
Marsha mengelilingi kediaman mertuanya bersama putri kecilnya, Malia. Matanya tertuju pada sebuah gudang yang berada di belakang rumah Handoko Kartajaya.
Ia pun mendekati gudang tersebut, ia terkejut saat seorang pria keluar dari tempat itu menggunakan motor berwarna persis seperti milik papanya yang hilang beberapa tahun lalu.
Marsha melihat plat dari motor tersebut dan jelas sama, seketika rahangnya mengeras. Ia pun menggendong putrinya menitipkannya pada pengasuhnya lalu kemudian berjalan cepat menghampiri suaminya.
Bara yang sedang berada di kamar pribadinya mendadak terkejut karena istrinya datang dengan membuka pintu secara kasar dan wajah marah. "Ada apa? Di mana Malia?"
"Apa Mas terlibat pencurian motor Papa beberapa tahun yang lalu?"
Bara sejenak mengingat kejadian sebelum ia menikahi istrinya.
"Mas!" sentaknya karena suaminya tak menjawab pertanyaannya.
Bara tersenyum nyengir, "Iya, sayang!"
Marsha terduduk di sisi ranjang lalu menangis.
Bara tampak kebingungan, "Sayang, aku minta maaf!"
"Apa kamu tahu? Aku harus menghabiskan tabungan untuk membeli motor bekas lagi untuk dijual kembali, kamu jahat sekali," Marsha malah mengencangkan tangisannya.
"Eh, bagaimana kalau aku mengganti uang tabunganmu sekarang?" Bara memberikan tawaran.
"Sudah cepat kirim!" perintahnya lantang.
"Iya, sayang. Ini mau aku kirim," Bara terbata karena melihat istrinya marah-marah sudah membuat nyalinya menciut. Ia lalu mengambil ponselnya dan mengirimkan sejumlah uang kepada Marsha sesuai harga motor yang sempat dicurinya.
Marsha membuka ponselnya lalu tersenyum.
Bara akhirnya bisa bernafas lega.
"Kalau begitu, aku dan Malia mau pergi belanja," Marsha bangkit dari duduknya.
"Aku tidak diajak?"
"Mas, di rumah saja. Kami mau senang-senang," jawab Marsha ketus.
"Aku tetap ikut, apalagi kita sudah lama tak jalan-jalan berdua," ujar Bara.
"Sekarang bertiga, Mas!"
"Ya, kita tiga."
"Kalau begitu, cepat ganti baju. Aku mau mengganti pakaian Malia," ujar Marsha. Ia lalu pergi menghampiri putri kecilnya.
-
-
Nia masih tergolek lemas di ranjang, Laras sampai datang setiap hari ke rumah menantunya karena mertuanya sudah pergi ke luar negeri.
"Kamu tidak ingin makan sesuatu?" tanya Robin sebelum ia kembali ke kantor lagi.
"Aku ingin makan mangga muda, Mas."
"Di mana aku mencarinya?" tanya Robin.
Laras yang mendengar percakapan anak dan menantunya itu menyahutinya, "Sepertinya Arum pernah datang bawa mangga ke rumah Mama."
"Dari mana dia dapat buah mangga itu, Ma?" tanya Robin.
"Dari rumah Silvia," jawab Laras.
Robin dan Nia saling menatap.
"Kalian tidak mau kalau dari buah mangga itu dari rumah Silvia?" tanya Laras.
__ADS_1
"Mas Robin tak mau berjumpa dengan mantan kekasihnya itu, Ma."
"Silvia dan anaknya tidak di sini, mereka lagi di rumah Galvin," ujar Laras.
"Kalau begitu, Mas Robin sekarang bisa mengambilnya!" serunya.
"Sudah sana, ambil!" perintah Mama Laras.
"Iya, aku akan mengambilnya," Robin pun berlalu.
-
Mengendarai mobilnya, Robin pergi ke rumah Silvia. Begitu sampai Leo menghampirinya.
"Aku ingin minta buah mangga muda, bisakah kau mengambilkannya untukku?" pinta Robin pada pengawal Silvia itu.
"Setahu saya, Tuan. Jika istri sedang mengidam, suaminya yang harus mengambilnya," jawab Leo.
"Benarkah begitu?"
"Ya, katanya sih. Lagian Nona Nia sedang mengandung anak Tuan Robin tak mungkin pria lain yang mengambilnya," Leo memberikan alasan padahal ia malas untuk memanjat pohon. Dia pernah jatuh karena mengambilkan buah mangga untuk Silvia.
"Baiklah, aku akan mengambilnya," Robin memanjat pohon yang tidak terlalu tinggi.
"Tuan, hati-hati!" teriak Leo dari bawah.
Robin sudah berada di atas pohon ia mengambil beberapa buah lalu kemudian turun.
"Cuma ini saja, Tuan?" tanya Leo melihat Robin memegang 3 buah mangga.
"Ini sudah cukup, rasanya sangat asam sekali. Ku tak mau Nia memakannya terlalu banyak kasihan bayi kami," jawabnya.
"Benar juga, Tuan."
"Kalau begitu aku pamit pulang, terima kasih buahnya. Katakan pada pemiliknya," ujar Robin.
