Marsha, Milik Bara

Marsha, Milik Bara
Kegundahan Hati Marsha


__ADS_3

Marsha tiba di rumah pukul 8 malam, jadwal kerjanya tidak menentu. Kedua orang tuanya sudah menunggunya di ruang tamu.


"Selesai makan temui kami!" ucap Mira.


"Baik, Ma!" Marsha membersihkan dirinya setelah itu ia pergi makan.


Setelah menyelesaikan aktivitasnya ia menemui kedua orang tuanya di ruang tamu.


"Orang tua Bara akan datang minggu depan untuk melamarmu," jelas Candra.


"Mama dan Papa tidak bercanda, kan?" Marsha menatap kedua mata orang tuanya.


"Tidaklah, sayang!" Mira menatap putrinya dengan tersenyum


"Kamu mau menerima lamaran mereka, kan?" tanya Candra.


"Apa Mama dan Papa bahagia jika aku menikah dengannya?" Marsha bertanya tegas.


"Kenapa bertanya itu pada kami, Nak?" tanya Mira.


"Jika dengan menikah membuat kalian bahagia, aku akan menerima lamaran Tuan Bara," jawab Marsha.


Candra dan istrinya saling pandang, keduanya tersenyum lega.


...----------------...


Seperti biasa, Marsha pergi ke toko. Wajahnya tampak murung, Weni mendekatinya.


"Apa lagi ada masalah?"


Marsha melihat ke arah sahabatnya itu kemudian tersenyum, "Sedikit."

__ADS_1


"Masalah apa?"


"Hari Sabtu nanti ada seorang pria yang datang melamarku," jawab Marsha lirih.


"Wah, selamat. Kenapa kau tidak pernah cerita kalau punya kekasih?"


"Aku baru saja bertemu dengannya, kau juga kenal dengan pria itu."


"Memangnya siapa?"


"Kau tahu pria yang beberapa hari lalu membeli lima ponsel," jawabnya.


"Apa!" Weni bersuara keras membuat teman yang lain memperhatikan mereka.


"Bisakah suaramu dikecilkan?" pintanya dengan nada lirih.


Weni tersenyum nyengir, "Aku cuma terkejut saja!"


"Tuan itu sangat tampan, kau beruntung dia mempersunting dirimu," ujar Weni.


"Tapi, aku terlalu mengenalnya. Bagaimana jika tidak sesuai yang ku inginkan?"


"Semoga saja dia pria baik-baik," doa Weni.


"Semoga saja," harapnya.


-


-


Sepulang kerja dari toko, Marsha mengajak kedua sahabatnya semasa sekolah Rere dan Ika bertemu di warung bakso langganan mereka.

__ADS_1


Kedua temannya terkejut, jika dirinya akan menikah dengan Bara Hermawan Kartajaya. Pengusaha muda yang pernah menjadi donatur acara reunian di sekolah.


"Memangnya kapan kalian menikah?" tanya Rere.


"Belum tahu, tapi Sabtu nanti dia dan orang tuanya akan datang ke rumah," jawab Marsha. "Aku benar-benar bingung," ucapnya.


"Kami berdua hanya bisa berharap kau bisa bahagia dengannya," ujar Ika.


"Astaga, kalian bukannya memberikan masukan atau saran dan kedua orang tuaku malah senang dengannya," tutur Marsha.


"Kami hanya bisa mendoakan yang terbaik untukmu, Sha," ujar Rere.


"Sudah terima saja. Tuan Bara pria kaya, tampan, semua wanita pasti bahagia dilamarnya," Ika menunjukkan wajah seakan dia yang merasakan kebahagiaan itu.


"Aku akan coba menjalani ini, semoga saja dia sesuai yang kalian harapkan," Marsha mencoba tersenyum.


......................


Hari lamaran pun tiba, tidak banyak keluarga yang diundang. Dari pihak Bara hanya dirinya dan kedua orang tuanya datang untuk melamar.


Acara dimulai pukul 10 pagi, setelah pembicaraan diantara kedua pihak. Hari dan tanggal pernikahan pun ditentukan. Jika ikrar janji suci akan dilaksanakan dalam waktu seminggu saja.


Awalnya keluarga Marsha menolak karena sangat terburu-buru untuk menyediakan semua persiapan. Namun, Bara berjanji akan mempersiapkan semuanya.


Candra bisa bernafas lega, karena semua urusan pernikahan diambil alih oleh calon menantunya.


Sementara itu, Marsha hanya mampu tersenyum tipis dan pasrah.


"Kenapa waktunya hanya seminggu saja? Apa itu bisa menyelesaikan semuanya?" Tante Widya adik dari Mira bertanya setelah keluarga Bara pulang.


"Semoga saja, acara nanti lancar!" doa Mira.

__ADS_1


"Semoga saja, Kak."


__ADS_2