
Beberapa hari kemudian....
Robin terus memperhatikan perubahan tubuh istrinya. Ia berharap Nia tak hamil. Jika orang tuanya tahu menantunya hamil pastinya wanita itu akan semakin disayang.
Nia hendak menyuapkan sarapan ke mulutnya namun tiba-tiba ia bangkit dan berlari ke arah wastafel.
Robin bergegas mendekatinya. "Apa kau hamil?"
Nia menggelengkan kepalanya.
"Jika hamil, kau harus menggugurkannya!" perintahnya.
"Aku tak akan membuangnya meski kau tidak menginginkannya!" Nia berkata tegas.
Robin mencengkeram lengan istrinya. "Aku tidak mau mengakuinya dan membiayai kehidupannya!"
Nia mendorong tubuh suaminya, "Aku mampu membiayainya. Kau tak perlu takut!" ia pun berlalu.
-
-
Seharian ini, Robin berada di apartemen sementara Nia masih betah di kamarnya.
Jarum jam menunjukkan pukul 5 sore. Namun, tak ada tanda-tanda istrinya itu keluar dari kamar. Robin mengetuk pintu berulang kali dan akhirnya Nia membukanya. "Ngapain saja di kamar?"
"Bukan urusanmu!" jawab Nia ketus.
"Kau melewati makan siang," ujar Robin.
"Iya, aku tahu dan belum lapar. Kalau memang ingin makan ku akan pergi ke dapur tanpa harus membuat laporan kepadamu!"
"Ya, baguslah kalau begitu. Sekarang buatkan makanan untukku!" titahnya.
Nia pun pergi ke dapur, ia mulai mengiris bawang dan cabai. Ketika bumbu dapur ia masukkan ke dalam wadah penggorengan seketika perutnya kembali memberontak. Lantas, ia mematikan kompor dan berlari ke wastafel dan membuang isinya, wajahnya tampak pucat serta berkeringat.
Robin hanya memandangi saja tanpa mendekati atau bertanya.
Nia tidak melanjutkan memasaknya dan memilih ke kamarnya.
"Kau mau ke mana? Bagaimana dengan masakannya?" Robin bertanya dengan suara keras.
__ADS_1
Nia tidak menjawabnya, ia malah merebahkan tubuhnya di ranjang.
Robin pergi ke kamar istrinya, "Kenapa malah tidur? Pergi lanjutkan memasaknya!"
Nia tak menghiraukan perkataan suaminya, ia tetap memejamkan matanya sampai sebuah tangan menariknya paksa dari ranjang.
"Kau sudah berani melawan, ya!" bentak Robin.
"Sakit!" Nia pun membalas membentaknya.
Robin melayangkan tamparan keras ke wajah istrinya, sampai wanita itu terjatuh dengan bibir berdarah. Ada rasa penyesalan di dalam hatinya telah berbuat kasar seperti itu.
Nia memegang bibirnya yang berdarah, "Aku benci kau!" menekankan kata-katanya dan menyipitkan matanya.
Robin setengah berjongkok, "Jika kau tak ingin aku berbuat kasar, menurutlah!"
Nia mendorong tubuh suaminya, "Apa kau menginginkan kematian agar dendammu pada Kak Bara terbalas?"
"Tidak! Aku hanya ingin melihatnya menderita," jawab Robin.
"Apa dengan diriku menderita, mampu membuatmu senang?"
"Aku akan menuruti keingininanmu itu!" Nia berdiri ia lalu berlari ke arah dapur.
Robin mengejar langkah istrinya.
Nia meraih pisau lalu ia arahkan kepada suaminya.
"Jangan main-main dengan benda itu, Nia!"
"Kenapa?" Nia berkata lantang.
"Letakkan benda itu!" perintahnya.
"Kau ingin melihat Kak Bara menyesal seumur hidupku, kan?" tanyanya. "Aku akan mewujudkan impianmu itu!" teriaknya dengan menangis.
"Nia, jangan lakukan!" Robin berbicara lembut.
"Aku Nia Hermawan Kartajaya, jika sesuatu terjadi padaku. Ku mohon pada keluargaku tidak akan menuntut suamiku Robin Alonso!" ia berkata lantang karena di dalam ruangan itu tersedia kamera pengawas.
Robin dengan cepat menghentakkan pisau itu hingga terjatuh.
__ADS_1
Nia ingin meraih benda tersebut, Robin dengan sigap menarik tubuh istrinya dan mendekapnya.
"Aku tidak akan membiarkanmu mati sia-sia, Nia!" tegasnya.
Nia terus memberontak. "Lepaskan!"
"Aku tidak akan melepaskanmu sebelum kau berjanji!"
"Iya!"
Robin melepaskan dekapannya.
Seketika tubuh Nia ambruk dan pingsan.
"Nia!" Robin mengangkat tubuh istrinya ke ranjang dan menempelkan punggung tangan di kening istrinya. "Sepertinya dia demam!" gumamnya. Robin bergegas mengambil ponselnya menghubungi dokter pribadinya.
Sambil menunggu, Robin mengompres kening istrinya dengan air biasa. Ia tampak mondar-mandir di dalam kamar. Sampai suara bel berbunyi baru dirinya merasa lega.
Dengan cepat ia membuka pintu dan mempersilakan pria berusia 45 tahun itu masuk.
Dokter memeriksa Nia kemudian ia tersenyum. "Sepertinya dia hamil!"
Robin seketika terkejut mendengar ucapan pria itu. "Apa dia benar-benar hamil?"
"Lebih baik kalian periksa saja ke rumah sakit," jawabnya. "Tapi kenapa wajahnya penuh lebam?" tanyanya penasaran.
"Dia terjatuh," Robin memberi alasan.
"Demamnya sangat tinggi, jangan sampai hal ini terjadi lagi karena sangat berpengaruh pada janinnya. Selama kehamilan jangan terlalu lelah, usahakan untuk beristirahat dengan cukup," jelas Dokter.
"Ya, Dok."
"Ini saya berikan resep vitamin, jika dia sudah sadar jangan lupa meminumnya!"
"Baik, Dok!"
Dokter menyerahkan secarik kertas berisi resep, "Kalau begitu saya pamit. Selamat buat anda!" ia tersenyum.
"Terima kasih, Dok!"
Dokter pun berpamitan, Robin melihat istrinya masih tertidur. Ia pun bergegas mengambil dompet dan turun ke lantai bawah apartemen membeli obat, kebetulan ada apotik 24 jam.
__ADS_1