalu ia membongkar isi lemari untuk mencari pakaian yang bisa digunakan. Setelah mendapatkan Nia pergi membersihkan diri.


-


Suara deritan pintu membuat Nia menolehnya. Ia bergegas berdiri dari ranjang menghampiri suaminya yang mabuk.


Robin mendorong tubuh Nia, "Ini semua karena kakakmu!" teriaknya.


Nia hanya diam dan mencoba bangkit.


Robin mendekati istrinya dan mendekapnya lalu memejamkan matanya.


Nia menepuk pelan punggung suaminya. "Hei, apa kau mendengar ku?"


Tak ada jawaban.


"Jangan pergi!" masih dengan mata terpejam.


Nia dengan hati-hati berusaha melepaskan genggaman suaminya.


Namun, dengan cepat Robin menarik tangan Nia hingga tubuhnya terjatuh di atas tubuh suaminya.


Robin mengganti posisinya yang kini di atas, tanpa aba-aba. Ia melahap seluruh tubuh Nia dengan beringas. Wanita itu berusaha mendorongnya, tapi usahanya sia-sia.


Hampir sejam pergulatan terjadi dan akhirnya Nia tertidur di samping suaminya.


-


Jarum jam menunjukkan pukul 4 dini hari, Robin terbangun ia mengucek matanya dan melihat ke sampingnya. "Tidak!" menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


Robin bergegas turun dari ranjang dan pindah ke kamar yang lain. Ia mondar-mandir memikirkan bagaimana jika Nia hamil, "Aku tidak mau punya anak dari wanita itu!" gumamnya.


Robin di sisi ranjang, ia menjambak rambutnya dan meremas wajahnya. "Semoga saja dia tidak hamil, biar mudah meninggalkannya!" batinnya.


......................


Sebulan kemudian...


Seperti biasanya, Nia tidak diperbolehkan bertemu atau menghubungi keluarganya. Pekerjaannya adalah menyediakan makanan buat suaminya dan membersihkan apartemen. Beruntung ruangan tersebut tidak terlalu besar hingga ia tidak terlalu lelah.


Pagi ini Nia membuat sarapan nasi goreng dengan telur dan sosis, ia menghidangkan meja makan dengan segelas jus jeruk.


Seluruh bahan masakan ia beli di supermarket bersama suaminya dengan perjanjian dirinya tak melarikan diri.


Tanpa senyuman Nia menyajikannya dan ia duduk dihadapan suaminya yang terus memandangnya. Ia menikmati sarapan pagi bersama.


"Apa bulan kau ini sudah datang bulan?"


Nia mengernyitkan keningnya mendengar pertanyaan suaminya.


"Aku sedang bertanya, apa kau bisa menjawabnya?"


"Untuk apa menanyakan hal itu?"


"Kau tinggal jawab saja, jangan bertanya lagi!" hardiknya.


Nia tampak gemetaran mendengar suaminya menghardiknya.


"Apa kau tidak bisa jawab, hah?" tanya Robin lantang.


"Bulan ini aku belum haid."

__ADS_1


Robin seketika terdiam, ia kemudian memundurkan kursinya meninggalkan meja makan.


__ADS_2