Robin pun pulang dengan membawa buah yang diminta istrinya. Sesampainya di serahkanlah kepada pelayan rumah untuk dibuatkan rujak sesuai keinginan Nia.
"Jangan buat terlalu pedas!" titah Robin.
"Tapi, Nona minta buat yang sangat pedas, Tuan."
"Istriku menolak makan nasi tapi mau makan pedas, jangan buatkan!" Robin berkata tegas.
"Baiklah, Tuan."
Tak cukup lama rujak pesanan Nia siap dihidangkan, wanita itu duduk di meja makan bersama suami dan Mama Laras. Ia pun mulai mencicipi rujak, "Kenapa tidak pedas?" protesnya.
"Aku yang menyuruh pelayan untuk tidak membuatnya pedas," jelas Robin.
"Mas, ini tidak enak kalau tak pedas," keluhnya.
"Nia, jangan banyak makan terlalu pedas. Ingat calon bayi kamu," Mama Laras berkata lembut.
"Ma, tapi aku ingin makan yang sangat pedas," rengek Nia.
"Nanti saja setelah bayi kamu berusia dua tahun, selepas ASI baru boleh makan yang serba pedas," nasehat Laras.
"Itu sangat lama, Ma!"
"Nia, kamu sayang dengan anak kita?" tanya Robin dengan lembut.
Wanita itu menjawab dengan anggukan.
"Kamu harus dengarkan yang dikatakan oleh Mama Laras," ujar Robin tersenyum.
"Ya, baiklah. Aku akan menahan diri untuk tidak makan yang pedas," janji Nia.
__ADS_1
"Begitu dong, sayang!" Robin tersenyum senang.
...----------------...
Bara, istrinya dan kedua orang tuanya kini berada di bandara menjemput Tia yang baru tiba. Laras memeluk putri bungsunya sangat erat.
"Kenapa kalian selalu mengirim dia menjemputku?" protesnya.
"Karena di antara kami, cuma dia yang tidak sibuk," jawab Laras.
"Setelah ini, kamu tidak akan diantar dan dijemput Key lagi," ujar Handoko.
"Lho, memangnya Key mau ke mana?" tanya Laras.
"Key akan ditugaskan di kota lain di luar pulau ini, Ma." Bara menjawab pertanyaan mamanya.
Tia lantas menoleh dan melihat pengawal papanya itu. Entah kenapa hatinya jadi tak rela bila pria itu pergi.
"Ayo sekarang kita pulang, Nak!" ajak Laras.
Sepanjang perjalanan menuju ke rumah Nia cenderung lebih banyak diam, sesekali ia tersenyum kepada Malia.
Ia teringat perkataan papanya dan Kak Bara tentang Key, kalau pria yang sudah mengabdikan hidupnya selama 7 tahun itu di keluarga besarnya adalah pekerja keras dan pantang menyerah. Dedikasi sangat tinggi terhadap perusahaan Karta Grup.
"Kita singgah sarapan, ya!" ajak Handoko.
Mobil memasuki restoran tak jauh dari bandara, mereka pun turun tampak juga Key dan 2 orang sopir.
Mereka semua duduk di meja makan yang sama. Tia melirik pria yang duduk di sebelah papanya. Menikmati sarapan sembari bercanda, Key juga sesekali menampilkan senyum tipis. Tia berusaha tetap santai dan berperilaku seperti biasanya padahal pikirannya tertuju pada pria dingin itu.
Setelah hampir 2 jam berada di restoran akhirnya mereka pun pulang ke rumah.
Begitu sampai semua masuk ke dalam rumah, namun tidak dengan Tia, ia menghampiri Key yang sedang berpindah mobil.
"Kak Key!" Tia memanggil dengan suara pelan.
Key yang hendak membuka pintu pengemudi menoleh dan menatap heran gadis yang memanggil namanya dengan sebutan kakak. Lalu ia berdiri tegak bersikap sempurna menghadap Tia. "Ya, Nona!"
"Apa benar yang dikatakan Kak Bara dan Papa?" tanya Tia.
"Ya, Nona."
"Kenapa harus pindah?"
"Kantor cabang dekat dengan kota kelahiran ibu saya, keluarga besar banyak di sana," jelas Key.
"Jadi, Kak Key tidak akan kembali lagi ke sini?"
"Maaf, Nona. Jangan panggil saya kakak," Key sedikit menunduk kepalanya.
"Aku ingin saja memanggilmu dengan sebutan kakak, apa tidak boleh?"
"Saya tak pantas, Nona. Saya bawahan anda," jawab Key.
"Aku tetap ingin memanggilmu dengan sebutan kakak!"
"Terserah Nona saja," Key tersenyum. "Kalau begitu saya pamit," Key pun bergegas masuk ke mobil dan berlalu.
Tia menatap mobil itu meninggalkan kediaman orang tuanya.
"Tia!"
Gadis itu pun menoleh.
"Kenapa di situ saja? Ayo masuk!" teriak Marsha dari kejauhan.
"Eh, iya Kak!" Tia pun berlari kecil memasuki rumahnya.
__ADS_1